Pengaruh HP Picu Kasus Pencabulan Anak di Kota Tegal, Orang Tua Wajib Tahu Ini

Jumat, 18 September 2026 | 14.02
Illustrasi
Illustrasi (Dok. puskapik.com)

UPTD PPA Kota Tegal menyoroti penggunaan HP tanpa pengawasan sebagai salah satu faktor dalam kasus pencabulan anak dan mendorong kontrol digital orang tua.

TEGAL, puskapik.com - Perkembangan teknologi digital ikut memengaruhi meningkatnya kasus kekerasan seksual pada anak di Kota Tegal.

Salah satu faktor yang disorot adalah penggunaan ponsel tanpa pengawasan.

Kepala UPTD PPA Kota Tegal, Gina Marliana, menyebutkan, sejumlah kasus melibatkan anak sebagai pelaku, yang dipicu oleh konten yang mereka akses melalui gawai.

Baca Juga: Cerobong Crustine Masih Berdiri, Jejak Kejayaan Pabrik Tapioka Hogwan di Jatisawit Bumiayu

"Anak sekarang itu bisa mencabuli temannya, rata-rata karena lihat HP," ujar Gina, Jumat 18 September 2026.

Menurut Gina, kondisi ini berbeda dengan generasi sebelumnya yang tidak terpapar teknologi sejak usia dini.

Kini, akses terhadap berbagai konten, termasuk yang tidak layak, semakin mudah didapatkan.

Baca Juga: Empat Pelaku Kekerasan Seksual di Kota Tegal Kabur, Satu Masuk DPO

Tak hanya itu, penggunaan ponsel juga disebut berkontribusi terhadap meningkatnya kasus perkawinan anak.

Dalam beberapa kasus, orang tua tidak mengetahui aktivitas digital anaknya.

Gina menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi penggunaan perangkat digital anak, bukan untuk membatasi, melainkan memastikan keamanan dan perkembangan mereka.

Baca Juga: Darurat, 24 Kasus Kekerasan Seksual Anak Terungkap di Kota Tegal

Pandangan serupa disampaikan Head Store Jago Cellular Tegal, Orikson, yang menilai, penggunaan ponsel oleh anak harus disertai kontrol yang jelas dari orang tua.

"Komunikasi online dengan orang yang tidak dikenal perlu diwaspadai. Selain itu, anak juga harus dihindarkan dari kebiasaan mengirim foto atau video pribadi," ujar Orik.

Orik juga menekankan pentingnya pemanfaatan fitur pengaman pada perangkat.

Menurut Orik, orang tua dapat menggunakan filter konten serta kontrol orang tua untuk membatasi akses terhadap materi yang tidak sesuai usia.

"Batasi juga screen time anak, supaya penggunaan HP tetap terkontrol," kata Orik.

Orik menambahkan, pengawasan tidak selalu berarti membatasi secara berlebihan, melainkan memastikan anak menggunakan teknologi secara aman dan bijak.***