Cerobong Crustine Masih Berdiri, Jejak Kejayaan Pabrik Tapioka Hogwan di Jatisawit Bumiayu

Jumat, 18 September 2026 | 14.00
Bangunan cerobong asap atau  Crustine, jejak pabrik tapioka Hogwan masih berdiri di Desa Jatisawit, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes.
Bangunan cerobong asap atau Crustine, jejak pabrik tapioka Hogwan masih berdiri di Desa Jatisawit, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes.

Cerobong Crustine di Jatisawit, Bumiayu, masih berdiri sebagai jejak sejarah kejayaan pabrik tapioka NV Hogwan yang pernah berkembang di Brebes Selatan.

BREBES, puskapik.com – Ketika gedung tua pabrik tapioka Hogwan di Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, runtuh dan menyisakan puing, ada peninggalan lain dari pabrik tersebut yang masih berdiri hingga sekarang.

Peninggalan itu berada di Desa Jatisawit, masih di Kecamatan Bumiayu. Bentuknya sebuah cerobong asap tua yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama Crustine.

Cerobong tersebut menjadi bagian dari kisah kejayaan NV Hogwan, pabrik tapioka yang pernah berdiri di dua lokasi, yakni Desa Dukuhturi dan Desa Jatisawit.

Baca Juga: Empat Pelaku Kekerasan Seksual di Kota Tegal Kabur, Satu Masuk DPO

Kisah tentang NV Hogwan dan Crustine tercatat dalam buku Galuh Purba: Antologi Cerita Rakyat Brebes Selatan karya Novian Fitri Nurani.

Dalam buku tersebut disebutkan, Kecamatan Bumiayu pernah mengalami masa kejayaan yang berkaitan dengan keluarga keturunan Tionghoa yang mendirikan pabrik tapioka NV Hogwan.

Kejayaan pabrik itu bahkan tersohor hingga ke luar daerah. Banyak penduduk kemudian datang untuk mengadu nasib dengan bekerja di pabrik tersebut.

Salah satu lokasi pabrik berada di Desa Jatisawit. Kompleks pabrik disebut cukup luas dan tertata, dengan sebuah cerobong asap besar yang digunakan dalam proses pembakaran. Bagian atas cerobong dilengkapi penangkal petir.

Baca Juga: Darurat, 24 Kasus Kekerasan Seksual Anak Terungkap di Kota Tegal

Kini, bangunan utama pabrik tersebut sudah tidak ada. Lahannya telah berubah menjadi perkampungan yang semakin padat.

Di tengah perubahan kawasan itulah Crustine masih dapat ditemukan sebagai salah satu bukti fisik keberadaan pabrik tapioka Hogwan di Jatisawit.

Buku Galuh Purba juga mencatat sebuah peristiwa yang membuat keberadaan Crustine semakin lekat dalam ingatan warga.

Pada tahun 2000-an, ketika musim penghujan berlangsung panjang, petir menyambar bangunan tua tersebut hingga bagian atasnya retak. Meski demikian, cerobong itu tetap berdiri dan tidak menimbulkan korban.

Baca Juga: Bencana Jadi Momentum Menguatkan Persatuan, Ini Pesan Anggota MPR RI

Sejak peristiwa tersebut, masyarakat kemudian menyebut Crustine sebagai "tugu penyelamat".

Nama Crustine juga pernah digunakan sebagai nama klub sepak bola pemuda Jatisawit yang disebut berjaya pada zamannya.

Kini, Crustine tetap berdiri di antara permukiman dan lahan yang terus berubah. Bentuknya masih menyerupai cerobong asap pabrik, mengingatkan bahwa kawasan Jatisawit pernah menjadi bagian dari aktivitas industri tapioka NV Hogwan.

Keberadaan Crustine sekaligus memperlihatkan bahwa jejak Hogwan tidak hanya tersisa dalam cerita tentang bangunan pabrik di Dukuhturi. Di Jatisawit, salah satu bagian dari kompleks pabrik itu masih dapat dilihat hingga sekarang.***