Tradisi Takbir Keliling Patung Hiasi Malam Lebaran di Desa Harjasari Tegal

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05.32
Sebuah patung naga memeriahkan tradisi takbir keliling di Dukuh Banjaranyar, Desa Harjasari, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal, Jumat malam 20 Maret 2026.
Sebuah patung naga memeriahkan tradisi takbir keliling di Dukuh Banjaranyar, Desa Harjasari, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal, Jumat malam 20 Maret 2026.

Tradisi takbir keliling di Desa Harjasari Tegal meriah dengan arak-arakan patung kreatif, mempererat kebersamaan dan melestarikan budaya lokal.

TEGAL, puskapik.com - Masyarakat Dukuh Banjaranyar, Desa Harjasari, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal, masih menjaga tradisi turun-temurun dalam menyambut malam Idul Fitri.

Tradisi tersebut diwujudkan melalui takbir keliling kampung yang diramaikan dengan arak-arakan patung beragam bentuk, Jumat 20 Maret 2026.

Patung-patung yang ditampilkan memiliki dimensi bervariasi dan dibuat dari bahan sederhana yang mudah ditemukan, seperti bambu hingga kertas semen.

Baca Juga: Lebaran Kelabu di Pemalang, Ledakan Petasan hingga Pohon Tumbang Saat Salat Ied

Kreativitas warga terlihat dari ragam bentuk yang dihadirkan setiap tahunnya.

Salah satu tokoh pemuda Desa Harjasari, Edi Waluyo mengatakan, antusiasme peserta terus meningkat.

Bahkan, tidak hanya warga setempat, peserta dari sejumlah wilayah lain turut meramaikan kegiatan tersebut.

Baca Juga: Malam Takbiran di Jateng Kondusif, 55 Titik Aman Nyaris Tanpa Insiden

"Tahun 2026 ini sebagian besar membuat patung fauna, seperti angsa, lobster, kingkong, ikan, rusa dan buaya," ujar Edi kepada puskapik.com.

Selain fauna, warga juga menghadirkan patung bertema mitologi, seperti naga hingga pegasus, yang semakin menambah daya tarik arak-arakan.

Kemeriahan semakin terasa dengan iringan gema takbir yang dipadukan dengan musik tradisional hingga modern, termasuk musik horeg yang digemari masyarakat.

Sepanjang rute yang dilalui, warga tampak berjejer di pinggir jalan untuk menyaksikan arak-arakan.

Mereka menyambut rombongan dengan penuh antusias dan suka cita.

"Ini memang tradisi kampung kami sejak dulu. Alhamdulillah banyak pemuda yang nguri-uri budaya ini dan semakin kreatif," kata Edi.

Menurut Edi, tradisi itu tidak hanya menjadi sarana syiar dalam menyambut hari kemenangan, tetapi juga mempererat kebersamaan warga sekaligus melestarikan budaya lokal di tengah perkembangan zaman.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait