Begini Sejarah Sungai Ciranggarung, Tapal Batas Jawa Tengah dan Jawa Barat

Sungai Cisanggarung di Brebes-Cirebon, berhulu Waduk Darma, 62,5 km, jadi sumber air, irigasi, penghubung provinsi, dan terkait sejarah Islam.
BREBES, puskapik.com - Nama Sungai Cisanggarung sangat akrab di telinga masyarakat Brebes (Jawa Tengah) dan Cirebon (Jawa Barat). Sungai yang berhulu di Waduk Darma, Kuningan, Jawa Barat ini, memiliki panjang 62,50 kilometer.
Berdasarkan Babad Cirebon dan konteks sejarah regional, Sungai Cisanggarung merupakan batas alam penting yang memisahkan dua provinsi. Yakni, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sehingga, Sungai Cisanggarung sangat kental dengan masyarakat Brebes dan Cirebon.
Sungai ini bermuara di Laut Jawa, tepatnya di Desa Limbangan, Kecamata Losari, Brebes. Keberadaannya Sungai Cisanggarung ini, sering dikaitkan dengan pergerakan Islam di Brebes dan wilayah Cirebon timur. Lalu bagaimana sejarahnya?
Baca Juga: Dana Desa Hingga Kerusakan Infrastruktur Menjadi Curhatan Warga Saat Musrenbang Kecamatan Larangan
Dari berbagai sumber yang digali puskpik.com, awal keberadaan Sungai Cisanggarung ini, sudah ada sejak zama prasejarah. Sekitar abat ke-14, fungsi sungai ini semakin penting karena dijadikan sebagai sumber air utama bagi masyarakat Sunda.
Asal Nama Cisanggarung
Menurut catatan sejarah dalam Babad Cirebon, nama Sungai Cisanggarung berasal dari nama salah seorang Raja Losari. Yakni, Ki Ageng Sanggarung. Namun ada versi lain yang menyebut, nama Cisanggarung diberikan karena sungai ini dianggap sebagai tempat perlindungan bagi masyarakat sekitar.
Hal itu mungkin juga berkaitan dengan sosok Raja Losari, Ki Ageng Sanggarung, yang selama memimpin memberikab perlindungan bagi rakyatnya. Sungai besar ini juga menyimpan banyak legenda. Salah satunya legenda siluman buaya, karena sungai ini merupakan tempat berlindung siluman buaya.
Baca Juga: Satlantas Polres Brebes Gencarkan Sosialisasikan Operasi Keselamatan Candi 2026, Ini Tujuannya
Pada abad ke-16, Sungai Cisanggarung mulai digunakan oleh Kerajaan Sunda untuk sistem irigasi sawah dan ladang. Sejak saat itux keberadaannya memainkan peran krusial dalam pertahanan, pertanian, dan penyebaran Islam di pesisir utara.


