FGD Tata Kelola Pertanian di Lereng Gunung Slamet, Bupati Brebes : Bukan Cari Siapa Salah, Tapi Solusi Bersama

Brebes menggelar FGD tata kelola pertanian lereng Gunung Slamet untuk mencari keseimbangan antara ekonomi petani hortikultura dan kelestarian lingkungan.
BREBES, puskapik.com – Dilema antara menggerakkan ekonomi dan menjaga kelestarian lingkungan menjadi bahasan utama dalam Forum Grup Discussion (FGD) Tata kelola Pertanian Berbasis Kelestarian Lingkungan di Lereng Gunung Slamet yang digelar di Pendapa Bumiayu, Kamis (18/6/2026).
Forum diskusi yang dihadiri langsung Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma ini mempertemukan pemerintah daerah, akademisi, hingga pegiat lingkungan untuk membahas arah pembangunan pertanian yang selama ini menjadi penopang ekonomi warga di lereng Gunung Slamet Brebes.
Baca Juga: Wali Kota Tegal Sidak Apotek, Temukan Produk Belum Lengkapi Izin
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Brebes, Hendri Adi Komara, menyebut sektor hortikultura, terutama kentang, telah menjadi penggerak ekonomi ribuan keluarga petani di lereng Gunung Slamet wilayah Kecamatan Sirampog, Brebes.
Ia mengungkapkan, luas lahan hortikultura di wilayah tersebut mencapai sekitar 2.399 hektare dengan produksi kentang berkisar 45.000 hingga 46.000 ton pertahun.
Namun di balik itu, tekanan terhadap lingkungan juga menjadi perhatian serius. Dalam beberapa tahun terakhir, sekitar 164 hektare kawasan hutan di lereng Slamet tercatat mengalami kerusakan akibat perubahan tutupan lahan.
Baca Juga: Wagub Taj Yasin Ajak Syarikat Islam Perkuat Ekonomi Rakyat
Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu fungsi hutan sebagai penyimpan air serta penahan risiko longsor dan banjir.
“Pertanian penting untuk ekonomi masyarakat, tetapi kelestarian lingkungan juga tidak bisa diabaikan. Inilah mengapa FGD digelar,” kata Hendri.
Sementara itu, Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, menegaskan, FGD bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan mencari solusi bersama.
FGD ini diharapkan menjadi pijakan awal dalam merumuskan kebijakan tata kelola pertanian yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan di lereng Gunung Slamet."Mari kita cari solusi bersama. Yang diatas memikirkan yang dibawah, sebaliknya yang dibawah juga memikirkan yang diatas," kata bupati.
Ia mengingatkan, dalam perjalanan awal pemerintahannya, Brebes beberapa kali menghadapi bencana seperti tanah bergerak di Mendala Sirampog hingga banjir bandang di Bumiayu yang berdampak pada warga.
“Ini menjadi keprihatinan kita bersama. Banyak dana darurat terserap untuk penanganan bencana,” ujarnya.
Bupati juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara keberlanjutan pertanian dan perlindungan lingkungan. Ia mengapresiasi masukan dari pegiat lingkungan, namun meminta agar kritik tetap memperhatikan keberlangsungan hidup petani.
Selain itu, ia menyoroti peran investor yang diharapkan tidak hanya hadir pada saat panen, tetapi juga ikut bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lahan. Penegakan aturan lingkungan juga diminta dilakukan secara adil dan tidak tebang pilih.


