Jejak Gajah Purba di Bumiayu: Dari Sinomastodon hingga Elephas, Fosilnya Bisa Dilihat di Museum

Fosil gajah purba di Bumiayu mengungkap evolusi dari Sinomastodon, Stegodon hingga Elephas. Koleksinya kini bisa dilihat di Museum Purbakala Bumiayu.
BREBES, puskapik.com – Kawasan Bumiayu, Kabupaten Brebes, menyimpan jejak panjang kehidupan masa lampau. Salah satu buktinya adalah fosil gajah purba yang kini dipamerkan di Museum Purbakala Bumiayu.
Para peneliti setidaknya mengidentifikasi tiga jenis gajah purba yang pernah hidup di Bumiayu, yakni Sinomastodon sp., Stegodon sp., dan Elephas sp. Ketiganya memberi gambaran penting tentang proses evolusi gajah di Nusantara. Yuk kenali satu persatu :
1. Sinomastodon sp., Gajah Paling Primitif
Sinomastodon sp. dikenal sebagai salah satu gajah paling awal yang hidup di Indonesia. Penemuan penting spesies ini justru berasal dari Bumiayu, sehingga dinamai Sinomastodon bumiajuensis.
Baca Juga: Enak Jamane Kang Ato
Secara morfologi, gajah ini memiliki dua gading besar di rahang atas serta gigi geraham bertipe bunodont—struktur sederhana yang cocok untuk mengunyah daun dan tunas muda. Fosil terlengkapnya ditemukan oleh Karsono Haryo Subagyo, anggota pelestari Situs Bumiayu yang kini tergabung dalam Yayasan Pustaka Alam Bumiajuensis.
Temuan ini menjadi bukti kuat bahwa Bumiayu pernah menjadi habitat penting bagi nenek moyang gajah modern.
2. Stegodon sp., Gajah
Berbelalai Panjang dengan Gading Melengkung
Berikutnya adalah Stegodon sp., yang hidup pada periode Pliosen hingga Pleistosen, sekitar 5 juta hingga 10.000 tahun lalu. Ciri khasnya terletak pada gading panjang yang melengkung di rahang atas.


