Kades Dukuhturi Bumiayu Bantah Mobil Siaga Dipakai ke Luar Kota Saat Gedung Hogwan Runtuh

Kades Dukuhturi Achmad Effendi menjelaskan soal Mobil Siaga dan tuntutan warga agar dirinya mundur usai tragedi Gedung Hogwan yang menewaskan tiga orang.
BREBES, puskapik.com – Kades Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Achmad Effendi, memberikan penjelasan terkait tuntutan warga yang meminta dirinya mundur dalam audiensi di Kantor Desa Dukuhturi, Selasa, 1 September 2026.
Dalam audiensi tersebut, warga juga mempertanyakan keberadaan Mobil Siaga Desa saat penanganan korban runtuhnya Gedung Hogwan.
Tuntutan mundur disampaikan orator dan peserta audiensi sebagai bagian dari aspirasi warga setelah insiden runtuhnya bangunan tua bekas pabrik tapioka tersebut yang menyebabkan tiga orang meninggal dunia.
Baca Juga: Deklarasi, 74 SPPG di Batang Bergabung dalam Paguyuban Mitra MBG, Ini Pesan Wabup Suyono
Dalam audiensi tersebut, warga juga menyampaikan kekecewaan karena Achmad dinilai belum datang bertakziah ke rumah duka korban.
Hal itu disayangkan warga mengingat kepala desa dipandang sebagai pemimpin sekaligus bagian dari masyarakat Desa Dukuhturi.
Persoalan tersebut menjadi salah satu hal yang disampaikan warga dalam audiensi, selain sejumlah persoalan lain yang berkaitan dengan pemerintah desa.
Baca Juga: Jateng Matangkan Persiapan Menyambut 2.833 Kafilah MTQ Nasional XXXI
Menanggapi tuntutan tersebut, Achmad mengaku menyadari masih memiliki banyak kekurangan dalam menjalankan tugas sebagai kepala desa. Ia juga meminta maaf apabila dalam merespons kejadian tersebut dinilai kurang sigap dan belum maksimal.“Saya minta maaf karena kurang sigap dan kurang sempurna. Kami menyadari betul masih banyak kekurangan,” kata Achmad.
Achmad menjelaskan, setelah mendapat informasi mengenai runtuhnya Gedung Hogwan pada Minggu (30/8/2026), dirinya langsung menuju lokasi. Namun, kondisi kaki yang sedang mengalami gangguan membuatnya mengaku tidak dapat berbuat maksimal dalam penanganan di lokasi kejadian.
Terkait Mobil Siaga Desa, Achmad mengatakan dirinya langsung menghubungi operator agar kendaraan tersebut bersiap digunakan untuk membantu penanganan korban. Menurut dia, Mobil Siaga Desa kemudian menuju lokasi. Namun, kendaraan tersebut tidak diperbolehkan masuk karena akses menuju lokasi telah ditutup.
Rencananya, Mobil Siaga Desa akan diparkir di sekitar Kantor Kecamatan Bumiayu yang lokasinya relatif dekat dengan lokasi kejadian. Setelah mengetahui korban sudah dibawa ke rumah sakit, mobil tersebut kemudian kembali dan diparkir di seberang rumahnya.“Jadi tidak benar mobil siaga tidak ada di tempat atau sedang digunakan ke luar kota seperti informasi yang berkembang,” kata Achmad.
Sementara terkait tuntutan agar dirinya mundur, Achmad belum memberikan jawaban secara tegas apakah akan memenuhi atau menolak desakan tersebut.
Ia mengatakan akan berkonsultasi terlebih dahulu dengan pihak kecamatan dan Pemerintah Kabupaten Brebes. Achmad juga menyatakan akan mempersiapkan segala sesuatu berkaitan dengan tuntutan warga.“Saya akan berkonsultasi dengan kecamatan dan kabupaten serta mempersiapkan segala sesuatunya terkait tuntutan warga,” ujarnya.
Sebelumnya, sekitar 30 warga dan elemen masyarakat mengikuti audiensi di Kantor Desa Dukuhturi. Selain meminta kepala desa mundur, warga menyampaikan sejumlah aspirasi, termasuk meminta evaluasi terhadap pemerintah desa, transparansi pengelolaan aset desa serta penjelasan mengenai Mobil Siaga Desa.


