Korban Banjir Sungai Keruh Bumiayu Minta Pemkab Brebes Tambah Alat Berat

Sungai Cisanggarung di Brebes-Cirebon, berhulu Waduk Darma, 62,5 km, jadi sumber air, irigasi, penghubung provinsi, dan terkait sejarah Islam.
BREBES, puskapik.com – Korban banjir Sungai Keruh di Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, meminta Pemkab Brebes menambah alat berat untuk penanganan pascabanjir.
Hingga sepekan pascakejadian, penanganan di lokasi baru mengandalkan satu unit alat berat yang digunakan untuk normalisasi atau penyodetan aliran sungai agar tidak kembali mengarah ke permukiman warga.
“Sudah sepekan hanya satu alat berat yang bekerja. Padahal Bupati waktu meninjau lokasi Kamis pekan lalu, sudah memerintahkan penambahan alat berat, tapi sampai hari ini belum datang,” ujar Bejo, salah satu warga terdampak, Selasa 3 Februari 2026.
Baca Juga: Begini Sejarah Sungai Ciranggarung, Tapal Batas Jawa Tengah dan Jawa Barat
Bejo merupakan korban banjir Sungai Keruh yang terjadi pada 23 Januari 2026. Rumah yang telah ia tempati bertahun-tahun mengalami kerusakan berat. Sebagian bangunan kini menggantung di atas aliran sungai akibat tergerus banjir. Sementara rumah tetangganya roboh dan hanyut terbawa arus.
“Lahan yang kami tempati ini bukan tanah bantaran sungai, tapi tanah hak milik,” tegasnya.
Menurut Bejo, penambahan alat berat minimal satu unit sangat dibutuhkan agar proses penyodetan sungai bisa berjalan maksimal. Ia juga berharap delta sungai yang membuat aliran Sungai Keruh berkelok dapat dikeruk.
Material hasil pengerukan tersebut diusulkan dimanfaatkan untuk memperkuat tanggul di sekitar hunian warga. “Dengan kondisi sungai yang luas seperti ini, tidak cukup hanya satu alat berat,” katanya.
Untuk penanganan jangka panjang, warga juga mengusulkan pembangunan tanggul pengaman permanen guna melindungi permukiman dari ancaman banjir susulan Sungai Keruh Bumiayu.


