Sungai Keruh Bumiayu, Banjir Adisana, dan Persoalan Hulu yang Belum Tuntas

Pengerukan sedimen dan pembuatan tanggul darurat di Sungai Keruh Bumiayu terus dilakukan usai banjir berulang yang merendam Desa Adisana, Brebes.
BREBES, puskapik.com – Pengerukan sedimentasi dan penguatan tanggul darurat Sungai Keruh di Penggarutan, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, masih terus dilakukan menyusul banjir yang berulang merendam Desa Adisana sejak akhir 2025.
Penanganan teknis di hilir ini terus digencarkan untuk mengurangi risiko luapan susulan. Pada 22 Februari 2026, tanggul darurat kembali jebol setelah debit sungai meningkat drastis akibat hujan deras di wilayah hulu.
Air meluap ke sawah, jalan dan permukiman. Peristiwa itu bukan yang pertama. Dalam beberapa bulan terakhir, Desa Adisana berkali-kali terdampak banjir dengan pola yang hampir serupa.
Baca Juga: Tragedi Sungai Ketiwon Tegal, Dua Korban Ditemukan dan Satu Selamat
Empat alat berat kini dikerahkan di blok Penggarutan untuk mengeruk endapan batu dan pasir serta mempertebal tanggul di sisi kanan dan kiri sungai. Secara teknis, langkah ini dinilai penting untuk memperlancar aliran air. Namun persoalannya tak berhenti di hilir.
Setiap hujan deras mengguyur kawasan lereng Gunung Slamet, Sungai Keruh membawa material dalam jumlah besar. Endapan batu dan pasir mempercepat pendangkalan di wilayah bawah.
Sungai yang baru saja dikeruk, dalam hitungan waktu kembali dangkal. Siklus ini berulang hampir setiap Sungai Keruh banjir.
Sejumlah pegiat lingkungan menilai penanganan di hilir perlu diimbangi pembenahan wilayah hulu, terutama di lereng Gunung Slamet yang menjadi daerah tangkapan air. Kerusakan tutupan lahan dinilai berpengaruh terhadap meningkatnya erosi dan limpasan air permukaan saat curah hujan tinggi.
Para pegiat lingkungan juga mendorong agar status kawasan hutan Gunung Slamet ditingkatkan menjadi taman nasional. Tujuannya agar pengelolaan kawasan lebih ketat dan fungsi lindung serta resapan air dapat terjaga.
Sementara itu, warga Desa Adisana mengaku lelah dengan siklus banjir yang berulang. Mereka berharap ada solusi jangka panjang, termasuk tanggul permanen, bukan sekadar pengerukan rutin setiap kali air meluap.


