Budaya Moci di Tegal Mulai Luntur, Tergerus Budaya Ngopi

Jumat, 19 Desember 2025 | 23.21

SLAWI, puskapik.com - Kabupaten Tegal dikenal dengan budaya moci atau minum teh sejak zaman dahulu. Moci dengan gula batu dan teko tanah ini, kini mulai terkikis dengan budaya ngopi. Bahkan, sudah jar...

SLAWI, puskapik.com - Kabupaten Tegal dikenal dengan budaya moci atau minum teh sejak zaman dahulu. Moci dengan gula batu dan teko tanah ini, kini mulai terkikis dengan budaya ngopi. Bahkan, sudah jarang dijumpai penjual warung makan yang menyediakan poci. Teh poci adalah teh yang diseduh secara khas dalam poci dan cangkir yang terbuat dari tanah liat. Teh ini biasanya diminum dengan dicampur gula batu dan disajikan saat masih panas. Tradisi minum teh dengan poci yang dibuat tembikar ini sudah sangat populer di Tegal. Bahkan, bagi masyarakat Tegal ada sebuah ungkapan yang menyatakan, "Jangan mengaku orang asli Tegal, bila tidak suka minum teh." "Sayangnya, budaya moci sudah mulai luntur. Kini, bergeser ke budaya ngopi yang jadi trend masyarakat saat ini," kata warga Tegal, Bebeng Mohan, Jumat 19 Desember 2025. Pria asli Tegal ini, merasakan budaya moci atau cipokan, moci sambi dopokan (minum teh dengan ngobrol) sangat kental di era 1990 hingga 2000. Saat bertamu atau sekedar ngobrol, bisa dipastikan minum teh. Ciri khas moci yang menggunakan teko dan cangkir tanah liat serta gula batu itu, sajian wajib pada zaman itu. Hampir warung makan menyediakan poci yang menjadi primadona pada zaman dahulu. "Masih ada budaya itu, tapi saat ini mulai bergeser. Orang cenderung mengatakan yuh ngopi, bukan yuh moci," ujar ASN di Pemkab Tegal itu. Kenapa budaya moci mulai luntur? Kata Bebeng karena era informasi yang deras masuk ke masyarakat Tegal. Tayangan televisi dari mulai sinetron hingga di media sosial, kerap mempertontonkan tradisi ngopi. Pengaruh orang perantauan juga sangat signifikan. Mereka merubah budaya moci menjadi budaya ngopi yang biasanya dilakukan masyarakat di kota-kota besar. Parahnya, munculnya kafe-kafe dengan menu kopi berbagai macam olahan. "Tidak ada kafe moci, adanya kafe kopi," tegas Bebeng. Budaya ngopi sudah menjamur di seluruh antero Tegal. Tamu datang kerumah, biasanya ditawarkan kopi. Anak-anak tongkrongan juga kerap memilik kopi sebagai teman ngobrol. Bebeng menilai hal itu wajar, karena kopi lebih praktis dibuat. Sedangkan poci harus melalui proses cukup panjang. Padahal, poci lebih tahan lama, karena bisa diisi ulang hingga teh sudah tidak berwarna. "Praktis orang sekarang. Kalau poci memang rada ribet, harus digodok dulu airnya agar tehnya bisa larut," ujar penyiar radio Slawi FM itu. Sejarah budaya minum teh, konon berasal dari masyarakat Tionghoa yang datang ke Tegal. Maklum, kala itu Tegal memang dikenal sebagai jalur perdagangan karena memiliki pelabuhan besar, sehingga menjadi persinggahan para saudagar dari luar negeri. Namun, terlepas dari sejarah atau berkembangnya budaya teh di Tegal, teh Tegal atau yang juga dikenal dengan sebutan teh Slawi memang memiliki keistimewaan. Apalagi, jika teh dari Tegal itu diseduh dengan air panas dalam poci. Poci tanah liat ini diyakini menciptakan aroma teh yang khas, ditambah disajikan dengan gula batu. Teh yang diseduh dalam poci yang telah dituang ke cangkir berisi batu itu konon juga tidak boleh diaduk. Masyarakat Tegal biasanya membiarkan gula batu itu larut, tercampur dengan sendirinya dengan teh yang dituang dari poci. Inilah yang diyakini menjadi karakteristik penyajian dan sekaligus citar rasa teh Slawi, yang juga dikenal dengan nama teh poci. Menariknya lagi, masyarakat di Tegal juga meyakini poci tanah liat yang digunakan untuk menyeduh teh, pada bagian dalamnya tidak boleh dicuci. Setiap poci yah habis dipakai untuk menyeduh, cukup dibuang sisa-sisa tehnya. Sisa-sisa teh yang telah menjadi kerak berwarna hitam di dalam poci itu dipercaya akan menambah cita rasa dan aroma teh. Bahkan, konon semakin lama usia poci yang digunakan, maka cita rasa dan aroma teh pun akan semakin enak. **

Artikel Terkait