274 Kader Antar Makanan, KAJEKZI Kendal Jadi Andalan Baru Lawan Stunting

Rabu, 19 Agustus 2026 | 20.37 WIB
Ratusan kader ojek gizi di Kecamatan Ringinarum dilepas bupati mengantarkan makanan tambahan ke warga. (edhot)
Ratusan kader ojek gizi di Kecamatan Ringinarum dilepas bupati mengantarkan makanan tambahan ke warga. (edhot)

Sebanyak 274 kader KAJEKZI di Kendal mengantar makanan tambahan langsung ke rumah warga. Inovasi ini didorong untuk mempercepat penurunan stunting.

KENDAL, puskapik.com – Upaya menekan stunting di Kabupaten Kendal tidak hanya dilakukan melalui pelayanan di fasilitas kesehatan.

Di Kecamatan Ringinarum, para kader kesehatan justru bergerak langsung mendatangi rumah warga untuk memastikan balita dan ibu hamil mendapatkan makanan tambahan sesuai kebutuhan.

Gerakan tersebut dilakukan melalui program Kader Ojek Gizi (KAJEKZI) yang digagas Puskesmas Ringinarum.

Baca Juga: Ekonomi Lesu, Pedagang Pasar Pagi Kota Tegal Keluhkan Omzet Turun hingga 25 Persen

Sebanyak 274 kader dilibatkan untuk mengantarkan makanan tambahan sekaligus melakukan pemantauan dan edukasi kepada keluarga sasaran.

Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari mengapresiasi pola pelayanan tersebut. Ia menilai KAJEKZI memiliki keunggulan karena pelayanan kesehatan tidak menunggu masyarakat datang ke puskesmas, tetapi justru mendatangi mereka.

Saat meninjau pelaksanaan KAJEKZI di Aula Kantor Kecamatan Ringinarum, Rabu (19/8/2026), Bupati bahkan mendorong inovasi tersebut diterapkan di seluruh wilayah Kabupaten Kendal.

Baca Juga: Tips Menghindari Oversharing di Media Sosial

“Tentunya saya berpesan kepada Dinas Kesehatan Daerah untuk memberikan perintah kepada 26 puskesmas lain yang belum mengadopsi inovasi KAJEKZI ini,” tegasnya.

Saat ini KAJEKZI baru diterapkan di tiga puskesmas, yakni Puskesmas Weleri I, Plantungan, dan Cepiring.

Menurut Dyah Kartika, model pelayanan tersebut dapat menjadi contoh bahwa penanganan stunting membutuhkan intervensi yang langsung menyentuh keluarga sasaran.

“KAJEKZI merupakan langkah nyata hadirnya pelayanan kesehatan yang adaptif, responsif, dan mudah diterapkan di masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga: 5 Cara Merawat Sepatu Suede agar Tetap Bersih dan Awet

Aktivitas kader KAJEKZI tidak berhenti setelah makanan tambahan sampai di rumah sasaran. Para kader juga memastikan makanan dikonsumsi oleh penerima, memberikan edukasi kepada keluarga, serta memantau perkembangan kondisi balita maupun ibu hamil.

Salah seorang kader KAJEKZI Desa Mojo, Supriyati, mengatakan kegiatan tersebut dilakukan setiap hari dengan durasi pemberian makanan tambahan yang berbeda sesuai sasaran.

“Kalau untuk balita sudah jalan 56 hari dan kalau untuk ibu hamil KEK sudah 120 hari,” katanya.

Menu makanan disiapkan berdasarkan ketentuan dari puskesmas. Kader kemudian berperan mulai dari berbelanja bahan, memasak, hingga mengantarkan makanan ke rumah sasaran.

“Kalau balita bahkan kita pastikan untuk benar-benar sampai ke mulut,” ungkap Supriyati.

Pola tersebut dinilai penting karena pemberian makanan tambahan tidak cukup hanya dengan memastikan makanan diterima. Kader juga perlu mengetahui apakah makanan benar-benar dikonsumsi oleh balita.

Supriyati berharap dukungan keluarga sasaran terus diberikan sehingga seluruh rangkaian intervensi dapat berjalan maksimal.

“Semoga tidak ada stunting lagi dan semua balita sehat,” harapnya.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Kendal Ferinando Rad Bonay mengatakan berbagai intervensi yang dilakukan pemerintah mulai menunjukkan hasil.

Prevalensi stunting Kabupaten Kendal pada 2026 tercatat 11,85 persen. Angka tersebut menurun dibandingkan 2025 yang mencapai 12,4 persen.

Dari sisi jumlah, bayi yang tercatat mengalami stunting juga turun dari 6.855 pada 2025 menjadi 6.724 pada 2026.

“Artinya, kalau program berjalan dengan baik kita berharap ke depan prevalensi stunting di kabupaten dapat kita turunkan,” kata Ferinando.

Selain intervensi kepada balita dan ibu hamil melalui KAJEKZI, Dinas Kesehatan juga melakukan pencegahan sejak remaja dengan pemberian tablet tambah darah kepada siswi di sekolah.

Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk memutus risiko stunting sejak sebelum seseorang memasuki fase kehamilan.

Dengan pola pelayanan langsung ke rumah dan melibatkan kader di tingkat desa, KAJEKZI kini didorong tidak lagi menjadi inovasi milik satu puskesmas, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama untuk mempercepat penurunan stunting di Kendal. **

Artikel Terkait