Ekonomi Kendal Ngebut 8,57 Persen, Industri Jadi Penggerak

Rabu, 9 September 2026 | 13.57 WIB
Rilis pertumbuhan ekonomi Triwulan II kabupaten Kendal dii Ruang Ngesti Widhi, Rabu (9/9/2026). (edhot)
Rilis pertumbuhan ekonomi Triwulan II kabupaten Kendal dii Ruang Ngesti Widhi, Rabu (9/9/2026). (edhot)

Ekonomi Kabupaten Kendal tumbuh 8,57 persen pada Triwulan II 2026, tertinggi di Jateng. Investasi Rp6,56 triliun jadi salah satu penggerak utama pertumbuhan.

KENDAL,puskapik.com — Investasi senilai Rp6,56 triliun menjadi salah satu mesin penggerak utama perekonomian Kabupaten Kendal sepanjang 2026.

Arus investasi dalam skala besar, terutama yang masuk ke kawasan industri, dinilai mampu memperkuat aktivitas produksi sekaligus membuka lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat.

Masuknya investasi tersebut menjadi modal penting di tengah capaian pertumbuhan ekonomi Kendal yang mencapai 8,57 persen.

Baca Juga: Nekat Parkir Sembarangan di Tegal, Kendaraan Bisa Digembok hingga Diderek

Angka itu menempatkan Kendal sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Jawa Tengah pada periode yang sama.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kendal, Wahyu Yusuf Ahmadi, mengatakan investasi Rp6,56 triliun tidak hanya berdampak terhadap peningkatan kapasitas produksi industri.

Efek berantai investasi juga diharapkan mampu menggerakkan sektor ekonomi lain dan menciptakan lapangan pekerjaan.

“Investasi yang masuk menjadi modal penting untuk menggerakkan roda ekonomi daerah. Harapannya, investasi ini tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga membuka kesempatan kerja dan memperluas aktivitas ekonomi di berbagai sektor,” katanya dalam kegiatan rilis pertumbuhan ekonomi Triwulan II, Rabu (9/9/2026).

Baca Juga: TNI Ajak Warga Pemalang Aktif Cegah Karhutla

Menurut Wahyu, tingginya pertumbuhan ekonomi harus diikuti langkah konkret agar momentum tersebut dapat dipertahankan. Pemerintah daerah bersama organisasi perangkat daerah (OPD) dan seluruh pemangku kepentingan didorong memperkuat sinergi sehingga pertumbuhan ekonomi tidak berhenti pada pencapaian angka.

Pertumbuhan ekonomi, lanjutnya, harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan UMKM, pembangunan infrastruktur, serta kebijakan yang memastikan masyarakat lokal ikut menikmati manfaat pertumbuhan.

Kepala BPS Kabupaten Kendal, Aji Sandi Parwoto, menjelaskan pertumbuhan ekonomi sebesar 8,57 persen menunjukkan aktivitas ekonomi di Kendal bergerak kuat di berbagai sektor.

Industri pengolahan menjadi motor utama pertumbuhan. Sementara sektor pertanian, perdagangan, konstruksi, serta akomodasi dan makan minum turut memberikan penguatan terhadap perekonomian daerah.

“Pertumbuhan ekonomi Kendal sebesar 8,57 persen merupakan hasil dari bergeraknya berbagai sektor secara bersamaan. Industri pengolahan menjadi motor utama, sementara pertanian, perdagangan, konstruksi, serta akomodasi dan makan minum memberikan penguatan dari sisi kontribusi maupun sumber pertumbuhan,” jelasnya.

Capaian tersebut jauh berada di atas pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang tercatat 5,71 persen secara year-on-year (y-on-y). Pada periode yang sama, pertumbuhan ekonomi nasional berada di angka 5,29 persen.

Secara kumulatif atau c-to-c, ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,80 persen pada Semester I 2026, sedangkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen.

Tingginya pertumbuhan Kendal dinilai menjadi modal penting untuk memperluas kesempatan kerja, meningkatkan aktivitas usaha, memperkuat daya beli masyarakat, sekaligus menciptakan efek berganda dari investasi dan geliat industri.

Sekretaris Daerah Kendal, Agus Dwi Lestari, menegaskan pertumbuhan ekonomi tidak boleh berhenti pada pencapaian statistik. Angka pertumbuhan harus diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi harus mampu membuka lapangan kerja, memperkuat UMKM, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta ikut menekan angka kemiskinan dan pengangguran.

Agus juga menekankan pentingnya penggunaan data yang akurat sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan. Pemerintah daerah tidak ingin terburu-buru menyampaikan angka pertumbuhan sebelum memperoleh data resmi dari BPS sebagai lembaga yang berwenang menyampaikan statistik resmi.

“Data bukan sekadar angka, tetapi menjadi kompas dalam menentukan arah kebijakan pembangunan suatu wilayah,” tegasnya.

Ia berharap investasi yang masuk ke Kendal benar-benar menjadi pendorong ekspansi industri dan memberikan dampak langsung terhadap masyarakat.

“Harapan kami, investasi yang masuk di Kendal menjadi booster bagi ekspansi industri dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat Kendal,” katanya.

Menurut Agus, iklim investasi di Kendal saat ini semakin mendapat kepercayaan investor. Dalam sejumlah forum investasi di Jakarta, Kendal bahkan mulai banyak diperbincangkan sebagai salah satu daerah tujuan investasi.

Kondisi tersebut, menurutnya, merupakan hasil kerja bersama antara pemerintah, dunia usaha, investor, industri, akademisi, instansi pemerintah, masyarakat hingga media.

“Ini bukan hasil satu OPD, satu instansi atau satu komunitas, tetapi seluruh stakeholder yang ada di Kabupaten Kendal,” tegasnya.

Pemkab Kendal selanjutnya berkomitmen menjaga iklim investasi tetap kondusif. Investasi diharapkan tidak hanya mendorong ekspansi industri, tetapi juga memperkuat UMKM dan menciptakan rantai ekonomi lokal yang lebih luas.

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi yang tinggi diharapkan tidak sekadar menjadikan Kendal unggul dalam statistik, tetapi mampu menghadirkan manfaat nyata berupa bertambahnya lapangan kerja, meningkatnya pendapatan masyarakat, berkembangnya UMKM, serta berkurangnya kemiskinan dan pengangguran.

Artikel Terkait