Gunung Slamet Aman Pendakian, Tapi Ada Syaratnya

Pendakian Gunung Slamet Kompak Guci dibuka terbatas sampai pos 4. Aktivitas meningkat, pendaki wajib patuhi radius aman dan dilarang camping.
SLAWI, puskapik.com - Aktivitas Gunung Slamet yang terjadi akhir-akhir ini, membuat jalur pendakian di lima kabupaten ditutup sementara. Namun demikian, Gunung Slamet masih aman untuk pendakian.
Ketua Pengamanan Jalur Pendakian Kompak Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Sumedi mengatakan, aktivitas Gunung Slamet mengalami peningkatan sejak beberapa waktu lalu.
Kondisi itu membuat pendakian ke puncak Gunung Slamet ditutup. Namun demikian, kondisi Gunung Slamet berbilang masih aman.
Baca Juga: Dari Cangkang Telur, Susu, dan Madu, Pria Asal Tegal Ini Sulap Jadi Pipa Gading
"Saya masih keatas untuk cek jalur pendakian setiap seminggu 2-3 kali. Pengecekan jalur untuk memastikan jalan tidak dirusak binatang buas," kata Sumedi.
Menurut dia, di wilayah Kabupaten Tegal ada empat jalur pendakian, yakni melalui Kompak, Gupala, Permadi dan Bosapala Sawangan.
Setiap jalur pendakian memiliki radius aman. Misalkan jalur pendakian Kompak memiliki radius aman di pos 5 di jarak 2-3 km dari puncak Gunung Slamet, jalur pendakian Permadi pos 4 masih aman, pendakian Gupala di pos 4, Bosapala juga di pos 4.
Baca Juga: Harlah ke-92 GP Ansor, Bupati Kendal Ajak Pemuda Perkuat Peran dan Solidaritas
"Peningkatan aktivitas Gunung Slamet karena terjadi intensitas hujan tinggi. Kalau gunung api saat musim hujan mengalami peningkatan aktivitas," terang Sumedi.
Ia menganalogikan, bahwa gunung seperti teko/ poci yang dipanaskan, kemudian disiram air. Kondisi itu akan merubah suhu dan mengeluarkan asap. Namun demikian, Sumedi menegaskan bahwa karakter gunung berapi dipastikan selalu mengeluarkan asap.
"Gunung api harus mengeluarkan setiap 5 atau 10 tahun sekali atau bertahap," ujarnya.
Saat ditanyakan soal kondisi erupsi Gunung Slamet terparah, Sumedi menjelaskan, selama dirinya tinggal di lereng Gunung Slamet, tidak pernah ada yang terparah. Hal itu dikarenakan erupsi tidak mengakibatkan kerusakan apapun.
"Paling besar di tahun 2014 dan 2009, tapi tidak merusak wilayah produksi. Paling hanya di radius 3-4 km," ujarnya.
Sumedi menjelaskan, karakter Gunung Slamet berbeda dengan gunung lainnya, karena gunung ini tunggal. Ia kerap memantau dan melihat langsung puncak Gunung Slamet. Jika ada semburan material seperti tahun 2009 dan 2014 hanya di radius 3-4 km. Jika ditarik garis lurus di basecamp Kompak ke puncak Gunung Slamet sekitar 10 km.
"Dukuh Sawangan yang terdekat dengan puncak Gunung Slamet masih aman. Kalaupun ada larva akan terbentur bukti tinggi," terangnya.



