Hadapi Tantangan Literasi, Pemprov Jateng Maksimalkan Peran Bunda Literasi dan Bunda PAUD

Kamis, 20 Agustus 2026 | 20.22
puskapik

Pemprov Jateng dorong transformasi perpustakaan dan maksimalkan peran Bunda Literasi, Bunda PAUD, serta Bunda Posyandu hadapi tantangan literasi.

SEMARANG, puskapik.com - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendukung upaya penguatan regulasi dari pemerintah pusat guna mengatasi keterbatasan tenaga perpustakaan.

Jawa Tengah juga mendorong transformasi peran perpustakaan daerah agar sesuai dengan kebutuhan generasi muda. Pemprov juga memaksimalkan peran Bunda PAUD, Bunda Literasi, dan Bunda Posyandu, untuk menghadapi tantangan kebutuhan literasi.

Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, saat menerima Kunjungan Kerja Spesifik Komisi X DPR RI di Kantor Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Tengah, Semarang, Kamis, 20 Agustus 2026.

Baca Juga: PT Anugerah Bahari Pasifik-Polnustar Sangihe Kolaborasi Cetak SDM Kompeten

Taj Yasin mengakui Pemprov Jateng saat ini menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan tenaga pengelola perpustakaan hingga ke tingkat daerah akibat regulasi yang belum memadai.

"Ini yang perlu ada kajian baru dan penguatan aturan dari pemerintah pusat agar kami di daerah bisa mengembangkan perpustakaan," ujar Taj Yasin usai acara.

Guna menjaga dinamika minat baca di tingkat akar rumput di tengah keterbatasan tersebut, Pemprov Jateng memaksimalkan peran gerakan sosial melalui integrasi Bunda Literasi, Bunda PAUD, hingga Bunda Posyandu.

Baca Juga: Ramaikan Hari Jadi Jateng, Halaman Kantor Gubernur Jadi Pasar UMKM

"Kunjungan ini kita sambut baik karena kami juga sebenarnya memulai memetakan itu lewat Bunda Literasi, lewat Bunda PAUD, maupun lewat Bunda Posyandu yang di dalamnya ada pendidikan," ujarnya.

Taj Yasin juga menyoroti pergeseran paradigma masyarakat terhadap perpustakaan. Banyak generasi muda menganggap seluruh akses literasi telah tersedia secara digital, sehingga kunjungan fisik ke gedung perpustakaan cenderung menurun.

Menurutnya, perpustakaan saat ini dituntut tidak hanya menjadi tempat menyimpan buku atau referensi. Melainkan harus beradaptasi, berinovasi, dan memberikan nilai tambah.

"Perpustakaan dituntut menjadi literasi yang mampu memahami kebutuhan anak-anak zaman sekarang. Bukan hanya menyediakan buku, tetapi juga harus beradaptasi, berinovasi, dan menciptakan nilai lebih, seperti memberi gambaran bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan atau usaha," katanya.

Sebagai bentuk adaptasi, Pemprov Jateng telah membenahi fasilitas perpustakaan daerah, termasuk menyediakan area kafe di lantai atas untuk menciptakan suasana yang lebih menarik bagi anak muda.

Selain penguatan fasilitas dan SDM di fasilitas publik, Taj Yasin mengingatkan bahwa dukungan pengembangan perpustakaan juga sangat dibutuhkan oleh sekolah-sekolah swasta, dan tidak hanya sekolah negeri.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait