Jateng Uji Model Baru Pengentasan Kemiskinan, Pemuda Jadi Sasaran Utama

Rabu, 19 Agustus 2026 | 21.10
puskapik

Jateng uji model pengentasan kemiskinan berbasis pemberdayaan pemuda di 8 desa/kelurahan. Pemuda keluarga miskin dibekali keterampilan, usaha, dan pendampingan.

SURAKARTA, puskapik.com – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai menguji model baru pengentasan kemiskinan, dengan menjadikan pemuda dari keluarga miskin sebagai sasaran utama pemberdayaan.

Bukan sekadar diberi bantuan, mereka dipersiapkan agar memiliki keterampilan, usaha, dan penghasilan yang bisa mengangkat kesejahteraan keluarganya.

Model tersebut diterapkan melalui Pilot Project Desa/Kelurahan Mandiri Sejahtera Berbasis Pemberdayaan Pemuda yang diluncurkan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, mewakili Gubernur Ahmad Luthfi, di Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, pada rangkaian Peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah, Rabu, 19 Agustus 2026.

Baca Juga: Aksi Nyata Hari Pramuka ke-65 Kwarcab Tegal, Dari Penghargaan hingga Dropping Air Bersih

Taj Yasin mengatakan, pilot project ini dirancang untuk menguji bagaimana pemberdayaan pemuda dapat menjadi bagian dari strategi pengentasan kemiskinan di tingkat desa dan kelurahan.

“Ini kolaborasi yang sangat baik, yaitu pengentasan kemiskinan. Enggak mungkin dikerjakan sendiri. Kita harus kerja kelompok,” katanya.

Program tersebut menyasar warga berusia 16-30 tahun yang berasal dari keluarga desil 1 hingga 4. Berdasarkan DTSEN Januari 2026, terdapat 3.493.309 pemuda di Jawa Tengah yang masuk kelompok tersebut.

Baca Juga: Bukan Sekadar Gelar Juara, SMAN 1 Boja Kendal Bekali Siswa Jadi Generasi Berencana

Taj Yasin mengatakan, pemuda dipilih sebagai bagian penting dari pilot project karena memiliki kemampuan untuk memperluas pasar usaha, termasuk melalui teknologi digital.

"Ekspansi ekonomi saat ini sudah tidak lagi ada di tokonya. Mereka sudah naik level," katanya.

Pilot project tersebut dilaksanakan di delapan desa dan kelurahan. Yakni Kelurahan Semanggi, Nusukan, dan Mojosongo di Kota Surakarta; Desa Winduaji di Kabupaten Brebes; Desa Belik dan Mendelem di Kabupaten Pemalang; Desa Rejosari di Kabupaten Demak; serta Desa Ngawen di Kabupaten Blora.

Baca Juga: Bukan Sekadar Gelar Juara, SMAN 1 Boja Kendal Bekali Siswa Jadi Generasi Berencana

Tokoh yang akrab disapa Gus Yasin itu menegaskan, program tersebut tidak menggunakan pendekatan bantuan yang diberikan begitu saja. Setiap kelompok terlebih dahulu akan melalui asesmen untuk melihat kebutuhan, pengalaman, dan potensi yang dimiliki. Setelah itu, mereka mendapatkan pelatihan dan pendampingan sebelum menerima dukungan usaha.

“Bantuan ini tidak langsung diberikan. Kita asesmen dulu. Kebutuhannya apa? Kelompok tersebut sudah punya pengalaman apa? Kita berikan pelatihan dulu, kita berikan pendampingan dulu,” ujarnya.

Pendekatan tersebut, kata Taj Yasin, penting agar bantuan yang diberikan tidak habis setelah diterima. Sebaliknya, bantuan harus berkembang menjadi kegiatan produktif yang mampu meningkatkan pendapatan penerima manfaat.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait