Menjaga Jejak Tradisi Kaliwungu Lewat Lomba Lukis Payung Kertas Harlah MI NU 56 Krajan Kulon

Lomba lukis payung kertas di MI NU 56 Kaliwungu libatkan puluhan anak TK sebagai upaya melestarikan tradisi dan seni budaya khas daerah sejak dini.
KENDAL, puskapik.com – Payung kertas bukan sekadar alat pelindung dari hujan atau panas bagi masyarakat Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Di wilayah ini, payung kertas telah menjadi bagian dari tradisi dan identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.
Meski kini kian tergerus perkembangan zaman, upaya menjaga eksistensi tradisi khas Kaliwungu tersebut terus dilakukan.
Salah satu upaya pelestarian tradisi itu terlihat melalui lomba lukis payung kertas yang digelar MI NU 56 Krajan Kulon, Kaliwungu dalam rangka Harlah ke 49, Sabtu 31 Januari 2026.
Baca Juga: Langkah Pemprov Jateng Pulihkan Duka Penyintas Bencana
Kegiatan ini diikuti puluhan anak taman kanak-kanak dari berbagai sekolah di sekitar Kaliwungu, sebagai langkah mengenalkan tradisi lokal sejak usia dini.
Puluhan anak tampak tekun menggoreskan kuas di atas payung kertas polos. Dengan imajinasi masing-masing, mereka memadukan warna-warna cerah hingga membentuk lukisan bertema alam.
Aktivitas ini bukan hanya melatih kreativitas, tetapi juga memperkenalkan anak-anak pada media seni tradisional yang telah lama hidup di Kaliwungu.
Baca Juga: Brebes Raih Opini Kualitas Tinggi Ombudsman RI
Kepala MI NU 56 Krajan Kulon, Muhammad Muhaimin, mengatakan lomba lukis payung kertas merupakan bagian dari komitmen sekolah dalam melestarikan seni dan tradisi khas daerah.
“Payung kertas ini merupakan ciri khas Kaliwungu. Dahulu, wilayah ini dikenal sebagai sentra pembuatan payung kertas. Melalui lomba ini, kami ingin mengenalkan kembali tradisi tersebut kepada generasi muda,” ujar Muhaimin.
Ia menambahkan, lomba lukis payung kertas juga menjadi wadah bagi anak-anak untuk menuangkan ide dan kreativitas menggunakan media yang jarang digunakan saat ini.
Kegiatan tersebut tercatat telah dilaksanakan sebanyak lima kali dan menjadi agenda rutin sekaligus ikon MI NU 56 Krajan Kulon.
Pengawas Madrasah Kabupaten Kendal, Sutrisno, mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, pengenalan budaya lokal sejak dini sangat penting agar tradisi khas daerah tidak hilang ditelan zaman.
“Anak-anak perlu dikenalkan dengan tradisi di lingkungannya sendiri. Lomba lukis payung kertas ini menjadi sarana edukatif sekaligus pelestarian budaya Kaliwungu,” kata Sutrisno.
Artikel Terkait

FLS3N Pageruyung Kendal Jadi Ajang Pelestarian Budaya dan Pencarian Bibit Seniman Muda

Pemprov Jateng Beri Tali Asih untuk Penghafal Al-Qur’an, Capai 2.000 Santri per Tahun

10 Provinsi Perkuat Kolaborasi Energi Bersih, Sampah, dan Giant Sea Wall
