Penjahit Kendal Mengeluh Kehilangan Pelanggan, Kenaikan Bahan Baku Jadi Penyebab

Rabu, 8 Juli 2026 | 13.10 WIB
Salah satu penjahit di kendal yang sepi pesanan pembuatan seragam karena bahan baku naik. (edhot)
Salah satu penjahit di kendal yang sepi pesanan pembuatan seragam karena bahan baku naik. (edhot)

Penjahit seragam sekolah di Kendal mengeluhkan pesanan turun hingga 75 persen jelang tahun ajaran baru akibat belanja online, kenaikan bahan baku, dan kebijakan sekolah.

KENDAL, puskapik.com – Menjelang dimulainya tahun ajaran 2026/2027, yang biasanya menjadi musim panen bagi usaha jahit seragam sekolah, para penjahit di Kabupaten Kendal justru menghadapi kondisi sebaliknya.

Pesanan seragam merosot tajam hingga mencapai 75 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Sepinya orderan dipicu kombinasi kenaikan harga bahan baku seragam, perubahan pola belanja masyarakat yang beralih ke toko online, serta kebijakan sekolah tingkat SMA/SMK yang tidak lagi menyediakan seragam melalui sekolah.

Baca Juga: Data Tak Kunjung Berubah, DPRD Kota Tegal Tekan Percepatan DTSEN

Pemilik Karya Busana Tailor Kendal, Nur Mukhlis, mengatakan kini sebagian besar calon siswa memilih membeli seragam yang sudah jadi karena harganya lebih murah dibanding menjahit sendiri.

"Mayoritas siswa baru sekarang membeli seragam melalui toko online. Akibatnya, kami para penjahit kehilangan banyak pesanan. Sekarang yang paling banyak justru permak seragam," katanya.

Menurut Mukhlis, meski harga seragam jadi lebih murah, kualitas produk yang dibeli secara daring belum tentu sesuai harapan. Perbedaan warna kain, ukuran, hingga model kerap menjadi keluhan pelanggan.

Baca Juga: PRIMA KEK Industropolis Batang Serap Ratusan Lulusan SMK Siap Kerja

Ia mencontohkan seragam abu-abu SMA yang dijual di pasaran memiliki gradasi warna berbeda-beda, begitu pula seragam identitas sekolah yang sering kali tidak sesuai standar masing-masing sekolah.

"Kalau jahit sendiri, ukuran, bentuk, sampai warna bisa disesuaikan. Hasilnya tentu lebih pas dipakai dibanding membeli yang sudah jadi," katanya.

Mukhlis menjelaskan, kebijakan sekolah juga turut memengaruhi kondisi usaha jahit. Tahun ajaran ini, sekolah tingkat SMA dan SMK tidak lagi menyediakan seragam bagi siswa, sehingga pembelian dilakukan secara mandiri. Berbeda dengan TK dan SMP yang masih menyediakan bahan seragam sesuai identitas masing-masing sekolah.

Akibatnya, pesanan yang masih bertahan di Karya Busana Tailor hanya berasal dari seragam TK, SMP, serta pakaian dinas kantor maupun perusahaan.

"Masih ada pelanggan yang menjahitkan seragam kantor, karyawan, juga seragam TK dan SMP. Kalau SMA memang hampir tidak ada," ungkapnya.

Di sisi lain, lonjakan harga kain dan perlengkapan menjahit memaksa pelaku usaha menaikkan ongkos jahit. Namun, kenaikan tarif tersebut tidak mampu menutupi penurunan jumlah pesanan yang terjadi.

Mukhlis mengaku dampak lesunya usaha bahkan memaksanya melakukan efisiensi tenaga kerja. Jika sebelumnya mempekerjakan 12 karyawan, kini hanya tersisa dua orang.

Tidak hanya sektor pendidikan, menurutnya kebijakan efisiensi anggaran juga berdampak pada pesanan dari instansi pemerintahan. Jika sebelumnya banyak kantor memperoleh alokasi kain seragam setiap tahun, kini pesanan tersebut hampir tidak ada lagi.

"Instansi pemerintah dan kantor juga mengeluhkan kenaikan harga bahan. Dulu masih ada jatah kain seragam, sekarang sejak efisiensi anggaran sudah tidak seperti dulu," ujarnya.

Mukhlis berharap pemerintah dapat mengevaluasi kebijakan yang berkaitan dengan pengadaan seragam sekolah agar tidak mematikan usaha penjahit lokal.

Ia mengusulkan sekolah dapat menjalin kemitraan dengan penjahit di daerah. Melalui kerja sama tersebut, sekolah dan penjahit dapat menyepakati standar bahan, model, hingga waktu pengerjaan sehingga siswa memperoleh seragam yang sesuai, sekaligus menjaga keberlangsungan usaha penjahit lokal.

"Kami berharap pemerintah mempertimbangkan kembali kebijakan yang berdampak pada penjahit. Kalau sekolah bisa bekerja sama dengan penjahit lokal, kualitas seragam tetap terjaga dan usaha kecil seperti kami juga bisa bertahan," pungkasnya.

Artikel Terkait