Penjahit Kendal Mengeluh Kehilangan Pelanggan, Kenaikan Bahan Baku Jadi Penyebab

Penjahit seragam sekolah di Kendal mengeluhkan pesanan turun hingga 75 persen jelang tahun ajaran baru akibat belanja online, kenaikan bahan baku, dan kebijakan sekolah.
KENDAL, puskapik.com – Menjelang dimulainya tahun ajaran 2026/2027, yang biasanya menjadi musim panen bagi usaha jahit seragam sekolah, para penjahit di Kabupaten Kendal justru menghadapi kondisi sebaliknya.
Pesanan seragam merosot tajam hingga mencapai 75 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Sepinya orderan dipicu kombinasi kenaikan harga bahan baku seragam, perubahan pola belanja masyarakat yang beralih ke toko online, serta kebijakan sekolah tingkat SMA/SMK yang tidak lagi menyediakan seragam melalui sekolah.
Baca Juga: Data Tak Kunjung Berubah, DPRD Kota Tegal Tekan Percepatan DTSEN
Pemilik Karya Busana Tailor Kendal, Nur Mukhlis, mengatakan kini sebagian besar calon siswa memilih membeli seragam yang sudah jadi karena harganya lebih murah dibanding menjahit sendiri.
"Mayoritas siswa baru sekarang membeli seragam melalui toko online. Akibatnya, kami para penjahit kehilangan banyak pesanan. Sekarang yang paling banyak justru permak seragam," katanya.
Menurut Mukhlis, meski harga seragam jadi lebih murah, kualitas produk yang dibeli secara daring belum tentu sesuai harapan. Perbedaan warna kain, ukuran, hingga model kerap menjadi keluhan pelanggan.
Baca Juga: PRIMA KEK Industropolis Batang Serap Ratusan Lulusan SMK Siap Kerja
Ia mencontohkan seragam abu-abu SMA yang dijual di pasaran memiliki gradasi warna berbeda-beda, begitu pula seragam identitas sekolah yang sering kali tidak sesuai standar masing-masing sekolah.
"Kalau jahit sendiri, ukuran, bentuk, sampai warna bisa disesuaikan. Hasilnya tentu lebih pas dipakai dibanding membeli yang sudah jadi," katanya.
Mukhlis menjelaskan, kebijakan sekolah juga turut memengaruhi kondisi usaha jahit. Tahun ajaran ini, sekolah tingkat SMA dan SMK tidak lagi menyediakan seragam bagi siswa, sehingga pembelian dilakukan secara mandiri. Berbeda dengan TK dan SMP yang masih menyediakan bahan seragam sesuai identitas masing-masing sekolah.
Akibatnya, pesanan yang masih bertahan di Karya Busana Tailor hanya berasal dari seragam TK, SMP, serta pakaian dinas kantor maupun perusahaan.
"Masih ada pelanggan yang menjahitkan seragam kantor, karyawan, juga seragam TK dan SMP. Kalau SMA memang hampir tidak ada," ungkapnya.
Di sisi lain, lonjakan harga kain dan perlengkapan menjahit memaksa pelaku usaha menaikkan ongkos jahit. Namun, kenaikan tarif tersebut tidak mampu menutupi penurunan jumlah pesanan yang terjadi.
Mukhlis mengaku dampak lesunya usaha bahkan memaksanya melakukan efisiensi tenaga kerja. Jika sebelumnya mempekerjakan 12 karyawan, kini hanya tersisa dua orang.


