Sedekah Laut Birusari Kendal Jadi Simbol Syukur dan Doa Keselamatan

Minggu, 28 Juni 2026 | 19.58
Iring-iringan perahu nelayan Mbiru Balok Kendal membawa sesaji untuk dilarung. (edhot)
Iring-iringan perahu nelayan Mbiru Balok Kendal membawa sesaji untuk dilarung. (edhot)

Ratusan perahu nelayan meramaikan Sedekah Laut Birusari, Kendal. Tradisi ini menjadi wujud syukur, doa keselamatan saat melaut, sekaligus menggerakkan ekonomi.

KENDAL, puskapik.com – Laut Utara Kendal dipenuhi iring-iringan perahu nelayan, Minggu (28/6).

Lebih dari 200 kapal bergerak bersama mengawal prosesi Sedekah Laut di Dukuh Birusari, Kelurahan Kalibuntu Wetan, sebagai wujud rasa syukur sekaligus doa agar nelayan selalu diberi keselamatan dan hasil tangkapan melimpah.

Sejak pagi, ratusan nelayan bersama keluarga memadati perahu masing-masing.

Baca Juga: Almira dan Shidqii Terpilih Sinok Sitong Brebes 2026, Begini Pesan Bupati Paramitha

Mereka membawa sesaji untuk dilarung ke tengah laut dalam tradisi yang rutin digelar setiap Bulan Muharam tersebut.

Pemandangan ratusan perahu yang berjalan beriringan menjadi daya tarik tersendiri. Dari kejauhan, kapal-kapal nelayan tampak membentuk barisan panjang seperti kirab budaya di atas perairan.

Namun, Sedekah Laut bagi masyarakat Birusari bukan hanya tentang prosesi larung sesaji.

Baca Juga: Menjelajah Surga Alam Kebumen Sampai Masuk Gua, Sekda Jateng: Ini Luar Biasa!

Tradisi ini juga menjadi momen kebersamaan keluarga nelayan.

Di atas perahu, mereka menggelar kenduri sederhana dengan membawa berbagai hidangan, mulai dari ingkung ayam, sayuran, hingga buah-buahan.

Sebelum menikmati hidangan, para keluarga nelayan terlebih dahulu memanjatkan doa bersama. Mereka berharap diberikan perlindungan saat mencari nafkah di laut, cuaca yang mendukung, serta hasil tangkapan yang lebih baik.

Pemilik Perahu Al-Ghazali, Sudarmaji, warga Desa Korowelanganyar, Kecamatan Cepiring, mengatakan Sedekah Laut menjadi bentuk rasa syukur nelayan atas rezeki yang diberikan sekaligus doa untuk keselamatan seluruh nelayan.

“Sedekah Laut ini bentuk rasa syukur kami kepada Allah SWT atas rezeki yang diberikan. Kami berdoa semoga seluruh nelayan diberi keselamatan saat melaut, hasil tangkapan semakin melimpah, dan cuaca bersahabat,” ujar Sudarmaji.

Menurutnya, pekerjaan sebagai nelayan tradisional saat ini menghadapi banyak tantangan.

Perubahan cuaca yang sulit diprediksi membuat hasil tangkapan tidak selalu menentu.

Selain itu, kebutuhan operasional melaut juga menjadi persoalan bagi nelayan.

“Sekarang melaut semakin berat. Cuaca sering tidak menentu, hasil ikan kadang sedikit, ditambah solar subsidi juga sulit didapat. Kami hanya bisa terus berikhtiar dan berdoa,” katanya.

Prosesi Sedekah Laut tahun ini juga menjadi pengalaman tersendiri bagi keluarga nelayan yang ikut berlayar hingga ke tengah laut.

Banyak istri dan anak nelayan yang baru merasakan langsung kondisi perairan yang setiap hari dihadapi para pencari ikan.

Susiati, salah seorang keluarga nelayan, mengaku terharu saat mengikuti perjalanan tersebut.

“Kalau ikut sampai ke tengah laut rasanya campur aduk. Baru merasakan sendiri besarnya ombak yang setiap hari dihadapi suami. Kami hanya bisa mendoakan supaya mereka selalu selamat dan pulang membawa rezeki,” tuturnya.

Selain prosesi di laut, masyarakat Birusari juga menggelar hiburan rakyat berupa kesenian Barongan. Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga budaya lokal sekaligus menghibur warga.

Kegiatan Sedekah Laut juga membawa dampak bagi perekonomian masyarakat.

Sejumlah pelaku UMKM membuka lapak makanan dan jajanan, sementara warga dari berbagai daerah datang untuk menyaksikan rangkaian tradisi tersebut.

Warga setempat, Saifudin, menilai Sedekah Laut telah menjadi identitas masyarakat pesisir Birusari.

“Sedekah Laut bukan sekadar tradisi. Ini sudah menjadi identitas masyarakat pesisir Birusari. Selain menjaga budaya, kegiatan ini juga menghidupkan kampung karena banyak warga berjualan dan banyak pengunjung datang,” ujarnya.

Dukuh Birusari menjadi salah satu kawasan nelayan terbesar di pesisir Kendal.

Terdapat lebih dari 1.000 nelayan dengan sekitar 260 perahu yang beroperasi dari kawasan tersebut.

Tradisi Sedekah Laut terus dipertahankan sebagai simbol rasa syukur masyarakat pesisir sekaligus harapan agar para nelayan selalu diberi keselamatan dan keberkahan dalam mencari nafkah di laut. **