Ternyata Ini Penyebab Utama Banjir dan Longsor di Kawasan Lereng Gunung Slamet

Rabu, 28 Januari 2026 | 20.03
Gunung Slamet
Gunung Slamet

Banjir dan longsor di lereng Gunung Slamet dipicu hujan ekstrem, lereng curam, dan tanah rentan erosi, bukan akibat aktivitas pertambangan ilegal lokal.

SEMARANG, puskapik.com – Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di lereng Gunung Slamet di Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal, Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah belakangan ini terjadi karena disebabkan oleh sejumlah faktor.

Selain tingginya curah hujan, kombinasi antara kerapatan jaringan aliran sub- Daerah Aliran Sungai (DAS) yang tinggi, kemiringan lereng yang sangat curam, dan jenis tanah latosol coklat adalah penyebab utama terjadinya tanah longsor.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah, Widi Hartanto mengatakan, berdasarkan analisa yang dilakukan, terjadi curah hujan ekstrem dengan durasi lama pada 23 – 24 Januari 2026. Saat itu curah hujannya mencapai 100 – 150 mm per hari di wilayah hulu (lereng Gunung Slamet), sehingga menyebabkan peningkatan debit air secara drastis.

Baca Juga: Polsek Jatinegara Kerja Bakti Tangani Longsor di Desa Sumbarang Tegal

"Idealnya curah hujan normal per hari itu sampai 50 mm. Debit air tinggi itu berpengaruh terhadap banjir," kata Widi saat ditemui di kantornya, Rabu, 28 Januari 2026.

Di wilayah seperti Kecamatan Pulosari dan Moga Kabupaten Pemalang, lanjut dia, berada di Sub DAS Penakir atau bagian dari hulu Sub DAS Gintung. Dominasi kemiringan lerengnya kategori agak curam hingga sangat curam mencapai kurang lebih 64%, sehingga meningkatkan kecepatan limpasan permukaan dan daya kikis aliran.

Akibatnya, Sub-DAS Penakir rentan terhadap terjadinya erosi lahan dan longsor lereng di bagian hulu–tengah. Dampak lanjutannya, berupa peningkatan muatan sedimen dan pendangkalan sungai di bagian hilir.

Berdasarkan catatannya, sejak tahun 2022 sudah banyak titik longsoran di kawasan lereng Gunung Slamet.

Menurut Widi, Kawasan Sub DAS Penakir didominasi tanah latosol. Karakteristik tanah Kawasan Sub DAS Penakir rentan terhadap erosi dan longsor. Hal ini akibat sifat tanah yang gembur dan mudah jenuh air.

“Banjir bandang terjadi lewat peningkatan limpasan permukaan yang cepat, serta suplai sedimen tinggi akibat sifat tanah yang dangkal, tidak stabil, dan mudah tererosi,” kata dia.

Selain itu, faktor lain yang juga bisa mempengaruhi banjir dan longsor adalah daya dukung dan daya tampung lingkungan. Yaitu kemampuan lahan untuk melindungi dari tekanan. Kalau curah hujan tinggi tetapi tutupan lahan sangat baik atau rapatannya tinggi, maka dampaknya tidak terlalu besar.

Terkait tutupan lahan di kawasan Gunung Slamet sendiri, ada yang tutupannya rapat, yang ditumbuhi kayu-kayuan atau tanaman keras. Selain itu, ada lahan masyarakat yang ditumbuhi tanaman atau tumbuhan semusim.

Menurut Widi, banjir yang terjadi di kawasan tersebut tidak berhubungan dengan aktifitas penambangan. Sebab, aktifitas penambangan berada di bawah, di bagian kaki gunung dengan elevasi ratusan meter lebih rendah dari titik longsoran.

Lebih lanjut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah melakukan upaya penanganan jangka panjang untuk mengantisipasi bencana banjir dan tanah longsor yang lebih parah. Di antaranya dengan melakukan rehabilitasi hutan dan lahan. Misalnya di hutan lindung dan hutan produksi yang tutupannya atau tegakannya sudah kurang, harus diperbaiki dengan penanaman pohon.

"Kami ada program itu. Teman-teman seluruh stakeholder juga sudah banyak yang berkontribusi untuk penanaman di kawasan Gunung Slamet. Pemprov Jateng juga sudah mengajukan kepada Kementerian Kehutanan agar kawasan hutan Gunung Slamet menjadi Taman Nasional yang meliputi lima kabupaten," kata Widi sebagaimana arahan Gubernur Ahmad Luthfi.

Halaman 1 dari 3

Artikel Terkait