Tugu Jogja, Simbol Persatuan dan Jejak Sejarah yang Tak Lekang Zaman

Tugu Jogja dibangun sejak 1755 dan menjadi simbol persatuan serta sejarah Yogyakarta, dari Tugu Golong-Gilig hingga Tugu Pal Putih.
YOGYAKARTA, puskapik.com – Tugu Jogja menjadi salah satu ikon yang paling lekat dengan Kota Yogyakarta. Berada di tengah kota, monumen ini tidak hanya berfungsi sebagai penanda kawasan, tetapi juga menyimpan perjalanan sejarah sekaligus filosofi yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Yogyakarta.
Tugu ikonik itu pertama kali dibangun pada 1755 atas perintah Sri Sultan Hamengku Buwono I. Pada masa awal pembangunannya, monumen ini dikenal sebagai 'Tugu Golong-Gilig'. Nama ini merujuk pada bentuknya, yakni bagian tubuh yang ramping atau gilig dan bagian puncak yang berbentuk bulat atau golong.
Saat pertama didirikan, Tugu Golong-Gilig memiliki tinggi sekitar 25 meter. Keberadaannya bukan sekadar untuk memperindah kawasan publik, melainkan menjadi simbol filosofi Manunggaling Kawula Gusti, yang menggambarkan kesatuan antara rakyat dan pemimpinnya.
Baca Juga: Jelang Pensiun, 438 PNS Kabupaten Tegal Dibekali Jadi "Lansia Smart"
Tugu tersebut juga menjadi salah satu titik penting dalam sumbu imajiner Yogyakarta yang membentang dari Laut Selatan, Keraton Yogyakarta hingga Gunung Merapi. Sumbu yang memiliki nilai filosofis dan spiritual kuat dalam tata ruang serta kebudayaan Yogyakarta.
Dalam perjalanannya, Tugu Jogja pernah mengalami kerusakan. Pada 10 Juni 1867, gempa bumi besar mengguncang Yogyakarta dan menyebabkan Tugu Golong-Gilig roboh.
Lantas dua dekade kemudian, pemerintah kolonial Belanda melakukan pembangunan kembali pada 1889. Bentuk tugu mengalami perubahan cukup signifikan. Tingginya menjadi sekitar 15 meter, sementara bagian puncaknya tidak lagi berbentuk bulat, melainkan runcing.
Baca Juga: DLH Pemalang Siapkan TPA Darurat di Hutan Surajaya Seluas 4,5 Hektare
Bersamaan dengan perubahan tersebut, muncul pula penyebutan De Witt Paal atau Tugu Pal Putih. Perubahan bentuk dan nama tugu itu kemudian menjadi bagian dari catatan sejarah Yogyakarta pada masa kolonial.
Sejumlah sejarawan menilai perubahan tersebut diduga berkaitan dengan upaya pemerintah kolonial mengurangi simbol-simbol perlawanan yang sebelumnya melekat pada Tugu Golong-Gilig. Meski bentuk fisiknya berubah, nilai simbolis yang dimiliki tugu tersebut tetap bertahan dalam ingatan masyarakat.
Kini, Tugu Jogja menjadi salah satu destinasi yang banyak dikunjungi wisatawan. Lokasinya berada di titik pertemuan Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jenderal Soedirman, Jalan A.M. Sangaji, dan Jalan Diponegoro sehingga mudah diakses dari berbagai arah.
Baca Juga: HUT Ke-71 Polantas, Sopir Bus dan Warga di Tegal Dapat Cek Kesehatan Gratis
Wisatawan dari Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) dapat menggunakan kereta bandara menuju Stasiun Yogyakarta dengan tarif Rp20.000. Dari stasiun, perjalanan dapat dilanjutkan menggunakan ojek online maupun berjalan kaki sekitar 15 menit menuju kawasan Tugu Jogja.
Selain melihat langsung monumen yang menjadi ikon Kota Yogyakarta tersebut, wisatawan yang ingin mengenal sejarahnya lebih jauh juga dapat mengunjungi Museum Laboratorium Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta (UPY). Museum tersebut memiliki miniatur Tugu Golong-Gilig sebagai salah satu koleksi edukatif.
Perjalanan sejarah yang panjang itu membuat Tugu Jogja tidak hanya menjadi landmark kota. Monumen tersebut juga merepresentasikan nilai persatuan, keteguhan, serta keterikatan masyarakat Yogyakarta dengan sejarah dan warisan budaya leluhurnya.**