Andakah Satu Dari Sepuluh Manusia Terbaik?

Refleksi QS Al Ahzab 35 tentang 10 golongan lelaki dan perempuan terbaik: muslim, mukmin, taat, jujur, sabar, khusyu, sedekah, puasa, menjaga diri, dan dzikir.
Oleh: Ghusni Darodjatun
(Seorang pendidik yang selalu bersemangat belajar menebar kebaikan dan kemanfaatan)
"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatan, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS Al Ahzaab; 33 : 35)
Islam sebagai aturan yang datang dari Allah SWT, senantiasa memberikan motivasi yang kuat bagi penganutnya untuk meraih kondisi terbaik. Sebagaimana yang kita yakini, karena Islam datang dari Allah Yang Maha Benar, maka Islam merupakan sistem hidup yang pasti benar.
Dengan sifat Maha BenarNya, Allah SWT pasti Maha Tahu apa dan bagaimana kebutuhan makhlukNya. Sehingga tidak terbantahkan Islam merupakan sistem hidup yang pasti sesuai bagi manusia. Allah SWT mengungkapkannya dengan kalimat “Dan tidak Kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai penyebar rahmat (kasih sayang) bagi semesta alam” (QS Al Anbiyaa ; 21 : 107).
Baca Juga: 72 Rumah Rusak Akibat Tanah Bergerak di Desa Kajen Lebaksiu Slawi
Di antara kesesuaian Islam dengan kehidupan manusia adalah pemuliaan dan penghormatannya yang sangat tinggi kepada seluruh manusia, tanpa memandang jenis kelamin.
Ayat di atas semakin menunjukkan bagaimana Islam memuliakan lelaki dan perempuan secara proporsional. Allah SWT telah menetapkan sepuluh manusia terbaik yang akan mendapatkan ampunan dan pahala yang besar dariNya terdiri atas kedua jenis makhluk Allah, yaitu laki-laki dan perempuan. Kesepuluh peringkat itu adalah
Pertama adalah laki-laki dan perempuan yang muslim. Secara bahasa muslim berarti tunduk pada aturan Allah SWT. Sedangkan secara istilah muslim adalah ketika seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat, sehingga diharamkan darah, kehormatan, dan hartanya. Tetapi menjadi muslim saja tidak cukup.
Sehingga urutan ke dua adalah laki-laki dan perempuan yang mu’min. Teringat kisah orang Badui yang mengaku beriman, kepadanya Allah SWT berfirman “…katakanlah kepada mereka ‘kamu belum beriman’ tetapi ‘kami telah tunduk (Islam)’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu” (QS Al Hujuraat ; 49 : 14). Iman lebih khusus dibandingkan Islam. Menjadi muslim dan mu’min saja tidak cukup. Maka Allah SWT menetapkan yang ke tiga yaitu laki-laki dan perempuan yang taat kepada Allah SWT.
Ibnu Katsir mengatakan ‘al qaanitiin adalah orang yang taat dengan penuh keyakinan sehingga terpancar ketenangan’ Ketaatan merupakan buah dari Islam dan Iman seseorang. Tetapi itu masih belum sempurna, maka Allah SWT menetapkan yang ke empat yaitu laki-laki dan perempuan yang benar (jujur) dalam ucapan, keyakinan, dan perbuatannya.
Karena kebenaran dan kejujuran merupakan perkara terpuji dan tanda keimanan, sebagaimana dusta merupakan tanda kemunafikan. Siapa yang benar (jujur) dalam perkataan, hati, dan perbuatannya maka dia mendapatkan keselamatan. RasulNya SAW bersabda, “Peganglah olehmu kejujuran, karena kejujuran mengarahkan kepada kebajikan dan kebajikan membawa kepada surga. Jauhkan dirimu dari dusta karena dusta mengarahkan kepada kekejian, dan kekejian menyeret ke neraka.
Seseorang senantiasa berbuat jujur dan memilih kejujuran hingga dia dituliskan sebagai orang jujur di sisi Allah. Dan seseorang senantiasa berbuat dusta dan memilih kedustaan hingga dia dituliskan sebagai pendusta di sisi Allah.”
Seorang muslim, mu’min, taat, dan jujur masih memerlukan sifat yang Allah SWT sebutkan berikutnya, yaitu laki-laki dan perempuan yang shabar. Inilah tabiat keteguhan, yaitu sabar dalam menerima musibah, sabar dalam mendapatkan kenikmatan, sabar dalam ketaatan dan memegang kejujuran, sabar untuk tidak berbuat maksiat.
Rasul SAW mengatakan, “Sabar itu pada pukulan pertama”, maknanya kesabaran yang paling tinggi adalah ketika pertama kali seseorang menerima cobaan atau ujian Allah SWT (baik berupa musibah, nikmat, taat, atau tarikan kemaksiatan) dan dia bersabar atasnya.



