Catatan Dari Pojok Digital 2025
Selasa, 23 Desember 2025 | 00.16

Penulis : Iqbaal Harits Maulana, Pandu Literasi Digital puskapik.com - Tahun 2025 akan dikenang bukan sebagai tahun di mana teknologi baru ditemukan, melainkan sebagai tahun ketika batas antara layar ...
Penulis : Iqbaal Harits Maulana, Pandu Literasi Digital
puskapik.com - Tahun 2025 akan dikenang bukan sebagai tahun di mana teknologi baru ditemukan, melainkan sebagai tahun ketika batas antara layar dan kenyataan benar-benar luruh.
Kita telah sampai pada satu titik di mana ruang digital bukan lagi sekadar alat yang kita genggam, melainkan lingkungan tempat kita menetap.
Kita tidak lagi "masuk" ke internet, kini seolah kita hidup di dalamnya. Sejak mata terbuka hingga kembali terpejam, rutinitas kita mengalir dalam urutan notifikasi, algoritma, dan interaksi tanpa rupa yang kini terasa sedemikian wajar, seolah-olah dunia fisik hanyalah separuh dari panggung kehidupan kita.
Di dalam ruang hidup kedua ini, Kecerdasan Buatan (AI) telah menanggalkan label "teknologi masa depan" dan menjelma menjadi rekan kerja yang sunyi namun menyeruak di segala sendi kehidupan.
Ia hadir dalam draf pesan yang kita kirim, laporan yang kita susun, hingga solusi instan untuk tugas-tugas rumit. Kehadirannya seakan menyublim sehingga banyak dari kita lupa bahwa di balik jawaban-jawaban cerdas itu ada mesin yang terus belajar dari miliaran jejak data manusia.
Efisiensi memang meningkat pesat, namun di saat yang sama, kita mulai dihadapkan pada krisis otentisitas.
Kita sering kali tidak lagi benar-benar tahu apakah apa yang kita konsumsi dan hasilkan adalah buah pemikiran manusia atau sekadar hasil kalkulasi probabilitas mesin.
Laju efisiensi ini kemudian bermuara pada rimba konten yang kian sesak. Tahun 2025 memperlihatkan bagaimana perhatian manusia menjadi komoditas paling berharga sekaligus paling rentan.
Video pendek yang mendominasi linimasa membuat waktu terasa berjalan lebih cepat, menyeret kita dari satu sensasi ke sensasi lainnya.
Di satu sisi, ini adalah era emas bagi kreativitas, siapa pun kini bisa menjadi narator bagi ceritanya sendiri, membawa produk desa ke kancah global, atau menyuarakan aspirasi yang dulu terkubur.
Namun, di sisi lain, kebisingan digital ini sering kali menenggelamkan esensi. Informasi bercampur aduk dengan opini, dan fakta sering kali kalah nyaring dengan konten yang sekadar mengejar viralitas.
Geliat ekonomi yang lahir dari ruang ini pun membawa wajah ganda. Kita menyaksikan betapa mudahnya transaksi lintas negara terjadi hanya melalui ketukan jari, memberikan harapan bagi pelaku usaha kecil untuk memutus rantai perantara yang panjang.
Namun, kenyataan di lapangan mengingatkan kita bahwa peluang ini tidak otomatis menghadirkan keadilan.
Masih ada jurang lebar yang menganga bagi mereka yang terhambat akses, tak dipungkiri di beberapa daerah masih sangat sulit untuk mendapatkan akses telekomunikasi terutama internet.
Pada akhirnya ruang digital memang terbuka seluas-luasnya, tetapi tidak semua orang masuk ke dalamnya dengan bekal yang sama, menciptakan kelas-kelas baru dalam struktur ekonomi digital kita.
Di tengah gegap gempita transaksi dan interaksi itu, ada harga sunyi yang terus kita bayar, yaitu privasi.
Tahun 2025 menjadi saksi betapa data pribadi telah menjadi mata uang utama. Kita semakin terbiasa menyerahkan kepingan informasi diri demi kemudahan akses, sering kali tanpa membaca syarat yang mengikatnya.
Sayangnya, kecepatan kita mengadopsi teknologi belum diimbangi dengan ketatnya penjagaan terhadap jejak digital.
Kebocoran data yang kerap terjadi seolah menjadi berita harian yang cepat datang dan cepat pula terlupakan, meninggalkan celah keamanan yang sewaktu-waktu bisa menjadi bumerang bagi penggunanya.
Kesadaran akan risiko inilah yang akhirnya mulai menggeser makna literasi digital.
Kita mulai menyadari bahwa cakap digital tidak lagi sekadar soal kemahiran mengoperasikan aplikasi, tetapi sudah menyentuh wilayah etika dan kesehatan mental.
Ruang digital kini menjadi cermin dari dinamika sosial kita yang sering kali retak, ia bisa menjadi tempat solidaritas yang luar biasa, namun juga arena konflik dan polarisasi yang tajam.
Persimpangan Realitas
Perbedaan pendapat begitu mudah berubah menjadi serangan personal, mengingatkan kita bahwa teknologi secanggih apa pun tidak akan pernah bisa menggantikan empati dan kedewasaan bersikap.
Beban masa depan ini tampak paling nyata pada wajah anak-anak dan remaja kita yang tumbuh besar di persimpangan realitas ini.
Mereka adalah generasi yang bertanya pada AI sebelum bertanya pada guru, dan membangun identitas di media sosial sebelum benar-benar mengenali diri di dunia fisik.
Mereka sangat cepat beradaptasi, namun di saat yang sama, mereka juga yang paling rentan terhadap distorsi realitas.
Tahun ini mengajarkan bahwa pendampingan digital di tingkat keluarga kini sama krusialnya dengan pendidikan formal.
Tanpa panduan nilai, teknologi bisa tumbuh jauh lebih cepat daripada kedewasaan pemakainya.
Menariknya, di tengah arus globalisasi digital yang begitu kuat, kita melihat adanya upaya untuk tetap berakar. Budaya lokal, bahasa daerah, hingga kuliner tradisional justru menemukan napas baru di linimasa menjelma menjadi konten dengan muatan lokal yang akan mendunia dengan tangan dingin generasi muda.
Digitalisasi pelayanan publik pun perlahan mulai memangkas jarak antara warga dan negara, meskipun inklusivitas tetap menjadi pekerjaan rumah yang besar agar teknologi tidak justru menciptakan sekat baru bagi mereka yang kurang beruntung secara teknis.
Pada akhirnya, tahun 2025 adalah tahun refleksi besar tentang posisi manusia di hadapan ciptaannya sendiri.
Kita sedang belajar bahwa kemajuan tidak selalu berarti kesiapan, dan konektivitas tidak otomatis menghadirkan kebijaksanaan.
Ruang digital akan terus bergerak maju dengan kecepatan yang mungkin tak terbayangkan sebelumnya, namun harapannya, kita tidak hanya sekadar menjadi objek dari algoritma.
Kita ditantang untuk tumbuh sebagai warga digital yang lebih sadar, dan yang mampu menggunakan teknologi tanpa harus kehilangan sisi kemanusiaan, etika, dan akar budaya kita.***



