Digital Outlook 2026

Kamis, 18 Desember 2025 | 04.33

Penulis : Iqbaal Harits Maulana, Pandu Literasi Digital TEGAL, puskapik.com - Digital Outlook 2026 telah diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam rangkaian Temu Nasional...

Penulis : Iqbaal Harits Maulana, Pandu Literasi Digital TEGAL, puskapik.com - Digital Outlook 2026 telah diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam rangkaian Temu Nasional Pegiat Literasi Digital 2025 pada tanggal 16-17 Desember 2025. Forum ini menghadirkan para pemimpin dan pengambil keputusan dari perusahaan teknologi besar, startup global, hingga ekosistem digital nasional. Meski latar belakang pembicaranya berasal dari korporasi raksasa dan dunia teknologi mutakhir, benang merah dari seluruh materi terasa sangat jelas yaitu kita sedang memasuki era adaptasi kecerdasan buatan (AI) yang masif dan transaksi lintas batas (borderless transaction) yang semakin tak terhindarkan. Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah AI dan transaksi digital global akan hadir, melainkan sejauh mana masyarakat, termasuk di kabupaten, dan daerah berkembang, siap beradaptasi dan mengambil manfaatnya. Dalam perspektif ekonomi, AI sering dipersepsikan sebagai teknologi mahal yang hanya relevan untuk kota besar atau perusahaan multinasional. Padahal, justru di daerah berkembang, AI bisa menjadi alat pemerataan peluang. Petani dapat memanfaatkan AI sederhana berbasis aplikasi untuk memprediksi cuaca, menentukan pola tanam, atau mengestimasi harga pasar. Pelaku UMKM di desa kini bisa menggunakan AI untuk membuat desain kemasan, konten promosi, hingga analisis pasar tanpa harus menyewa konsultan mahal. Bahkan transaksi lintas negara, yang dulu terasa mustahil, kini dapat dilakukan oleh pengrajin desa melalui bantuan platform digital dengan sistem pembayaran global. Borderless transaction membuka jalan agar produk lokal tidak lagi berhenti di pasar kecamatan atau kabupaten, tetapi bisa menembus pasar nasional bahkan internasional. Nilai tambah ekonomi tidak lagi dimonopoli kota besar, selama literasi dan infrastruktur digital terus diperkuat. Dari sisi sosial, AI mengubah cara manusia bekerja dan berinteraksi. Di satu sisi, ada kekhawatiran akan tergesernya jenis pekerjaan tertentu. Namun di sisi lain, muncul jenis pekerjaan baru yang sebelumnya tidak pernah ada seperti konten kreator lokal, admin toko online, bahkan analis data sederhana. Bagi daerah berkembang, tantangannya adalah memastikan AI tidak menciptakan kesenjangan baru antara mereka yang paham teknologi dan yang tertinggal. Di sinilah peran literasi digital menjadi krusial, dimana literasi digital bukan sekadar bisa menggunakan aplikasi, tetapi memahami etika, keamanan, dan dampak sosial dari teknologi tersebut. AI seharusnya memperkuat solidaritas sosial, dan meningkatkan kualitas pelayanan, misalnya dengan mempermudah layanan publik, kesehatan, dan administrasi desa, bukan justru menjauhkan manusia dari nilai gotong royong. Budaya Lokal di Tengah Arus Global Digital Borderless transaction dan AI membawa budaya global masuk ke ruang-ruang lokal dengan sangat cepat. Konten, gaya hidup, dan hal baru mudah diakses oleh siapa saja, termasuk generasi muda di daerah. Ini bisa menjadi peluang sekaligus ancaman. Peluangnya, budaya lokal dapat dipromosikan secara lebih luas sehingga kesenian daerah, kuliner khas, tradisi lokal, hingga cerita rakyat dapat dikemas lebih menarik dengan bantuan AI dan disebarluaskan ke dunia. Ancaman muncul jika warga lokal hanya menjadi penonton dan perlahan tergerus oleh budaya luar. Karena itu, adaptasi AI perlu dibarengi dengan kesadaran budaya, menggunakan teknologi untuk memperkuat identitas lokal, bukan menghilangkannya. AI seharusnya menjadi alat dokumentasi, promosi, dan regenerasi budaya, bukan pengganti nilai-nilai kearifan lokal. Selanjutnya dalam bidang pendidikan, AI sudah mengubah cara belajar secara fundamental. Anak-anak di daerah kini bisa mengakses materi pembelajaran global, tutor virtual, hingga simulasi pembelajaran berbasis AI. Ini adalah peluang besar untuk mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan. Namun pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada penguasaan teknologi. Yang lebih penting adalah membangun daya kritis, etika digital, dan kemampuan beradaptasi. Anak-anak perlu diajarkan bahwa AI adalah alat bantu, bukan pengganti nalar, karakter, dan nilai kemanusiaan. Sekolah, guru, dan komunitas pendidikan di daerah perlu didorong untuk tidak takut pada AI, tetapi menggunakannya secara kontekstual, sesuai kebutuhan dan tantangan nyata masyarakat sekitar. Menjemput Masa Depan, Bukan Sekadar Menonton Digital Outlook 2026 memberikan satu pesan penting dimana masa depan tidak menunggu kesiapan kita. secara global, adaptasi ini akan terus bergerak maju. Pilihannya hanya dua mau sekesar menjadi penonton atau menjadi aktor perubahan. Bagi masyarakat di daerah, adaptasi AI dan borderless transaction bukan tentang mengejar ketertinggalan kota besar, tetapi tentang menemukan jalan sendiri, menggunakan teknologi global untuk menjawab kebutuhan lokal. Dengan literasi digital yang inklusif, kebijakan yang berpihak, dan kesadaran budaya yang kuat, AI justru bisa menjadi jembatan menuju kemandirian ekonomi, sosial, dan pendidikan daerah. Masa depan digital bukan milik kota besar semata. Ia milik siapa pun yang siap belajar, beradaptasi, dan tetap berakar pada nilai-nilai lokal.***

Artikel Terkait