Hilangnya Esensi Perjuangan R.A Kartini di Era Digital

Perjuangan R.A. Kartini sangat menginspirasi setelah 122 tahun beliau wafat masih relevan di era digital yang penuh dengan segala kemudahan untuk belajar di kalangan anak muda
Penulis : Prayitno SE MM
Dosen Politeknik Pancasakti
puskapik.com - Perjuangan R.A. Kartini sangat menginspirasi setelah 122 tahun beliau wafat masih relevan
di era digital yang penuh dengan segala kemudahan untuk belajar di kalangan anak muda demi tujuan yang dicita – citakan.
Namun, esensi dari perjuangan R.A. Kartini itu sendiri kabur maknanya Ketika anak muda hanya mengenal setiap tanggal 21 April Adalah memakai baju adat namun kurang memahami apa yang diperjuangkan R.A. Kartini.
Umur 25 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk dijalani oleh R.A. kartini (1879–1904) jika kita melihat dari perspektif kondisi saat itu yang dalam masa penjajahan
“memperjuagkan kesetaraan gender dan hak pendidikan bagi perempuan pribumi”, hampir tidak mungkin untuk dilakukan namun dengan perjuangan luar biasa pada akhirnya terwujud hingga sekarang.
Namun, kemudahan – kemudahan yang diperjuangkan oleh Beliau pada era digital seolah menjadi sesuatu yang kecil dan yang terparah mengingkari.
Berbagai kejadian dalam ranah Pendidikan menjadi bukti bahwa generasi sekarang sebagaian kecil kurang memahami apa yang diperjuangan oleh R.A. kartini selama hidup beliau.
Aksi siswi SMA yang mengacungkan jari tengah kepada gurunya (Firmansyah, 2026) .
Tindakan tersebut jauh dari nilai – nilai yang diperjuangkan R.A. kartini “hak pendidikan bagi Perempuan”, yang menjadi miris aksi ini didokumntasikan secara digital, sadar
menggunakan perangkat smartphone dari salah satu siswa dan diupload di media sosial
(Firmansyah, 2026) . Dahulu, R.A. kartini memperjuangkan emansipasi, pendidikan, dan kesetaraan hak bagi perempuan pribumi melalui surat-surat yang ia tulis kepada teman-
temannya di Belanda masih sangat manual menggunakan kertas, ditulis tangan dan di pos kan, waktu sampai surat tersebut ke penerima tidak secepat sekarang namun dengan
perjuangan yang gigih hal tersebut dilakukan secara terus menerus demi apa yangdiperjuangkan terwujud.
Di era teknologi informasi yang semakin maju seharunya semangat perjuangan R.A. kartini terus diimplementasikan dan diajarkan bukan hanya seremonial dan identitas fisik yang diajarkan. Kesetaraan Pendidikan semakin mudah didapat dengan program pemerintahsekolah geratis hingga SMA dan Kuliah Gratis (KIP Kuliah & KIP K aspirasi). Kesetaraan
gender, pelecehan seksual yang terjadi di grup percakapan digital mahasiswa dua perguruan
tinggi terbaik di negri ini (bbc.com, 2026) .
Menguatkan bahwa apa yang dierjuangkan R.A.kartini hanya dipahami dan dimengerti dari fisik namun dilupakan dari esensi yang diperjuangkan.
Anak remaja lebih banyak belajar dari smartphone yang mereka miliki dengan focus pada media sosial sebagai materi yang didapat. Sumber media sosial memeliki beberapa kelemaha, diantaranya; control orang tua dan guru lemah terhadap content yang dilihat siswa, sebab semua siswa memiliki smartphone dan orang lain (bahkan orang tua dan guru) tidak berhak melihat content tersebut sebab sisw/ siswi sudah remaja, content medsos dibuat semenarik mungkin tetapi tidak memiliki pengetahuan yang cukup karena biasanya dikemas dalam 60 detik, siswa / siswi belum mampu menyaring conten media sosial, pengaruh yang tinggi dari
lingkungan Dimana siswa/siswi bergaul dan adanya keterbatasan aturan guru/pendidik dalam
mengontro perilaku siswa sehingga apabila terlalu masuk dalam permasalahan media sosial
dan isi smarthphone siswa/siswi dikhawatirkan berurusan dengan hukum.
Esensi perjuangan R.A. kartini masih sabgat relevan di era perkembangan teknologi informasi namun untuk mengimplementasikan perlu adanya dukungan dari semua pihak stakeholder dan memperkuat aturan, etika dan budaya.***



