Iran Melirik Pakistan, Indonesia Menawarkan Diri

Indonesia tawarkan diri jadi mediator konflik Iran-AS, tapi Pakistan dipilih karena akses strategis; Jakarta fokus jaga tradisi diplomasi bebas-aktif.
Oleh: Rudi Yahya
(Pengamat Kebijakan Publik asal Purbalingga)
Ketika Iran mengisyaratkan menunjuk Pakistan dan Turki sebagai mediator komunikasi dengan Amerika Serikat, satu pertanyaan langsung muncul di Jakarta: ke mana posisi Indonesia?
Presiden Prabowo Subianto sudah menyatakan kesediaannya datang ke Teheran jika diminta menjadi mediator. Namun hingga kini belum ada respons tegas dari Washington maupun Teheran. Jakarta menawarkan diri. Pintu belum terbuka.
Dalam diplomasi konflik, tawaran tidak selalu cukup.
Pakistan Dipilih karena Punya Akses
Iran bukan sedang mencari mediator simbolik. Teheran membutuhkan kanal komunikasi yang cepat dan efektif.
Pakistan memiliki kombinasi yang jarang dimiliki negara lain: kedekatan geografis dengan Iran, jalur komunikasi dengan Washington, hubungan strategis dengan negara-negara Teluk, serta pengalaman panjang dalam diplomasi kawasan yang sensitif.
Dalam konflik yang bergerak cepat dan berisiko militer, mediator dipilih bukan karena paling idealis.
Mediator dipilih karena paling bisa dihubungi.
Indonesia Tidak Ditolak Tetapi Belum Dibutuhkan
Kesediaan Presiden Prabowo menjadi mediator menunjukkan Indonesia tetap ingin memainkan peran dalam diplomasi perdamaian global. Ini sejalan dengan tradisi politik luar negeri bebas-aktif sejak awal kemerdekaan.
Namun konflik Iran hari ini bukan konflik forum internasional. Ini konflik keamanan kawasan.
Yang dibutuhkan Teheran adalah: jalur komunikasi cepat, akses strategis, dan mediator yang berada di lingkar konflik.
Indonesia berada di luar lingkar itu.
Bukan karena lemah. Tetapi karena jauh.
DPR Mengingatkan: Fokusnya Perdamaian
Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI, Sukamta, menegaskan perdebatan soal siapa mediator seharusnya tidak menjadi fokus utama.
Menurut dia, yang lebih penting adalah menghentikan eskalasi konflik, melindungi warga sipil, serta membuka jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan.
Pernyataan itu menempatkan diskusi pada posisi yang tepat.
Diplomasi bukan soal siapa tampil di depan.
Diplomasi soal siapa mampu menghentikan konflik.
Politik Bebas-Aktif Tidak Dibangun untuk Berlomba Jadi Mediator
Sejak Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung, Indonesia memposisikan diri sebagai negara penjaga ruang dialog global. Jakarta bukan sekadar pengantar pesan antar kekuatan besar.
Tradisi itu membuat Indonesia lebih sering tampil sebagai pembangun legitimasi perdamaian daripada operator komunikasi konflik.
Dalam diplomasi keras, Pakistan membuka jalur.
Dalam diplomasi legitimasi, Indonesia menjaga arah.
Karena itu ketika Iran melirik Pakistan, bukan berarti Indonesia tersisih. Itu hanya menunjukkan konflik Timur Tengah sedang bergerak dalam logika keamanan kawasan.
Dan dalam logika seperti itu, negara yang paling dekat biasanya yang paling dulu dipanggil.



