Iran Melirik Pakistan, Indonesia Menawarkan Diri

Sabtu, 28 Maret 2026 | 17.57
Rudi Yahya, Pengamat Kebijakan Publik asal Purbalingga.
Rudi Yahya, Pengamat Kebijakan Publik asal Purbalingga.

Indonesia tawarkan diri jadi mediator konflik Iran-AS, tapi Pakistan dipilih karena akses strategis; Jakarta fokus jaga tradisi diplomasi bebas-aktif.

Oleh: Rudi Yahya

(Pengamat Kebijakan Publik asal Purbalingga)

Ketika Iran mengisyaratkan menunjuk Pakistan dan Turki sebagai mediator komunikasi dengan Amerika Serikat, satu pertanyaan langsung muncul di Jakarta: ke mana posisi Indonesia?

Presiden Prabowo Subianto sudah menyatakan kesediaannya datang ke Teheran jika diminta menjadi mediator. Namun hingga kini belum ada respons tegas dari Washington maupun Teheran. Jakarta menawarkan diri. Pintu belum terbuka.

Dalam diplomasi konflik, tawaran tidak selalu cukup.

Pakistan Dipilih karena Punya Akses

Iran bukan sedang mencari mediator simbolik. Teheran membutuhkan kanal komunikasi yang cepat dan efektif.

Pakistan memiliki kombinasi yang jarang dimiliki negara lain: kedekatan geografis dengan Iran, jalur komunikasi dengan Washington, hubungan strategis dengan negara-negara Teluk, serta pengalaman panjang dalam diplomasi kawasan yang sensitif.

Dalam konflik yang bergerak cepat dan berisiko militer, mediator dipilih bukan karena paling idealis.

Mediator dipilih karena paling bisa dihubungi.

Halaman 1 dari 3

Artikel Terkait