Narasi Fiksi Manusia dan Algoritma Alam

Sabtu, 20 Desember 2025 | 00.07

Penulis : Iqbaal Harits Maulana, Sekretaris Pusat Kajian Origami Nusantara, Tinggal di Brebes puskapik.com - Di bawah langit yang kian muram oleh jelaga industri, kita sering kali berdiri terpaku, mer...

Penulis : Iqbaal Harits Maulana, Sekretaris Pusat Kajian Origami Nusantara, Tinggal di Brebes puskapik.com - Di bawah langit yang kian muram oleh jelaga industri, kita sering kali berdiri terpaku, merasa seperti butiran pasir yang terombang-ambing dalam badai sejarah yang tak terkendali. Kita bertanya-tanya, bagaimanakah spesies yang mampu membedah atom dan memetakan bintang bisa begitu ceroboh hingga menghancurkan satu-satunya rumah yang ia miliki? Mungkin jawabannya tidak terletak pada kurangnya empati, melainkan pada kerusakan "perangkat lunak" cara kita berpikir. Selama ribuan tahun, kita mengandalkan intuisi dan mitos untuk bertahan hidup, namun di hadapan krisis ekologi global yang presisi, perasaan saja tidak lagi cukup. Kita memerlukan cara baru untuk memandang realitas, sebuah kejernihan yang mampu menembus kabut bias dan keserakahan, agar setiap langkah yang kita ambil bukan lagi sekadar spekulasi, melainkan sebuah kepastian untuk tetap ada. Bayangkan dunia sebagai sebuah anyaman benang yang sangat rumit, di mana setiap tarikan benang di satu ujung dapat mengubah bentuk pola di ujung lainnya. Dalam sejarah panjang manusia yang dituliskan oleh Yuval Noah Harari, kita memahami bahwa keunggulan spesies kita bukan terletak pada kekuatan fisik, melainkan pada kemampuan kita untuk menenun cerita kolektif. Namun, saat ini kita sedang memasuki babak baru di mana cerita tersebut tidak lagi hanya ditulis oleh manusia melalui ideologi, melainkan oleh algoritma. Harari mengingatkan bahwa manusia adalah spesies yang dikendalikan oleh algoritma, baik biologis maupun digital. Masalahnya, kebijakan yang merusak alam saat ini lahir dari algoritma biologis kuno kita, seperti ketamakan jangka pendek, yang tidak lagi relevan untuk mengelola kompleksitas ekosistem global. Di sinilah berpikir komputasional muncul sebagai nakhoda yang menjaga kedaulatan hidup kita. Keberlangsungan hidup di bumi menuntut kita untuk meninggalkan pola pikir yang samar dan beralih ke metodologi di mana segala sesuatu benar-benar dihitung dan terhitung. Dalam kerangka berpikir komputasi, alam bukan lagi dianggap sebagai latar belakang yang statis, melainkan sebuah variabel kompleks yang memiliki batas kapasitas yang pasti. Jika pengambil kebijakan menggunakan metodologi ini, mereka tidak akan lagi bisa mengabaikan dampak deforestasi, karena dalam logika algoritmik, kehilangan satu komponen vital akan merusak keseluruhan fungsi sistem. Eror Logika Fatal Kebijakan yang merusak alam akan terdeteksi sebagai "eror" logika yang fatal, sebuah kegagalan sistemik yang secara otomatis harus ditolak karena tidak sinkron dengan dataset ideal alam. Dengan menghilangkan bias semu, kita dipaksa untuk memasukkan variabel ekologis yang selama ini diabaikan ke dalam kalkulasi utama pembangunan. Langkah konkretnya adalah menciptakan "debugging" terhadap regulasi yang ada, di mana setiap izin industri harus melalui simulasi komputasional yang menghitung jejak ekologisnya secara presisi hingga berabad-abad ke depan. Tidak ada lagi ruang bagi lobi politik atau retorika kosong, karena setiap tindakan harus memiliki kalkulasi input-output yang transparan. Berpikir komputasional memungkinkan kita untuk "meretas" cara kita hidup bernegara, memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak lagi menjadi alat penghancur, melainkan sistem kendali yang menjaga keseimbangan antara kebutuhan spesies kita dan kesehatan bumi. Mungkin kini saatnya manusia mengintegrasikan berpikir komputasi ke dalam tata kelola kehidupan, itu adalah upaya untuk menyelaraskan narasi fiksi manusia dengan kenyataan algoritma alam. Harari memperingatkan bahwa jika kita tidak segera memahami algoritma yang menggerakkan dunia, maka algoritma tersebut akan menghancurkan kita. Berpikir komputasional adalah literasi baru, sebuah peta intelektual yang memastikan bahwa dalam dunia yang digerakkan oleh kode, kitalah yang tetap memegang hak untuk menuliskan akhir ceritanya.   Kita tidak lagi sekadar menebak masa depan, kita harus mulai menghitungnya dengan benar, memastikan bahwa sejarah Sapiens tidak berakhir sebagai sebuah kegagalan sistem yang tragis, melainkan sebagai simfoni yang selaras dengan semesta.***  

Artikel Terkait