Ekonomi Brebes Tumbuh 6,28 Persen, Paramitha: Yang Penting Warga Merasakan Manfaatnya

Sabtu, 20 September 2025 | 01.04

BREBES, puskapik.com – Enam bulan pertama kepemimpinan Bupati Paramitha Widya Kusuma mulai menunjukkan hasil. Kabupaten Brebes mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 6,28% pada triwulan II 2025 (year on...

BREBES, puskapik.com  – Enam bulan pertama kepemimpinan Bupati Paramitha Widya Kusuma mulai menunjukkan hasil. Kabupaten Brebes mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 6,28% pada triwulan II 2025 (year on year), melampaui rata-rata Jawa Tengah (5,28%) dan nasional (5,12%). Namun bagi Paramitha, angka hanyalah permukaan. Yang lebih penting adalah rakyat ikut merasakan manfaatnya. “Kita bersyukur pertumbuhan ekonomi Brebes termasuk tinggi. Tapi, yang terpenting masyarakat bisa ikut merasakan manfaatnya. Karena itu, setiap pembangunan infrastruktur yang kita lakukan bukan semata-mata untuk angka PDRB, tapi untuk membuka akses kerja, mendorong pasar rakyat, dan memastikan petani serta UMKM kita ikut merasakan manfaatnya,” ujar Paramitha, Kamis (18/9). Pernyataan itu menandai bahwa sebagai pemimpin, Paramitha ingin memastikan geliat ekonomi benar-benar menyentuh kehidupan warga. Pasar rakyat kembali hidup, jalan-jalan yang dulu rusak kini diperbaiki, dan pelaku UMKM mulai berani memperluas usaha. Petani bawang, garam, dan ikan mulai mendapat akses lebih baik ke pasar dan pelatihan. Anak-anak muda mulai berani membuka usaha sendiri. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sektor tersier seperti perdagangan, transportasi, dan jasa menyumbang 40% terhadap PDRB Brebes. Pembangunan infrastruktur yang digencarkan Pemkab terbukti menjaga perputaran ekonomi tetap hidup, terutama di kampung-kampung dan pusat ekonomi rakyat. Pengamat dari CORE Indonesia, Yusuf Rendy, mengapresiasi capaian Brebes. “Pertumbuhan ekonomi Brebes sebesar 6,28% patut diapresiasi karena melampaui rata-rata provinsi dan nasional. Tapi sumber pertumbuhannya masih didominasi sektor tersier, sehingga keberlanjutannya perlu diwaspadai,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD) pada 2026 bisa menekan ruang fiskal. “Brebes berisiko kehilangan dorongan belanja publik yang selama ini menopang pembangunan,” tambahnya. Karena itu, Yusuf menyarankan langkah cepat yang tidak membebani masyarakat: efisiensi belanja, perlindungan infrastruktur dasar, dukungan pasar rakyat, serta program yang langsung menyentuh petani dan pelaku UMKM. Ia juga mendorong peningkatan PAD melalui cara yang ramah warga, seperti digitalisasi retribusi pasar dan parkir, serta perbaikan data PBB tanpa menaikkan tarif. Sementara itu, pengamat INDEF, Rizal Taufiqurrahman, menilai Brebes mulai beralih dari ekonomi tradisional ke arah yang lebih modern dan terintegrasi. “Brebes sudah mulai meninggalkan pola pertumbuhan berbasis pertanian menuju diversifikasi yang lebih modern dan terhubung dengan rantai pasok regional,” ujarnya. Ia mendorong hilirisasi produk unggulan seperti bawang merah, garam, dan perikanan agar nilai tambahnya tidak lagi dinikmati di luar daerah. “Kalau ini bisa dikonsolidasikan, Brebes berpeluang menciptakan model pembangunan daerah yang lebih mandiri, inklusif, dan berkelanjutan,” tegas Rizal. Ia juga menekankan pentingnya digitalisasi UMKM dan optimalisasi posisi Brebes di jalur Tol Trans Jawa untuk menarik investasi dari kawasan metropolitan sekitar. Semua masukan itu diterima Paramitha dengan sikap terbuka, namun tetap berpijak pada prinsip: pembangunan harus berpihak pada rakyat kecil. “Tugas kita bukan hanya mengejar pertumbuhan, tapi juga memastikan pertumbuhan itu adil, inklusif, dan membawa Brebes keluar dari bayang-bayang kemiskinan,” pungkasnya. **

Artikel Terkait