Komunitas Omah Brayan Urip Pekalongan Gelar Workshop Batik Ekologis, Jelang Launching Buana dan Wastra

Komunitas Omah Brayan Urip Pekalongan menggelar workshop batik ekologis dengan pewarna alami dan lilin madu sebagai rangkaian pra-launching Buana dan Wastra.
PEKALONGAN, puskapik.com - Komunitas Omah Brayan Urip menggelar acara pra-launching "Buana dan Wastra".
Salah satu agenda utamanya adalah workshop batik ekologis yang mengusung tema "Wastra Lokara: Membatik Cerita, Menghidupi Semesta", yang berlangsung di Warmindo Garwo pada Sabtu 12 September 2026.
Agenda ini menjadi ruang perjumpaan bagi anak-anak muda dari beragam latar belakang, dari mahasiswa umum, penimba ilmu jurusan batik, hingga para pekerja muda.
Kegiatan ini berfokus pada edukasi serta praktik pembuatan batik ramah lingkungan.
Dalam workshop tersebut, para peserta diperkenalkan pada ragam bahan pewarna alami, seperti kayu tingi dan jolawe, beserta jenis-jenis pengunci warna yang mampu menghasilkan karakter warna yang berbeda.
Proses praktik diawali dengan tahap pembuatan sketsa motif karya masing-masing peserta di atas kain.
Baca Juga: Kendal Semarakkan Gerakan Literasi, Warga Diajak Kembali Gemar Membaca
Setelah sketsa rampung, peserta mempraktikkan teknik mencanting, dilanjutkan dengan proses pencelupan ke bahan pewarna alami seperti kayu tingi dan jolawe.
Tahapan praktik ini kemudian ditutup dengan penguncian warna (fiksasi). Menariknya, proses mencanting tidak menggunakan lilin parafin biasa, melainkan lilin madu.
Dari sisi teknis dan lingkungan, lilin madu jauh lebih unggul karena memiliki sifat yang lebih cepat luruh saat proses pelorodan (penghilangan lilin dengan air panas).
Pemateri kegiatan, Dewi, menyampaikan bahwa anak muda saat ini harus lebih peduli terhadap pelestarian budaya batik.
Baca Juga: Kendal Tornado FC Buktikan Mental Juara di Kandang de Red
Menurut Dewi, generasi muda perlu membuka mata dan hati untuk memanfaatkan bahan pewarna alami yang lebih ramah lingkungan dan minim dampak kerusakan ekologis.
"Harapan kami, anak-anak muda bisa lebih mencintai batik sebagai warisan leluhur. Masalahnya, anak muda sekarang cenderung tidak mau membatik karena menganggap itu pekerjaan orang tua dan lebih memilih langsung pakai, itu yang akan kita arahkan ke anak muda,"ujarnya.
Satu hal lagi, lanju Dewi, akan tumbuh peduli lingkungan, karena memakai bahan-bahan dan pewarna alam.