Lesbumi Pekalongan Kirab Pusaka Mbah Nur Anom di Karnaval Budaya Hari Santri 2025
Selasa, 28 Oktober 2025 | 16.18

PEKALONGAN, puskapik.com — Suasana penuh khidmat sekaligus meriah mewarnai Karnaval Budaya Hari Santri Nasional 2025 di Kabupaten Pekalongan. Salah satu momen yang paling menyita perhatian publik adal...
PEKALONGAN, puskapik.com — Suasana penuh khidmat sekaligus meriah mewarnai Karnaval Budaya Hari Santri Nasional 2025 di Kabupaten Pekalongan.
Salah satu momen yang paling menyita perhatian publik adalah saat Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PCNU Kabupaten Pekalongan menampilkan Kirab Pusaka Mbah Nur Anom, sebuah tradisi sarat makna sejarah dan spiritual.
Ketua Lesbumi PCNU Kabupaten Pekalongan, Ahmad Nur Rohim Hadinagoro, menjelaskan, tahun ini pihaknya mengusung tema “Santri Berbudaya, Santri Bermartabat.
” Dalam kirab tersebut, Lesbumi membawa pusaka peninggalan ulama besar, yakni Keris Jangkung Nogo Siluman milik Mbah Yai Nur Anom.
“Keris ini bukan sekadar benda pusaka, tetapi juga doa dan pengharapan. Dulu, Mbah Yai Nur Anom memberikan keris tersebut kepada santrinya sebagai bekal perjuangan melawan penjajah,” ujar Ahmad Nur Rohim.
Menurutnya, keris yang berdapur Jangkung Luk Tiga itu melambangkan permohonan seorang hamba agar senantiasa mendapat perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Selain itu, juga menjadi simbol kepemimpinan dan pengayoman bagi masyarakat serta para santri.
Dalam prosesi kirab, pusaka tersebut diperlihatkan di panggung utama dan diserahkan secara simbolis kepada Ketua PCNU Kabupaten Pekalongan serta Wakil Bupati Pekalongan.
Momen penyerahan itu dimaknai sebagai simbol amanat kepemimpinan umat dan tanggung jawab seorang pemimpin dalam mengayomi rakyatnya.
“Terakhir, pusaka juga kami serahkan secara simbolis kepada dewan syuriah sebagai permohonan doa dan restu agar perjuangan para santri masa kini senantiasa diberkahi dan dikuatkan oleh Allah SWT,” imbuhnya.
Partisipasi Lesbumi dalam karnaval budaya tahun ini menjadi pengingat bahwa semangat perjuangan, kepemimpinan, dan nilai-nilai spiritual para ulama terdahulu harus terus dihidupkan di tengah generasi santri masa kini.
Dengan semangat Hari Santri, kirab pusaka itu bukan hanya napak tilas sejarah, tetapi juga refleksi tentang bagaimana budaya, spiritualitas, dan perjuangan dapat berjalan beriringan membentuk karakter bangsa. **
Artikel Terkait

Niat Hendak Kencing, Buruh Bongkar Muat di Pekalongan Tewas Tersengat Tiang Lampu Jalan

Sterilisasi Ketat GPU Kajen, Polres Pekalongan Pastikan Natal Bersama Aman

Kepesertaan Dinonaktifkan, BPJS Kesehatan Pekalongan Sarankan Daftar Mandiri
