Banjir Bandang Pernah Porak Porandakan Pemalang Tahun 1886, Tinggi Air 4 Meter

Selasa, 27 Januari 2026 | 13.41 WIB
Dampak banjir bandang yang menerjang pemukiman warga di Pulosari Kabupaten Pemalang pada Sabtu 24 Januari 2026 dini hari/Instagram @anom_widiyantoro
Dampak banjir bandang yang menerjang pemukiman warga di Pulosari Kabupaten Pemalang pada Sabtu 24 Januari 2026 dini hari/Instagram @anom_widiyantoro

Banjir bandang pernah melanda Pemalang tahun 1886 dengan ketinggian air hingga 4 meter, memporak-porandakan wilayah dan memaksa warga mengungsi.

PEMALANG, puskapik.com – Peringatan Hari Jadi ke-451 Kabupaten Pemalang diselimuti duka dengan musibah banjir bandang di wilayah puncak yang memporak-porandakan pemukiman warga hingga menelan korban jiwa.

Alarm bencana alam itu sudah menyala sejak Jumat 16 Januari 2026 lalu. Dimana hujan deras yang mengguyur Pemalang memicu genangan di perkotaan dan banjir di wilayah pesisir seperti Kecamatan Ampelgading, Comal, dan Ulujami.

Banjir yang terjadi di wilayah-wilayah tersebut dipicu meluapnya Sungai Comal yang merupakan sungai terbesar di Kabupaten Pemalang, setelah hujan deras mengguyur semalaman. Ketinggian air bahkan setinggi pinggang orang dewasa.

Baca Juga: Tumpukan Kayu di Pantai Larangan Tegal, Bukti Kerusakan Hutan di Lereng Gunung Slamet

Puncaknya pada Sabtu 24 Januari 2026 dini hari, tepat pada Hari Jadi Pemalang, banjir bandang menerjang Kecamatan Pulosari dan Moga yang merupakan daerah puncak di Kabupaten Pemalang. Desa Penakir menjadi wilayah terparah.

Banjir bandang yang membawa material bebatuan raksasa dan kayu-kayu gelondongan dari hutan Gunung Slamet itu menyebabkan 10 rumah hilang tersapu arus banji, 4 mobil hanyut, dan 1 orang tewas terseret arus.

Musibah banjir itu membawa ingatan kita pada banjir dahsyat yang pernah menerjang Pemalang pada abad ke-19 di semasa pemerintahan kolonial Belanda. Banjir memporak-porandakan kota dan sangat memukul kehidupan masyarakat.

Baca Juga: Patung Naga Cerek di Wisata Guci Tegal Hilang Tersapu Banjir, Pertanda Apa?

Sejarah Peristiwa Banjir Dahsyat di Pemalang

Sejak era kolonial, wilayah pesisir utara Pulau Jawa memang telah lama dikenal sebagai kawasan yang rentan dilanda banjir. Di Kabupaten Pemalang, catatan mengenai peristiwa banjir pernah terjadi pada abad ke-19, ketika sebagian wilayahnya diterjang luapan air.

"Memang, jika dilihat dalam rentang waktu yang lebih panjang, maka tingkat curah hujan di Pemalang cenderung fluktuatif," tulis Ilham Nur Utomo dalam Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat berjudul Banjir di Pemalang Masa Kolonial Abad Ke-20 yang terbit tahun 2020.

Ia menjelaskan, intensitas curah hujan di Pemalang tidak selalu tinggi, bahkan pada waktu tertentu justru lebih rendah dibandingkan daerah lain di Pulau Jawa.

Baca Juga: Detik-Detik Mencekam Banjir Bandang Pulosari Pemalang, Warga Sempat Kira Gunung Slamet Erupsi

Kondisi ini terlihat pada musim hujan Desember 1932, ketika wilayah Keresidenan Pekalongan—termasuk Pekalongan—mengalami kekeringan.

Meski demikian, banjir tetap menjadi bencana yang kerap terjadi di Pemalang.

Dalam kurun waktu 1905 hingga 1930-an, banjir tercatat berulang kali melanda kawasan yang berada di sekitar sungai, bendungan, serta daerah pesisir dengan kontur tanah yang relatif rendah.

Salah satu peristiwa besar terjadi pada Februari 1886. Berdasarkan catatan De Nieuwe Vorstenlanden, banjir bandang menerjang Pemalang hingga menggenangi area persawahan, perkebunan tebu, Jalan Pos (postweg), serta merusak tanggul di sejumlah sungai.

Pada tahun berikutnya, banjir besar terjadi lagi di sepanjang pesisir Tegal-Pemalang. "Banjir yang mencapai ketinggian 4 meter tersebut membuat penduduk terdampak

mengungsi ke daerah yang lebih aman." tulisnya.

Curah hujan tinggi yang mengguyur kawasan pegunungan turut memicu genangan luas di dataran rendah Pekalongan. Banjir juga merambah hingga wilayah Comal (Pemalang) di sebelah barat Pekalongan.

Meski tidak dilaporkan adanya korban jiwa, peristiwa tersebut menyebabkan permukiman warga dan lahan perkebunan terendam air.

"Kehidupan masyarakat sebagai korban terdampak pun tentu terganggu dengan adanya banjir yang merendam permukiman mereka," terus Ilham.

Pemberitaan surat kabar Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie menyebutkan bahwa pada tahun 1908, banjir juga mengakibatkan rusaknya jalur trem Semarang–Cirebon milik Stoomtram Maatschappij.

Jalur tersebut hancur di atas lahan kosong sepanjang kurang lebih 500 meter.

Kerusakan ini berdampak serius terhadap aktivitas pemerintahan Hindia Belanda serta distribusi hasil perkebunan yang sangat bergantung pada transportasi trem. Banjir pada periode tersebut bahkan berlangsung selama beberapa hari hingga menjangkau wilayah Brebes.

"Fenomena banjir pada tahun 1908 ini tergolong unik karena sungai-sungai besar di wilayah Pemalang, Tegal, dan Brebes meluap dalam waktu bersamaan," lanjutnya.

Cuaca buruk adalah faktor penting penyebab banjir di Pemalang, meskipun masih terdapat faktor lainnya. Cuaca buruk berupa hujan deras disertai badai terjadi Pada Februari 1913 di Pekalongan, Pemalang, dan Tegal.

Hujan deras menyebabkan banjir di sebagian wilayah Pemalang. Di Comal. banjir tidak terlalu tinggi. Namun di antara Lenggerong dan Randudongkal, sebagian jalan tersapu banjir (Het-nieuws-van-den-dag-voor-N -Nederlandsch-Indië, 1913).

Banjir terjadi pada malam hari dan menyisakan timbunan lumpur ketika air mulai surut.

Pada Februari 1918, luapan Sungai Rambut kembali menyebabkan banjir besar yang merendam wilayah Suradadi dan Pemalang. Surat kabar sezaman menggambarkan kondisi daerah itu menyerupai lautan, dengan banyak rumah rusak, warga mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, serta jalur trem mengalami kerusakan parah.

Daerah-daerah yang terdampak banjir Sungai Rambut umumnya berada di kawasan hilir sungai yang berdekatan langsung dengan Laut Jawa. Ketika banjir melanda, kawasan itu tampak seperti bentangan laut sejauh mata memandang.

Banjir di kawasan pantura menghambat aktivitas perekonomian, sehingga menyebabkan kerugian bagi pelaku usaha yang mengandalkan Jalan Pos (post-weg) dan trem.

Upaya penanganan pascabencana mulai dilakukan pada tahun 1930. Pemerintah kolonial di Karesidenan Pekalongan mengalokasikan anggaran sebesar f. 18.756 (gulden), di mana Regent Pemalang memprakarsai penataan ulang kota yang mengalami kerusakan akibat banjir.

Perhatian pemerintah kolonial terhadap ancaman banjir di Pemalang juga terlihat pada tahun 1937. Saat itu, dana sebesar f. 3.000 digelontorkan untuk memperbaiki Bendung Nambo yang rusak diterjang banjir. **

Artikel Terkait