Patung Naga Cerek di Wisata Guci Tegal Hilang Tersapu Banjir, Pertanda Apa?

Senin, 26 Januari 2026 | 13.40
Ilustrasi Patung naga di Taman Wisata Alam (TWA) Pancuran 13 obyek wisata Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.
Ilustrasi Patung naga di Taman Wisata Alam (TWA) Pancuran 13 obyek wisata Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Patung Naga Cerek ikon wisata Guci hilang tersapu banjir bandang Sungai Gung. Peristiwa ini memicu beragam spekulasi dan cerita mistis.

SLAWI, puskapik.com - Patung naga di Taman Wisata Alam (TWA) Pancuran 13 obyek wisata Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, hilang disapu banjir pada Sabtu 24 Januari 2026.

Patung Naga Cerek yang hanyut beserta Pancuran 13, Pancuran 5 dan tiga jembatan di Sungai Gung Guci itu, hingga kini belum ditemukan.

Kabat hilangnya patung naga dan patung guci di Pancuran 13, banyak dikaitkan dengan hal-hal mistis. Bahkan, banyak yang membuat meme tentang hilangnya Naga Cerek. Sebagian besar meme yang beredar menyinggung soal kerusakan alam di Guci.

Baca Juga: Butuh Penataan Wisata Guci, Bangunan Tepi Sungai Gung Hingga Pipa Air Panas

Salah satu akun tiktok Lutfi Alfurqon yang memunculkan video pernyataan juru kunci Guci, Mbah Dakon.

Dalam video yang ditonton puluhan ribu itu, Mbah Dakon menceritakan musibah banjir bandang di Sungai Gung Guci.

Mbah Dakon dengan nada tegas menjelaskan dulu tokoh agama dan masyarakat Bojong dan Bumijawa membuat mushola di seberang barat Sungai Gung untuk kegiatan peribadatan. Namun, kini telah berubah menjadi tempat WC.

Baca Juga: Pancuran 13 dan Pancuran 5 Luluh Lantak Diterjang Banjir Bandang, Tiga Jembatan Terputus

"Kyai Kilitik murka mushola dijadikan WC," kata Mbah Dakon.

Padahal, kata Mbah Dakon, mushola banyak manfaatnya, kenapa dibuat WC. Hal itu yang membuat Mbah Kyai Klitik atau Raden Aryo Wiryo, tidak terima, sehingga terjadilah bencana banjir bandang di Sungai Gung Guci.

Sejarah Guci Tegal

Kisah Guci bermula dari Kerajaan Demak Bintoro. Ketika terjadi konflik di kerajaan tersebut, seorang bangsawan bernama Raden Aryo Wiryo dan istrinya, Nyai Tumbu, memutuskan untuk meninggalkan keraton.

Baca Juga: Wisata Guci Ashafana Tegal, Harga Sewa Penginapan Hingga Tenda Camping Ground

Raden Aryo Wiryo, atau yang lebih dikenal sebagai Kyai Ageng Klitik, merupakan keturunan Raja Pertama Demak Bintoro, Raden Patah. Setelah meninggalkan kerajaan, ia melakukan perjalanan ke utara dan sempat berguru kepada Sunan Gunung Jati di Cirebon, sebelum akhirnya menetap di sebuah desa di kaki Gunung Slamet.

Karena desa tersebut belum mengenal ajaran Islam, Raden Aryo Wiryo memberi nama desa tersebut Desa Keputihan.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait