Dilanda Kekeringan, Warga Pulosari Pemalang Beli Air Rp 500 Ribu Agar Bisa Mandi

Kekeringan melanda Desa Pulosari, Pemalang. Warga harus membeli air bersih hingga Rp500 ribu per bulan demi memenuhi kebutuhan mandi dan rumah tangga.
PEMALANG, puskapik.com – Kekeringan dampak musim kemarau mulai dirasakan warga Desa Pulosari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Warga bahkan harus merogoh kocek Rp 500 ribu untuk membeli air bersih.
Krisis air bersih menjadi masalah tahunan warga Pulosari setiap musim kemarau tiba, terutama bagi warga yang tidak memiliki sumur maupun akses sumber mata air.
Di kawasan dataran tinggi tersebut, ketersediaan air menjadi persoalan utama ketika curah hujan menurun. Warga yang sebelumnya mengandalkan tampungan air hujan harus mencari alternatif lain.
Baca Juga: 467 Murid Baru MAN 2 Brebes Ikuti MATAMUDA, Dibekali Karakter Hadapi Era Digital
Salah seorang warga Desa Pulosari, Plenong (28), menuturkan, krisis air yang terjadi saat ini sudah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
"Sudah sekitar dua sampai tiga bulan ini krisis air. Kadang dapat bantuan, kadang harus beli sendiri," ungkap Plenong saat mengantre bantuan air bersih di Desa Pulosari, Minggu 12 Juli 2026.
Untuk mendapatkan pasokan air bersih, warga harus membeli satu tangki berkapasitas sekitar 6.500 liter dengan harga sekitar Rp250 ribu.
Baca Juga: Nikmati Kuliner Berlatar Empat Gunung, Kuliner Londer Magnet Wisata Baru di Kendal
Air tersebut kemudian disimpan di bak penampungan rumah masing-masing dan digunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga.
Dikatakan Plenong, satu tangki air bersih umumnya hanya cukup digunakan selama dua pekan, sehingga dalam sebulan warga bisa menghabiskan dua tangki air bersih untuk memenuhi kebutuhannya.
"Kalau beli sekitar Rp250 ribu per tangki. Biasanya cukup dua minggu, jadi sebulan bisa habis sekitar Rp500 ribu," ujarnya.
Dirinya menjelaskan hampir seluruh warga di desanya menghadapi persoalan yang sama. Ketika musim hujan, masyarakat masih bisa mengandalkan tampungan air hujan.
Namun saat kemarau datang dan cadangan air menipis, mereka harus membeli air atau menunggu bantuan distribusi air bersih.
Meski bantuan air bersih dari berbagai pihak beberapa kali datang, Plenong menilai bantuan tersebut belum mampu menjadi solusi jangka panjang bagi kebutuhan warga.
"Harapannya ada sumber air atau jaringan PAM yang bisa mengalir lagi ke sini. Dulu pernah ada, tapi sudah lama mati," ungkapnya.


