Suhu Udara Malam di Pemalang Bikin Menggigil, Ini Penyebabnya

Minggu, 12 Juli 2026 | 07.07
puskapik

Suhu malam di Pemalang terasa lebih dingin akibat puncak musim kemarau. BMKG menyebut minimnya tutupan awan membuat panas Bumi cepat terlepas sehingga udara menggigil.

PEMALANG, puskapik.com – Sejumlah wilayah di Jawa Tengah dalam beberapa waktu terakhir mengalami fenomena cuaca yang cukup kontras. Suhu udara terasa sangat dingin saat malam hingga pagi.

Fenomena tersebut bahkan menjadi perbincangan di media sosial setelah ramai postingan tanaman sayuran di kawasan dataran tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, membeku dan bersalju.

Kondisi serupa juga dirasakan di Kabupaten Pemalang. Suhu udara saat malam mencapai 20 derajat celcius di wilayah perkotaan. Sementara saat siang suhu meningkat hingga 31 derajat celcius.

Baca Juga: Nostalgia Ahmad Luthfi Bersama Purnawirawan Polri di Batang, Terkenang saat Jabat Kapolres, Hafal Nama Kades

Analis Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Zauyik, mengatakan penurunan suhu udara yang dirasakan masyarakat berkaitan erat dengan periode puncak musim kemarau.

Menurutnya, sebagian besar wilayah Jawa Tengah diperkirakan memasuki puncak musim kemarau pada Juli hingga Agustus 2026.

Situasi tersebut memengaruhi karakteristik suhu harian, yakni udara terasa lebih dingin saat malam hingga pagi hari, namun tetap panas ketika siang hari.

Baca Juga: Ayo! Nobar Piala Dunia Argentina vs Swiss di Pendopo Pemalang Besok Pagi

Zauyik menjelaskan, kondisi langit yang relatif cerah dan minim awan pada malam hari menjadi salah satu faktor utama penyebab suhu udara turun lebih drastis.

"Sehingga suhu udara turun secara drastis pada dini hari," terangnya, Kamis 9 Juli 2026.

Ia menambahkan, selama musim kemarau tutupan awan umumnya sangat sedikit. Akibatnya, pada siang hari permukaan Bumi menerima dan menyerap panas matahari secara maksimal.

Namun saat malam hari, panas yang telah tersimpan di permukaan Bumi mudah dilepaskan kembali ke atmosfer karena tidak ada lapisan awan yang dapat menahan panas tersebut.

Proses tersebut dikenal sebagai radiasi balik gelombang panjang.

Kondisi itu menyebabkan suhu udara di permukaan menurun dengan cepat dan mencapai titik terendahnya menjelang pagi.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait