Ketika Pembelajaran Koding Diterapkan pada Anak di Sekolah

Selasa, 7 April 2026 | 17.15
Iqbaal Harits Maulana
Iqbaal Harits Maulana

penguatan mata pelajaran koding dan kecerdasan artifisial seharusnya ditempatkan sebagai sarana, bukan tujuan saat diajarkan masuk sekolah

Penulis : Iqbaal Harits Maulana (Penulis Buku MAYANTARA “Berlayar di Samudra Digital”, & Pandu Literasi Digital*

puskapik.com - Di tengah pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) minggu-minggu ini yang dirancang sebagai pemetaan capaian akademik dan alat diagnosis pembelajaran, ada pertanyaan yang menarik perhatian, yaitu bagaimana kondisi fondasi kemampuan bernalar peserta didik.

Karena di saat yang sama, negara melalui Kemendikdasmen mulai memasukkan koding dan kecerdasan artifisial ke ruang kelas sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi muda menghadapi perkembangan teknologi global.

Kebijakan ini kerap dipahami sebagai langkah maju, dengan janji siswa akan lebih siap menghadapi masa depan yang serba digital.

Namun, di balik optimisme tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang jarang diajukan secara terbuka, apakah sekolah benar-benar sedang mengajarkan anak untuk berpikir atau sekadar mengajarkan mereka mengikuti teknologi?

Baca Juga: Campak Hantui Warga Tegal, Tandanya Demam, Sakit Tenggorokan, dan Ruam

Pertanyaan ini penting karena pendidikan tidak bekerja dalam hitungan singkat.

Pendidikan membentuk cara anak memahami dunia, memecahkan persoalan, dan memaknai pengetahuan dalam jangka panjang.

Ketika teknologi diperkenalkan tanpa fondasi berpikir yang matang, pendidikan berisiko bergeser menjadi pelatihan teknis.

Anak terlihat aktif, layar menyala, tugas selesai, tetapi proses bernalar yang seharusnya menyertai pembelajaran sering kali tipis, bahkan nyaris tidak terjadi.

Kekhawatiran ini bukan sekadar opini. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 menunjukkan capaian pelajar Indonesia masih berada jauh di bawah rata-rata negara OECD.

Skor matematika Indonesia tercatat sekitar 366, literasi membaca 359, dan sains 383.

Yang lebih mengkhawatirkan, sejak pertama kali Indonesia mengikuti PISA pada awal 2000-an, peningkatan capaian tersebut cenderung lambat dan stagnan.

Pandemi Covid-19 memang memberi dampak besar, tetapi pandemi seharusnya menjadi ujian ketahanan sistem pendidikan.

Jika fondasi berpikir peserta didik telah kuat, gangguan pembelajaran sementara tidak semestinya berujung pada penurunan kualitas yang signifikan.

Gambaran tersebut terasa nyata di ruang kelas. Banyak ditemukan pelajar yang mampu mengikuti langkah-langkah prosedural selama bentuk soal masih serupa dengan contoh yang diberikan guru.

Namun, ketika soal disajikan dalam bentuk cerita sederhana yang menuntut penalaran dan interpretasi konteks, mereka kerap kehilangan arah. Mereka mengetahui rumus, tetapi tidak selalu memahami alasan di balik penggunaannya.

Pembelajaran terlalu lama menekankan kepatuhan pada prosedur, bukan pemahaman atas konsep dan relasi antargagasan.

Di tingkat pelaksanaan, tantangan juga muncul. Di sejumlah daerah, mata pelajaran koding belum berjalan optimal, bahkan cenderung mandek, bukan karena penolakan, melainkan keterbatasan.

Baca Juga: Minim Penerangan dan Faktor Human Error Picu 25 Kecelakaan di Kendal

Banyak guru sekolah dasar mengaku kebingungan harus memulai dari mana, sementara pendampingan dan pelatihan belum merata.

Pengalaman pendampingan literasi digital di tingkat akar rumput menunjukkan bahwa penguasaan alat kerap berkembang lebih cepat dibandingkan kemampuan bernalar.

Akibatnya, pembelajaran sering berhenti pada pengenalan aplikasi, tanpa sempat menyentuh proses berpikir yang seharusnya menjadi inti.

Persoalan ini tidak berhenti di ruang kelas sekolah dasar. Ketika fondasi berpikir dibangun secara prosedural sejak awal, pola yang sama cenderung terbawa ke jenjang berikutnya. Tidak sedikit mahasiswa yang masih kesulitan menulis gagasan secara runtut dan sistematis. Ide sebenarnya ada, tetapi sulit dituangkan dalam struktur tulisan yang logis dan koheren. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir mendalam belum tertanam secara konsisten sejak pendidikan dasar.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan utama pendidikan bukan terletak pada kurangnya teknologi, melainkan pada cara berpikir yang belum terlatih sejak dini. Berpikir komputasional kerap disalahpahami sebagai kemampuan menulis kode. Padahal, koding hanyalah bentuk penerapan teknis. Inti berpikir komputasional terletak pada kemampuan memecah masalah, mengenali pola, melakukan abstraksi, dan menyusun langkah penyelesaian. Menariknya, kemampuan ini sejatinya tumbuh secara alami dalam kehidupan sehari-hari anak, jauh sebelum mereka mengenal perangkat digital.

Anak belajar berpikir ketika diminta merapikan mainan, mengenali pola dari rutinitas harian, atau menyaring informasi saat menceritakan kembali sebuah kisah. Semua ini merupakan latihan berpikir yang sederhana, tetapi mendasar, dan tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun. Masalah muncul ketika proses alami tersebut tergeser oleh pembelajaran berbasis digital yang terlalu dini dan terlalu dominan.

Di era kecerdasan artifisial, kekeliruan arah ini menjadi semakin berisiko. AI mampu menulis, menghitung, bahkan membuat kode program dengan cepat. Jika anak hanya diajari menggunakan teknologi, mereka akan kalah cepat dari teknologi itu sendiri. Perbedaan mendasar antara manusia dan mesin bukan terletak pada kecepatan, melainkan pada kemampuan memahami konteks, menilai kebenaran, dan mengambil keputusan secara etis.

Karena itu, penguatan mata pelajaran koding dan kecerdasan artifisial seharusnya ditempatkan sebagai sarana, bukan tujuan. Pada pendidikan dasar, fokus utama perlu diarahkan pada penguatan cara berpikir melalui aktivitas yang melatih pemecahan masalah, pengenalan pola, dan penyusunan langkah secara runtut, termasuk melalui pendekatan non-digital. Dengan pendekatan ini, sekolah tidak dipaksa mengejar kecanggihan teknologi, sementara guru tetap memiliki ruang untuk membangun fondasi berpikir peserta didik secara bertahap dan bermakna.

Teknologi akan terus berubah. Bahasa pemrograman berganti, platform datang dan pergi. Namun, anak yang sejak dini dibiasakan berpikir runtut, kritis, dan reflektif akan mampu beradaptasi dengan apa pun yang hadir. Masa depan tidak membutuhkan anak yang paling cepat mengenal koding, melainkan anak yang tetap mampu berpikir jernih ketika teknologi gagal memberi jawaban.***