Agenda Ruwat Bumi Guci Tegal, Inilah Rangkaian, Jadwal dan Makna

Ruwat Bumi Guci 2026 hadirkan resik bumi, tanam pohon, festival hadroh, kirab gunungan, hingga larung sesaji sebagai wujud syukur dan pelestarian budaya.
SLAWI, puskapik.com - Tahun Baru Islam 1 Muharram atau orang Jawa menyebutnya bulan Suro, biasanya digunakan untuk merawat serta melestarikan tradisi dan budaya masyarakat.
Di kawasan obyek wisata air panas Guci, digelar berbagai kegiatan yang dimulai sejak 12 Juni 2026 hingga 17 Juni 2026.
Berikut agenda kegiatan ruwat bumi Guci.
Baca Juga: Berhasil di 2025, Program JAPFA For Kids Kembali Dijalankan di Margasari Tegal, Sasaran 3.053 Siswa
Resik Bumi
Resik bumi yang digelar pada 12 Juni 2026, yakni kegiatan membersihkan sungai dan lingkungan sekitar kawasan wisata Guci.
Ratusan warga, pelaku wisata, hingga komunitas pecinta lingkungan turun langsung memunguti sampah dan membersihkan aliran sungai.
Bagi warga Guci, membersihkan alam bukan sekadar pekerjaan fisik. Ada filosofi yang menyertainya.
Sungai yang bersih menjadi simbol hati yang bersih, sementara lingkungan yang terjaga menjadi bentuk tanggung jawab manusia terhadap alam yang telah memberi kehidupan.
Baca Juga: Pemilihan BPD Desa Pangkah Tegal Diikuti 19 Bakal Calon
Nandur Kekayon
Semangat menjaga alam berlanjut melalui kegiatan nandur kekayon atau penanaman pohon pada 13 Juni 2026. Bibit-bibit tanaman ditanam di sejumlah titik kawasan wisata sebagai upaya menjaga kelestarian ekosistem sekaligus memperkuat kawasan hijau di sekitar lereng Gunung Slamet.
Festival Hadroh dan Dialog Budaya
Di sela agenda pelestarian lingkungan, nuansa religius dan budaya juga mengisi rangkaian acara pada 14 Juni 2026. Festival hadroh yang diikuti sekitar 30 kelompok dari berbagai wilayah Kabupaten Tegal akan menggema di kawasan wisata.
Tabuhan rebana dan lantunan shalawat menjadi pengingat bahwa budaya dan nilai-nilai spiritual tumbuh berdampingan di tengah masyarakat.
Tak hanya itu, dialog budaya yang menghadirkan tokoh agama dan budayawan juga akan digelar.
Forum tersebut menjadi ruang untuk merawat ingatan kolektif masyarakat mengenai sejarah, nilai, dan filosofi yang terkandung dalam tradisi ruwat bumi.
Ziarah Makam, Istiqhozah, Nyiwer dan Larung
Puncak sakralitas tradisi berlangsung pada 15 Juni 2025. Warga akan melakukan ziarah ke makam Mbah Klitik dan para sesepuh yang diyakini memiliki peran penting dalam sejarah kawasan Guci.
Setelah itu, masyarakat mengikuti istigasah di Dukuh Pekandangan, Desa Rembul, dan Desa Guci yang dipadukan dengan prosesi nyiwer atau larung sesaji.
Prosesi ini menjadi salah satu inti ritual ruwat bumi. Doa-doa dipanjatkan sebagai harapan agar masyarakat terhindar dari bencana, diberi kesehatan, dan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.
Suasana semakin khidmat ketika upacara adat penyembelihan kambing kendit digelar di Gunung Kelir. Hewan tersebut kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Tradisi yang diwariskan turun-temurun itu menjadi bukti kuatnya nilai gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat Guci.
Korab Gunungan, Upacara Adat, Karnaval Budaya
Ruwat Bumi Guci tidak hanya menyuguhkan ritual sakral. Kemeriahan juga hadir melalui Kirab Gunungan Hasil Bumi yang selalu menjadi magnet wisatawan yang digelar pada 16 Juni 2026.
Gunungan berisi hasil pertanian dan perkebunan warga akan diarak melintasi dua rute berbeda.
Dari Dukuh Pekajangan, Desa Rembul menuju area parkir UPTD Guci, serta dari Desa Guci menuju Kantor UPTD Guci.
Ribuan pasang mata biasanya memadati sepanjang jalur kirab untuk menyaksikan warna-warni hasil bumi yang menjadi simbol kemakmuran masyarakat lereng Slamet.
Di penghujung acara, pesta rakyat dan berbagai hiburan tradisional akan menutup seluruh rangkaian kegiatan.
Masyarakat lokal dan wisatawan akan berbaur menikmati suasana kebersamaan yang jarang ditemukan di destinasi wisata lain.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Tegal Akhmad Uwes Qoroni mengatakan, tidak sekadar agenda budaya, Ruwat Bumi Guci juga terbukti menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
Hotel, homestay, pedagang kaki lima, hingga pelaku UMKM mulai merasakan dampak positif meningkatnya kunjungan wisatawan.
Menurut Uwes, promosi yang dilakukan pemerintah daerah bersama masyarakat mulai menunjukkan hasil menggembirakan.
Volume kunjungan wisatawan ke Guci terus mengalami peningkatan, terutama pada akhir pekan.
"Peningkatan kunjungan ini khususnya terlihat sangat melonjak di hari Sabtu dan Minggu," katanya. **