Kasus HIV di Kabupaten Tegal Tembus 1.062 Kasus HIV, Kelompok LSL Menyumbang 70 Persen

Jumlah ODHIV di Kabupaten Tegal mencapai 1.062 orang hingga Mei 2026. Dinkes memperkuat pendampingan, pengobatan ARV, dan edukasi guna menekan penularan HIV.
SLAWI, puskapik.com – Jumlah Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kabupaten Tegal yang hidup dan mengetahui statusnya kini menembus angka 1.062 orang hingga Mei 2026. Jumlah tersebut tersebar di 29 Puskesmas di Kabupaten Tegal.
Data terbaru dari Dinas Kesehatan ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah dalam memetakan penyebaran virus tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, Edy Sucipto, mengungkapkan bahwa berdasarkan data terbaru tahun 2026, kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL) menjadi populasi dengan faktor risiko penularan tertinggi di wilayah tersebut. Kelompok ini menyumbang sekitar 70 persen dari total kasus yang tercatat.
Baca Juga: Lagi Diperbaiki, Jembatan Sungai Pedes Tegal Kembali Diterjang Banjir
Ia menjelaskan, fenomena LSL tidak hanya terjadi di Kabupaten Tegal, tetapi juga terjadi di berbagai daerah di Indonesia.
Perilaku berisiko seksual menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan peluang penularan HIV pada kelompok tersebut.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan, Puskesmas Slawi menjadi wilayah dengan jumlah temuan ODHIV tertinggi, yakni 79 kasus.
Dari jumlah tersebut, 73 orang masih hidup dan mengetahui statusnya, sementara 70 orang telah menjalani pengobatan.
Baca Juga: Jangan Ada Diskriminasi, Ahmad Luthfi Dorong Kesempatan Kerja Setara bagi Difabel
Posisi kedua ditempati Puskesmas Margasari dengan 53 kasus ODHIV. Sebanyak 34 orang di antaranya masih hidup dan telah mengetahui status kesehatannya.
Menanggapi situasi ini, Dinkes Kabupaten Tegal telah menjalankan tiga langkah intervensi utama guna menekan angka penularan dan menjaga kualitas hidup pasien diantaranya mengadakan pertemuan berkala dengan menggelar forum khusus ODHIV melalui Kelompok Dukungan Sebaya (KDS), memonitor secara ketat ketersediaan obat Antiretroviral (ARV) dan melakukan pendampingan, mentoring, dan pengawasan langsung ke fasilitas layanan HIV.
Edy Sucipto juga mengapresiasi peran besar Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Pendukung Sebaya, sesama ODHIV yang kondisinya telah stabil dan teredukasi dalam mengawal pengobatan pasien.
"Karena memiliki latar belakang pengalaman yang sama, komunikasi yang terbangun dinilai lebih efektif dan bebas dari stigma," terangnya, Selasa, 2 Juni 2026.
Peran penting pendukung sebaya ini terbagi dalam lima fokus utama, yang pertama berupa dukungan psikososial dengan menjadi pendengar yang tidak menghakimi guna mengatasi fase penolakan (denial), ketakutan, dan depresi pada pasien yang baru terdiagnosis. Mereka memberikan motivasi nyata bahwa ODHIV bisa tetap hidup sehat dan produktif.
Dua, edukasi dan literasi kesehatan. Mereka


