Tradisi 10 Muharram di Dukuhsalam Tegal, Warga Arak-Arakan Gunungan Hasil Bumi dan Tahlil di Dua Makam Kramat

Jumat, 26 Juni 2026 | 08.24
Warga Desa Dukuhsalam, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal arak-arakan keliling desa untuk memperingati 10 Muharram 1448 H atau tahun 2026, Kamis malam 25 Juni 2026. (Guntur)
Warga Desa Dukuhsalam, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal arak-arakan keliling desa untuk memperingati 10 Muharram 1448 H atau tahun 2026, Kamis malam 25 Juni 2026. (Guntur)

Warga Dukuhsalam, Slawi, Tegal menggelar tradisi 10 Muharram dengan arak-arakan gunungan hasil bumi, tahlil di makam leluhur, dan santunan anak yatim.

SLAWI, puskapik.com - Semangat melestarikan tradisi dan mengenang jasa para leluhur terus dijaga masyarakat Desa Dukuhsalam, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal.

Dalam rangka memperingati 10 Muharram 1448 H atau tahun 2026, warga menggelar tradisi sedekah bumi yang dipadukan dengan santunan anak yatim serta doa bersama untuk para leluhur pendiri Desa Dukuhsalam..

Kegiatan yang berlangsung meriah ini diawali dari kawasan Makam Karangasem atau Makam Dawa.

Baca Juga: Bupati Tegal Rotasi 7 Pejabat Eselon II, Tegaskan Tak Ada Jual Beli Jabatan, Ini Daftarnya

Ratusan warga kemudian mengikuti arak-arakan keliling desa sambil membawa gunungan hasil bumi yang menjadi simbol rasa syukur atas rezeki dan hasil pertanian yang diperoleh masyarakat.

Keunikan prosesi semakin terasa dengan iringan obor yang menerangi perjalanan rombongan.

Usai arak-arakan, warga menggelar tahlil di Makam Dawa dan Makam Ketuagung atau Makam Iwil-iwil. Mereka mengirim doa kepada para leluhur pendiri desa.

Kepala Desa Dukuhsalam, Mayor Wahyudi mengatakan, kegiatan tersebut merupakan upaya mengenalkan sejarah dan asal-usul desa kepada generasi muda sekaligus menjaga warisan budaya yang telah diwariskan turun-temurun.

Baca Juga: Peringati Hari Bhayangkara ke-80, Polres Batang Gelar Doa Bersama Lintas Agama

“Melalui kegiatan ini kami ingin mengenalkan para leluhur Desa Dukuhsalam kepada masyarakat, terutama generasi muda. Selain itu, tradisi sedekah bumi dan peringatan 10 Muharram ini menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya yang telah ada sejak lama,” ujarnya.

Menurut Mayor Wahyudi, kegiatan tersebut juga menjadi momentum memperkuat kebersamaan warga sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial melalui pemberian santunan kepada anak-anak yatim.

Ia menambahkan, salah satu situs bersejarah yang menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut adalah Makam Dawa. Hingga saat ini, penataan dan pembangunan kawasan makam masih terus dilakukan secara bertahap melalui swadaya masyarakat.

“Semangat gotong royong masyarakat sangat luar biasa. Pengembangan Makam Dawa masih berproses dan dilakukan secara swadaya oleh warga sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur,” pungkasnya. **

Artikel Terkait