Belajar Diam di Kota Tegal yang Tak Pernah Berhenti

Minggu, 17 Mei 2026 | 12.41 WIB
Praktisi meditasi Hernandes Saranela, membuka kelas meditasi mindful sunday di Spasi Creative Space, Jalan Waru, Kelurahan Mintaragen, Kecamatan Tegal Timur, Minggu 17 Mei 2026.
Praktisi meditasi Hernandes Saranela, membuka kelas meditasi mindful sunday di Spasi Creative Space, Jalan Waru, Kelurahan Mintaragen, Kecamatan Tegal Timur, Minggu 17 Mei 2026.

Puluhan warga di Kota Tegal ikuti meditasi Mindful Sunday, belajar diam dan mengenali diri di tengah hiruk pikuk kehidupan modern.

TEGAL, puskapik.com - Pagi itu, suasana di sebuah sudut Kota Tegal terasa berbeda. Tidak ada suara riuh percakapan, tidak pula dering ponsel yang saling bersahutan.

Puluhan orang duduk bersila, memejamkan mata, mencoba kembali pada satu hal yang kian jarang dilakukan, diam.

Di tengah kehidupan yang serba cepat, aktivitas sederhana itu justru terasa asing.

Baca Juga: Lebih dari 18 Ribu Orang Gunakan KA di Stasiun Pekalongan selama Libur Panjang Kenaikan Yesus Kristus

TeaterQi bersama Spasi Creative Space menggelar sesi meditasi Mindful Sunday, Art of Returning to True Self di Jalan Waru, Kelurahan Mintaragen, Kecamatan Tegal Timur, Minggu 17 Mei 2026.

Kegiatan ini dipandu praktisi meditasi Hernandes Saranela, yang mengajak peserta untuk kembali mengenali tubuh dan pikirannya.

"Selama ini kita hidup dalam tuntutan untuk terus bergerak cepat. Seolah-olah diam itu aneh. Padahal semua berawal dari diam," kata Hernandes.

Baca Juga: Bupati Tegal Dorong Kebangkitan Ekonomi Lewat 218 Koperasi Merah Putih

Bagi Hernandes, diam bukan sekadar berhenti dari aktivitas, melainkan ruang untuk menyadari apa yang selama ini terlewat.

Hernandes sendiri mengaku menemukan meditasi sebagai jalan keluar dari fase hidup yang penuh tekanan.

Hernandes melihat, dunia yang bergerak cepat membuat pikiran manusia ikut berlari tanpa henti. Sementara tidak semua orang memiliki daya tahan mental yang sama.

"Hari ini banyak penyakit bermula dari pikiran. Ketika pikiran tidak mampu merespons, tubuh yang akan ‘membentuk’ itu," ujar Hernandes.

Menurut Hernandes, manusia kerap terlalu memuja pikiran sebagai pusat kendali, namun lupa mendengarkan tubuhnya sendiri.

"Kalau tubuh bisa bicara, mungkin dia sudah bilang capek. Tapi kita terus memaksanya, karena pikiran merasa masih bisa jalan," kata Hernandes.

Dalam sesi tersebut, Hernandes memperkenalkan metode meditasi anapana, teknik yang berfokus pada kesadaran napas.

Metode ini, kata Hernandes, bukan hanya melatih pikiran, tetapi juga mengembalikan koneksi dengan tubuh.

Hernandes mencontohkan pengalamannya saat menjalani meditasi vipassana, yang menuntut latihan hingga 13 jam per hari selama 10 hari tanpa komunikasi dan tanpa gawai.

Dari situ, Hernandes mulai memahami batas antara rasa sakit yang nyata dan yang diciptakan oleh pikiran.

"Tujuannya supaya pikiran tahu batasnya. Kita jadi bisa membedakan mana sakit yang benar, mana yang hanya berasal dari pikiran," ujar Hernandes.

Perubahan itu tidak datang seketika, namun perlahan terasa. Hernandes mengaku kini lebih mampu mengelola emosi dibanding sebelumnya.

"Dulu kalau marah bisa langsung meledak. Sekarang, sebelum itu terjadi, tubuh seperti memberi sinyal dulu," kata Hernandes.

Menariknya, kegiatan ini diikuti mayoritas perempuan. Di antara mereka, meditasi menjadi ruang untuk sejenak keluar dari tekanan, baik pekerjaan, keluarga maupun tuntutan sosial yang seringkali tak terlihat.

Fenomena ini, menurut Hernandes, menunjukkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, terutama di kalangan perempuan.

"Antusiasme ibu-ibu cukup tinggi. Tinggal bagaimana kita menyampaikan meditasi ini dengan cara yang tidak kaku," ujar Hernandes.

Hernandes juga menyoroti anggapan bahwa meditasi kerap dianggap eksklusif atau mahal.

Padahal, praktik kesadaran diri tersebut sebenarnya dekat dengan budaya lokal.

"Dulu orang Jawa juga punya pendekatan meditasi yang kuat. Tapi sekarang seolah harus mahal atau dikaitkan dengan ajaran tertentu," kata Hernandes.

Bagi pria kelahiran Bumiayu, Kabupaten Brebes ini, yang terpenting bukanlah metode, melainkan konsistensi untuk kembali menyadari diri.

Sementara itu, Pembina TeaterQi, Rudi Iteng, melihat meditasi memiliki keterkaitan erat dengan dunia seni peran.

Dalam teater, kata Rudi, aktor dituntut untuk mampu mengolah rasa dan menekan ego.

"Teater itu belajar olah rasa. Meditasi membantu kita menemukan ketenangan dan membuka imajinasi," ujar Rudi.

Menurut Rudi, latihan meditasi dapat membantu aktor lebih dalam memahami karakter yang dimainkan, sekaligus mengendalikan egonya.

"Meditasi bisa meredam ego seorang aktor. Itu penting," kata Rudi. **