Cikal Bakal Asrama Brimob Tegal, Tempati Rumah Van Tirus

Minggu, 28 Desember 2025 | 02.36
Cikal Bakal Asrama Brimob Tegal, Tempati Rumah Van Tirus

TEGAL, puskapik.com - Asrama Brimob Tirus Kota Tegal, menyimpan sejarah panjang sebagai cikal bakal keberadaan Batalion Kompi C 309. Kawasan asrama ini berdiri di atas lahan milik seorang pengusaha as...

TEGAL, puskapik.com - Asrama Brimob Tirus Kota Tegal, menyimpan sejarah panjang sebagai cikal bakal keberadaan Batalion Kompi C 309. Kawasan asrama ini berdiri di atas lahan milik seorang pengusaha asal Belanda bernama Van Tirus, yang dikenal dermawan karena menghibahkan tanahnya kepada Polda Jawa Tengah. Van Tirus, yang belakangan diketahui memiliki nama panggilan Magdalena Van Thierus, sebelumnya menempati sebuah rumah besar di kawasan tersebut. Bangunan utama itulah yang kemudian dimanfaatkan sebagai asrama Brimob pada awal pendiriannya. Salah satu penghuni lama Asrama Brimob Tirus, Teddy SM, menuturkan bahwa pembangunan asrama dimulai pada tahun 1963. Teddy bersama sang ayah, Peltu Moedjiono, menjadi penghuni awal sejak tahun 1966. "Bapak saya termasuk penghuni pertama dari Pulau Jawa," ujar Teddy kepada puskapik.com, Sabtu 27 Desember 2025. Pada masa awal, wilayah Asrama Brimob Tirus masih masuk Kecamatan Sumurpanggang, Kabupaten Tegal. Seiring pemekaran wilayah, kawasan tersebut kemudian menjadi bagian dari Kelurahan Debong Lor, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal. Menurut Teddy, rumah utama peninggalan Van Tirus digunakan sebagai asrama bagi personel Brimob muda lulusan Sekolah Polisi Negara atau SPN. "Selain untuk anggota Brimob, tempat ini menjadi titik awal bagi lulusan SPN Banyubiru dan SPN Purwokerto," kata Teddy. Bangunan utama tersebut terdiri dari ruang rapat dan enam kamar tidur. Setiap kamar dapat dihuni hingga enam personel, dengan kondisi sederhana karena masih beralaskan papan. Di bagian belakang bangunan terdapat dapur, sumur serta kamar mandi yang disekat untuk kebutuhan personel dan penghuni asrama. Seiring waktu, bangunan utama itu kemudian dialihfungsikan menjadi Masjid Nurul Iman dan terus mengalami renovasi dari tahun ke tahun. Selain bangunan utama, terdapat pula deretan rumah asrama di sisi Utara kawasan. Rumah-rumah tersebut tersusun dua baris, masing-masing terdiri dari dua kamar, ruang tamu di bagian depan serta dapur dan sumur di bagian belakang. Pada tahun 1966, Teddy yang masih duduk di bangku sekolah dasar mengingat bahwa mayoritas penghuni asrama berasal dari Sumatera. Lingkungan sekitar asrama saat itu masih berupa kebun dan lahan terbuka, bahkan terdapat lapangan voli. "Jalan di depan asrama utama yang sekarang jadi masjid dulu masih berupa lumpur," kenang Teddy. Sementara itu, area di sisi Utara masjid masih berupa kebun dan sawah yang dikelola oleh juru kunci bernama Mbah Taswadi dan Mbah Marni. Keduanya juga menempati sebuah gubuk di sisi Selatan masjid, yang masih termasuk tanah hibah Van Tirus. Teddy menyebut, saat masjid mulai dibangun, personel Brimob yang baru rata-rata sudah dipindahkan ke Asrama Polres Tegal Kota. Teddy juga menggambarkan kondisi Jalan Kapten Sudibyo di tikungan Tirus yang dahulu masih dipenuhi kebun dengan berbagai tanaman seperti mangga, kelapa, kedondong, pisang, sirsak, belimbing, klengkeng, hingga nangka. Kehidupan sosial di asrama kala itu terbilang akrab. Setiap ada lulusan Brimob baru, biasanya diadakan syukuran pada malam Minggu. "Masak-masak, makan bersama. Saya pernah disuruh beli gula jawa dan manjat pohon kelapa buat bikin bajigur," ujar Teddy sambil tersenyum. Menariknya, kebun dan sawah yang dikelola Mbah Taswadi dan Mbah Marni jarang mengalami pencurian. Warga yang ingin mengambil hasil kebun biasanya terlebih dahulu meminta izin kepada keduanya. Di kawasan Asrama Brimob Tirus juga terdapat tiga makam yang diyakini sebagai makam kakek, nenek dan kerabat Van Tirus. Namun, makam-makam tersebut tidak memiliki tanda maupun nama. Asrama Brimob Tirus terakhir difungsikan sebagai asrama Brimob pada tahun 1978. Pada tahun 1984, kawasan ini sempat digunakan sebagai Asrama Polisi sebelum akhirnya dipindahkan ke Jalan KS Tubun. "Sampai sekarang, rumah-rumah di kawasan Asrama Brimob masih dihuni oleh anak keturunan personel Brimob Batalion Kompi C 309," pungkas Teddy. **

Artikel Terkait