Dari Limbah Logam di Tegal, Edi Waluyo Menempa Karya Seni Bernilai Ratusan Juta

Senin, 29 Desember 2025 | 04.04
puskapik

TEGAL, puskapik.com - Percikan api las memantul di dinding rumah sederhana di Dukuh Banjaranyar, Desa Harjasari, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal, Minggu 28 Desember 2025. Di balik masker las menye...

TEGAL, puskapik.com - Percikan api las memantul di dinding rumah sederhana di Dukuh Banjaranyar, Desa Harjasari, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal, Minggu 28 Desember 2025. Di balik masker las menyerupai kepala Iron Man, Edi Waluyo (37) menunduk fokus, menyatukan potongan demi potongan besi cor yang dingin dan kaku. Dari tangan pria bapak tiga anak inilah, limbah logam yang kerap dipandang tak bernilai justru berubah menjadi karya seni yang diminati pasar internasional, dengan nilai transaksi mencapai ratusan juta rupiah. Pelan tapi pasti, Edi menyusun grey cast iron menjadi figur manekin bergaya figuratif-abstrak kontemporer. Karya setengah jadi itu merupakan pesanan khusus dari pelanggan asal Korea Selatan. Konsepnya menitikberatkan pada garis, ritme dan ruang negatif, dengan susunan besi yang berlapis dan terbuka. Garapan tersebut telah dikerjakan selama dua pekan dan ditargetkan rampung pada 10 Januari 2026. Usaha kriya logam yang digeluti Edi diberi nama El Art. Nama itu bukan sekadar identitas usaha. Huruf E merupakan inisial namanya, Edi, sementara L melambangkan logam. Namun lebih dari itu, ''El'' memiliki akar makna Ilah atau Tuhan dalam bahasa Semit. Dalam pemaknaan Edi, El merujuk pada Allah Yang Maha Perkasa. Edi berharap El Art menjadi usaha yang kuat, kokoh dan mampu bertahan di tengah persaingan industri kreatif. Sementara kata Art menegaskan bahwa seni adalah jiwa dari setiap produk yang dihasilkan. El Art dirintis Edi sejak 2020, bukan sebagai usaha warisan, melainkan buah dari keterdesakan hidup pascapandemi Covid-19. Sebelumnya, Edi sempat menjalankan bisnis oleh-oleh khas Tegal yang dijajakan kepada pengguna jalan tol. Pandemi membuat usaha itu gulung tikar. Dalam kondisi terjepit kebutuhan, Edi bekerja selama tiga bulan di proyek pembangunan. Dari sanalah Edi belajar mengelas secara otodidak. Ketertarikannya pada seni sejak kecil kemudian dipadukan dengan keterampilan teknis tersebut. Pada awalnya, produk El Art masih murni seni. Namun Edi mengaku kebingungan menentukan arah pasar. Masukan dari rekan-rekannya membuat Edi beralih ke seni terapan, karya yang tidak hanya artistik, tetapi juga memiliki fungsi. Perubahan orientasi itu menjadi titik balik perjalanan El Art. Seiring waktu, produk El Art mulai dilirik berbagai pihak, termasuk kementerian. Tahun 2022, El Art berhasil masuk sebagai finalis Apresiasi Kreasi Indonesia atau AKI yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Masih di tahun yang sama, Edi juga meraih Juara 2 Kriya Logam Upcycle dari Kementerian Perindustrian. Keikutsertaan dalam berbagai pameran membuat jejaring El Art semakin luas dan namanya kian dikenal di tingkat nasional. Perjalanan El Art semakin matang setelah Edi bergabung sebagai UMKM binaan Bank Indonesia Tegal pada 2022. Pendampingan yang diterimanya meliputi manajemen usaha, literasi keuangan hingga perluasan jaringan bisnis. Salah satu kendala utama Edi sejak awal adalah keterbatasan alat produksi. Solusi datang ketika Edi dikenalkan dengan Koperasi Tegal Manufaktur Indonesia atau TMI, mitra BI Tegal, di kawasan Lingkungan Industri Kecil atau LIK Takaru. Melalui TMI, Edi dapat memanfaatkan peralatan manufaktur untuk memenuhi pesanan berskala besar dan presisi tinggi. Pesanan dari Bangladesh menjadi tonggak penting bagi El Art. Edi menerima order 1.800 unit jam berbahan plat logam dengan nilai mencapai sekitar Rp 700 juta. Pengiriman dilakukan menggunakan kontainer, menjadi ekspor berskala besar pertama bagi El Art. Sebelumnya, El Art telah melakukan ekspor dalam jumlah kecil. Pesanan ini menjadi lompatan besar sekaligus pembuktian bahwa produk kriya logam asal Tegal mampu bersaing di pasar global. Meski demikian, perjalanan El Art tidak selalu berjalan mulus. Pada akhir 2023, Edi sempat mengalami kerugian akibat pesanan replika senapan semi militer yang akhirnya dikembalikan oleh pembeli. Dari peristiwa itu, Edi belajar pentingnya manajemen bisnis. Melalui pendampingan Bank Indonesia, ia mulai menerapkan sistem down payment atau DP, memperbaiki pengelolaan keuangan serta memahami pentingnya proses onboarding klien. Produk pertama yang mengangkat nama El Art adalah miniatur Vespa berbahan limbah suku cadang motor. Karya inilah yang mengantarkan Edi lolos ke berbagai program nasional. Sementara karya yang paling membanggakan bagi Edi yakni Rotating Gear Clock atau RGC. Jam ini menggunakan gear motor yang benar-benar berfungsi tanpa mengganggu mekanisme jarum jam. Proses observasi memakan waktu sekitar enam bulan dan penyempurnaan hingga satu tahun. RGC dijual seharga Rp 2,1 juta untuk pasar domestik dan dua kali lipat untuk pasar global. Produk ini telah terdaftar sebagai Hak Kekayaan Intelektual atau HKI, bersama produk Owl Clock yang dibanderol Rp 380 ribu. Kini, pangsa pasar El Art mencakup Inggris, Korea Selatan dan Bangladesh. Melalui platform e-commerce seperti Etsy, Google Ads serta website resmi, Edi menjaring pembeli end user. Untuk segmen business to business atau B2B, pameran seperti Trade Expo Indonesia atau TEI menjadi pintu utama. Permintaan sculpture dari Korea Selatan bahkan mencapai nilai Rp 700-800 juta dalam kontrak jangka panjang, dengan pengiriman rutin menggunakan kontainer 20 kaki. Dalam sebulan, El Art mampu membukukan omzet sekitar Rp 100-120 juta, biasanya dari satu hingga dua produk bernilai tinggi. Sukses yang Berdampak dan Target 2026 Bagi Edi, sukses bukan sekadar angka omzet. Edi memilih merangkul tim lokal, termasuk eks narapidana. Menurut Edi, kesuksesan adalah ketika usaha mampu memberi dampak sosial dan membuka lapangan kerja. Menatap 2026, Edi menargetkan penetrasi pasar Eropa Barat, sekaligus membuka peluang kerja sama dengan institusi untuk pembuatan ikon seni. **

Artikel Terkait