Jadwal Resmi Diabaikan, Atlet Porprov Kota Tegal Kehilangan Hak Latihan

Sabtu, 1 November 2025 | 02.07
Jadwal Resmi Diabaikan, Atlet Porprov Kota Tegal Kehilangan Hak Latihan

TEGAL, puskapik.com - Puluhan atlet sepak bola Tim Porprov Kota Tegal dibuat kecewa berat. Sesi latihan terakhir mereka di Lapangan Tegal Timur, Kelurahan Slerok, yang seharusnya digelar Jumat 31 Okto...

TEGAL, puskapik.com - Puluhan atlet sepak bola Tim Porprov Kota Tegal dibuat kecewa berat. Sesi latihan terakhir mereka di Lapangan Tegal Timur, Kelurahan Slerok, yang seharusnya digelar Jumat 31 Oktober 2025, mendadak batal tanpa alasan jelas. Padahal, tim tengah menyiapkan diri menghadapi babak kualifikasi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2025. Harapan menjalani latihan penutup itu pun pupus, setelah lapangan yang sudah dijadwalkan justru digunakan oleh pihak lain. Kekecewaan para atlet semakin dalam karena jadwal penggunaan lapangan sejatinya sudah diatur resmi oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Tegal. Berdasarkan surat Disporapar Nomor 400.4/484, para atlet Porprov dijadwalkan menjalani pemusatan latihan tingkat kota (Puslatkot) selama 19 hari di Lapangan Tegal Timur. Ketua Askot PSSI Tegal, Desty Maniaro Loui, menegaskan pihaknya sudah mengikuti seluruh prosedur. Mereka telah mengajukan surat permohonan pemakaian lapangan sejak 23 Agustus 2025. "Kami sudah bersurat resmi ke Disporapar, dan balasan tertulisnya menyebutkan bahwa kami bisa menggunakan Lapangan Tegal Timur pada beberapa tanggal di September dan Oktober. Tapi sore ini, saat jadwal terakhir latihan, kami malah tidak bisa masuk sama sekali," ungkap Dede, sapaan akrabnya, dengan nada kecewa. Dalam surat balasan, Askot PSSI Tegal dijadwalkan berlatih pada 21, 24, 26 dan 29 September 2025 serta pada tanggal 1, 3, 7, 9, 11, 13, 15, 17, 19, 21, 23, 25, 27, 29, dan 31 Oktober 2025. Namun kenyataan di lapangan berkata lain, para pemain hanya bisa menatap kosong dari pinggir lapangan. Direktur Teknik Askot PSSI Tegal, Nur Said, menyebut kondisi ini ironis dan mencederai semangat pembinaan olahraga daerah. "Menjelang babak kualifikasi Porprov, seharusnya atlet mendapat dukungan penuh, bukan malah terhambat karena urusan teknis seperti tempat latihan. Ini bukan sekali dua kali terjadi," tegasnya. Said menilai persoalan klasik seperti ini menunjukkan lemahnya koordinasi dan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung atlet muda. "Meski kami sudah bersurat resmi dan mengikuti mekanisme, faktanya atlet masih diperlakukan seolah tidak prioritas. Padahal mereka membawa nama Kota Tegal di ajang resmi provinsi," tandasnya. Menyikapi kekecewaan itu, Askot PSSI Tegal berencana melakukan evaluasi besar-besaran, termasuk opsi menyewa lapangan sendiri untuk kegiatan Puslatkot selama satu tahun penuh agar tidak lagi terombang-ambing oleh kebijakan yang tidak konsisten. **

Artikel Terkait