Jejak Sejarah Pecinan Tegal : Dari Perjanjian Giyanti hingga Kelenteng Tek Hay Kiong

Jejak Sejarah Pecinan Tegal : Dari Perjanjian Giyanti hingga Kelenteng Tek Hay Kiong

TEGAL, puskapik.com - Tidak banyak yang tahu, keberadaan Pecinan Tegal ternyata sudah berusia ratusan tahun. Kawasan bersejarah ini lahir tidak lepas dari dinamika politik Jawa pasca Perjanjian Giyant...

TEGAL, puskapik.com - Tidak banyak yang tahu, keberadaan Pecinan Tegal ternyata sudah berusia ratusan tahun. Kawasan bersejarah ini lahir tidak lepas dari dinamika politik Jawa pasca Perjanjian Giyanti 1755 yang memecah Kerajaan Mataram menjadi dua. Sejak saat itu, Tegal masuk ke dalam pengaruh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) dan menjadi rumah bagi komunitas Tionghoa yang meninggalkan jejak budaya hingga kini. Setelah wilayah Tegal jatuh ke tangan VOC, dibentuklah Sistem Opsir Tionghoa yang dipimpin seorang kapitein. Opsir ini bertugas mengurus hak-hak sipil warga Tionghoa, termasuk urusan peribadahan di kelenteng. Dari sinilah muncul tradisi religius yang kuat di kalangan masyarakat Tionghoa Tegal. Menariknya, berbeda dengan daerah lain, Pecinan Tegal tidak memiliki Kong Kwan (kantor resmi opsir Tionghoa). Sebagai gantinya, mereka memiliki semacam “klub house” yang menjadi pusat hiburan, bahkan menampilkan pertunjukan gamelan. Sejarah Kelenteng Tek Hay Kiong Ikon terbesar Pecinan Tegal adalah Kelenteng Tek Hay Kiong, yang dibangun sekitar tahun 1760 oleh Kapitein Souw Pek Gwan. Awalnya bernama Kelenteng Cin Jin Bio, bangunan ini mengalami renovasi besar pada 1837 oleh Kapitein Tan Koen Hway. “Papan prasasti dari 1837 masih ada hingga sekarang. Di situ tercatat perubahan nama menjadi Kelenteng Tek Hay Kiong,” ungkap Rohaniwan Kelenteng, Chen Li Wei Dao Chang. Kelenteng ini dipersembahkan untuk menghormati Kwee Lak Kwa, tokoh yang diyakini mencapai moksa dan mendapat gelar kedewaan laut Tegal, Tek Hay Cin Jin. Bukan hanya jadi pusat ibadah, Kelenteng Tek Hay Kiong juga menyimpan kekayaan budaya. Di sana tersimpan seperangkat gamelan kuno bernama Kyai Naga Mulya berangka tahun 1861. Gamelan ini terakhir digunakan pada perayaan HUT ke-180 kelenteng pada 2017. “Setiap kali ingin memainkannya, kami harus meminta izin dulu kepada Kongco,” kata Chen Li Wei. Kawasan pecinan Tegal Kawasan Pecinan Tegal dulunya terbentang dari Jalan Veteran, DI Panjaitan, MT Haryono hingga Kantor Pos. Rumah-rumah kapitein dan pegawainya menjadi pusat aktivitas sosial masyarakat. Meski kini tradisi di rumah-rumah semakin memudar, masyarakat tetap memusatkan perayaan penting, seperti Imlek dengan membakar kayu gaharu di Kelenteng Tek Hay Kiong. Selain itu, organisasi masyarakat Tionghoa seperti Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) dan Tek Hay Kiong (THK) turut memperkuat ikatan sosial. Setelah THHK bubar, aset-aset budaya dilindungi melalui Yayasan Tri Dharma Tegal yang berdiri sejak 1978. Sejarah panjang Pecinan Tegal juga berkaitan dengan eksodus besar-besaran warga Tionghoa pasca kerusuhan Batavia 1740. Banyak dari mereka melarikan diri ke pesisir utara Jawa, termasuk Tegal. Bukti keberadaan perkampungan Cina ini masih bisa ditelusuri lewat jejak Chinese Camp Street, kebijakan kolonial tahun 1864 dalam sistem Wijkenstelsel. Hingga kini, jejak sejarah itu masih terasa, meski wajah kawasan pecinan sudah banyak berubah. **

Artikel Terkait