Kisah Relawan PMI di Tegal, Latifah Tiga Dekade Mengabdi Untuk Kemanusaian

Jumat, 19 Desember 2025 | 19.45
Kisah Relawan PMI di Tegal, Latifah Tiga Dekade Mengabdi Untuk Kemanusaian

SLAWI, puskapik.com – Letak geografis Kabupaten Tegal yang meliputi pegunungan pantai, membuat daerah ini rawan akan berbagai bencana alam. Kesiapsiagaan bencana tentu sangat dibutuhkan, mengingat den...

SLAWI, puskapik.com – Letak geografis Kabupaten Tegal yang meliputi pegunungan pantai, membuat daerah ini rawan akan berbagai bencana alam. Kesiapsiagaan bencana tentu sangat dibutuhkan, mengingat dengan letak geografi Kabupaten Tegal ini. Namun di balik kesiapsiagaan penanggulangan bencana di Kabupaten Tegal ini, terdapat sosok perempuan tangguh yang telah mendedikasikan lebih dari tiga dekade hidupnya untuk kemanusiaan. Wanita perkasa ini adalah Latifah. Ia mengabdikan diri untuk kemanusiaan di PMI Kabupaten Tegal. Ia juga dipercaya menduduki jabatan Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan Masyarakat dan Penanggulangan Bencana. Kecintaan Latifah pada dunia kemanusiaan ini di mulai saat masih duduk di bangku SMK tahun 1991. Saat itu ia bergabung sebagai relawan PMI. Rasa senang membantu sesama mendorongnya untuk terjun dan mengabdikan diri. Karier profesional Latifah di PMI, dimulai pada tahun 1994. Meski kini telah berstatus karyawan PMI, tetapi jiwanya tetaplah seorang relawan. "Bencana bisa terjadi kapan saja, saat kita tidur malam atau hari libur. Sebagai petugas PMI, ponsel harus selalu aktif 24 jam untuk merespons keadaan darurat," ujar Latifah kepada puskapik.com Data PMI menyebutkan, tren bencana tertinggi di Kabupaten Tegal saat ini adalah kasus rumah roboh akibat cuaca ekstrem. Ini lantaran struktur bangunan yang lapuk. Kemudian, di susul kebakaran yang mayoritas dipicu oleh korsleting listrik. Memasuki musim penghujan, Latifah juga memberikan atensi khusus pada wilayah langganan banjir seperti Sidaharja dan sekitarnya. Latifah menceritakan, pengamalammnya terjun untuk kemanusiaan tidak hanya sebatas di lingkup lokal. Ia pernah di terjunkan ke berbagai lokasi bencana nasional. Mulai dari erupsi Gunung Merapi tahun 1994, gempa Padang hingga penanganan likuifaksi di Sulawesi Tengah. Tak tanggung tanggung, ia terjun ke lokasi bencana selama satu bulan penuh. Di lokasi bencana itu, ia bertugas mengoordinasi logistik hingga membantu penyatuan keluarga yang terpisah akibat bencana. Yakni, melalui program Restoring Family Links (RFL). Latifah mengimbau, masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan mandiri di fase pra-bencana. "Selain menjaga kebersihan lingkungan agar tidak banjir, penting bagi masyarakat untuk mulai mengamankan dokumen-dokumen berharga dalam satu tas khusus yang mudah dievakuasi," pesannya. Ia juga mendorong generasi muda untuk aktif berorganisasi guna melatih empati dan kemampuan kerja sama tim, hal yang menurutnya tidak didapatkan hanya dari bangku akademis semata. **

Artikel Terkait