Malam Penuh Pesona di Pesurungan Kidul Tegal, Patra Ganesha Merajut Cinta Budaya Nusantara
Senin, 3 November 2025 | 12.20

TEGAL, puskapik.com – Udara Sabtu malam 1 November 2025 di Balai Kelurahan Pesurungan Kidul terasa berbeda dari biasanya. Di bawah temaram lampu dan alunan gamelan yang lembut, ratusan warga berkumpul...
TEGAL, puskapik.com – Udara Sabtu malam 1 November 2025 di Balai Kelurahan Pesurungan Kidul terasa berbeda dari biasanya.
Di bawah temaram lampu dan alunan gamelan yang lembut, ratusan warga berkumpul, menatap panggung dengan mata berbinar.
Malam itu bukan sekadar malam minggu biasa, melainkan malam penuh warna budaya, musik, dan sejarah.
Kegiatan ini digelar untuk memperingati Hari Ulang Tahun ke-2 Paguyuban Gamelan dan Barongan Dharmo Anom Pesurungan Kidul, yang menghadirkan beragam penampilan seni tradisional.
Dari parade Barongan khas Tegal hingga Reog Ponorogo dari Jawa Timur, suasana tampak hidup dan menggugah rasa bangga akan kekayaan budaya Nusantara.
Namun ada yang istimewa malam itu. Di salah satu sudut balai, berdiri deretan meja berisi benda pusaka yang tak biasa keris-keris dari berbagai daerah di Indonesia.
Koleksi itu dibawa langsung oleh Paguyuban Tosan Aji Nusantara Patra Ganesha Tegal, komunitas yang konsisten menggelar pameran edukasi keris setiap minggunya.
Ketua Paguyuban Tosan Aji Patra Ganesha Tegal, Teguh Dwijanto R hadir bersama rekan-rekannya memperkenalkan filosofi dan nilai spiritual di balik tosan aji. Mereka tidak sekadar memajang benda pusaka, tapi juga mengisahkan maknanya tentang perjuangan, ketulusan, dan kebijaksanaan yang diwariskan para leluhur.
“Biasanya kami menggelar kegiatan rutin di Gedung Rakyat Slawi. Tapi malam ini kami ingin hadir di tengah masyarakat Kota Tegal, berawal dari ajakan sahabat kami Cakra Rekso Prawata, pegiat budaya yang aktif membina seni tradisi di sini,” ujar Teguh sambil tersenyum.
Bagi Patra Ganesha, berpindah lokasi bukan sekadar soal tempat, tapi tentang menjangkau lebih banyak orang, terutama generasi muda agar lebih mengenal akar budaya mereka sendiri.
“Banyak anak muda yang baru pertama kali melihat keris dari dekat. Ketika tahu bahwa setiap bilahnya punya cerita dan falsafah hidup, mereka jadi ingin tahu lebih banyak,” tambah Teguh yang juga menjabat Kepala DPUPR Kabupaten Tegal ini.
Tak hanya Patra Ganesha, semangat pelestarian sejarah juga hadir lewat keikutsertaan Petrus, penggiat komunitas Tegal History.
Ia memajang puluhan foto-foto lawas yang menggambarkan kejayaan Tegal tempo dulu dari pabrik gula Jatibarang, Pangka, Pagongan, Kemanglen, hingga bangunan ikonik seperti Gedung SCS dan Water Toren.
Setiap foto membawa nostalgia, mengingatkan pengunjung akan perjalanan panjang daerah ini dari masa kolonial hingga kini. Banyak warga berhenti lama di depan foto-foto itu, menunjuk dan berbagi cerita: “Ini dulu rumah kakekku,” atau “Aku pernah lewat sini waktu kecil.”
Suasana malam itu terasa hangat dan penuh kebersamaan. Anak-anak kecil berlarian di pelataran balai, remaja sibuk mengambil gambar, sementara para orang tua larut dalam irama gamelan dan gemuruh tarian Barongan.
Di tengah riuh rendah itu, tersirat pesan yang mendalam: bahwa budaya bukan sekadar warisan, melainkan identitas yang perlu dijaga dan dihidupkan bersama.
“Kegiatan ini membuktikan bahwa masyarakat masih punya semangat besar untuk mencintai dan melestarikan budaya lokal. Kami berharap, ke depan, setiap kelurahan dan desa di Tegal juga punya paguyuban seni sendiri,” harap Teguh.
Malam di Pesurungan Kidul pun berakhir dengan tepuk tangan panjang. Tapi gema budaya yang hadir malam itu diyakini tak akan cepat pudar.
Dari gamelan yang mengalun, dari barongan yang menari gagah, hingga dari sebilah keris yang diam tapi penuh makna semuanya bercerita tentang satu hal yang sama cinta yang tak lekang untuk budaya Nusantara. **



