TPS3R Tegal Ubah Sampah Jadi Uang

Rabu, 24 Desember 2025 | 18.34

TEGAL, puskapik.com - Sampah selama ini di anggap sebagai persoalan. Namun kini justru mulai menjadi sumber nilai ekonomi di Kota Tegal. Melalui pengelolaan di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, ...

TEGAL, puskapik.com - Sampah selama ini di anggap sebagai persoalan. Namun kini justru mulai menjadi sumber nilai ekonomi di Kota Tegal. Melalui pengelolaan di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle atau TPS3R, sampah plastik berhasil di olah dan menghasilkan rupiah. Ketua DPD Asosiasi Bank Sampah Indonesia atau ASOBSI Kota Tegal, Santoso mengatakan, meningkatnya jumlah bank sampah dan komunitas daur ulang menjadi tanda bahwa kesadaran warga dalam mengelola sampah dari sumbernya terus tumbuh. "Dengan bertambahnya bank sampah dan komunitas daur ulang, antusiasme warga terhadap pengolahan sampah sudah mulai bangkit. Warga semakin paham bahwa sampah itu bukan sekadar di buang, tapi bisa di kelola," kata Santoso, Selasa 23 Desember 2025. Menurut Santoso, keterlibatan masyarakat semakin kuat ketika pengolahan sampah terbukti memiliki nilai ekonomi.

Hasil Olahan

Hasil olahan sampah yang dapat di jual membuat warga lebih semangat menjadi penggiat lingkungan. Meski di lakukan secara sosial di sela aktivitas pekerjaan utama mereka. Salah satu contoh nyata pengolahan sampah terpadu di lakukan di TPS3R Kelurahan Slerok. TPS3R ini di kelola melalui kerja sama Kelompok Swadaya Masyarakat atau KSM Slerok, dengan Dinas Lingkungan Hidup atau DLH Kota Tegal, dengan dukungan anggaran operasional sepenuhnya dari DLH. Setiap hari, TPS3R Slerok menerima kiriman sampah dari 30 penggerobak sampah yang tersebar di setiap RW. Sampah yang di kirim sejak pagi hingga sore hari, mencapai total volume sekitar 1,5 ton per hari. Dengan dukungan mesin pengolahan baru, sampah yang masuk kini dapat terkelola lebih optimal. Sekitar 70 persen sampah berhasil di pilah antara organik dan anorganik. Sampah plastik di olah menjadi Refuse Derived Fuel atau RDF yang kemudian di kirim ke Cilacap, sementara sampah organik di manfaatkan menjadi kompos. "Yang benar-benar tidak bisa di manfaatkan atau termasuk B3, sekitar 10 persen, itu diangkut DLH ke TPA Bokong Semar," jelas Santoso. Hasil pengolahan sampah plastik yang telah melalui proses pencacahan dan pengeringan memiliki nilai jual sekitar Rp 16 ribu per kilogram. Sampah tersebut sudah berbentuk balok. Kemudian diolah kembali dengan mesin predator dan siap di pasarkan. Meski saat ini pengelolaan hasil penjualan masih di tangani pemerintah. Ke depan, Santoso berharap KSM dapat mengelola hasil olahan secara mandiri, termasuk melalui sistem bagi hasil, seiring proses pengukuhan kelembagaan yang masih berjalan. "Harapannya, ini yang bekerja di lapangan KSM. Ke depan pengelolaannya bisa di lakukan KSM. Sampah bisa jadi solusi, bukan lagi masalah," ujar Santoso. **

Artikel Terkait