Asal Usul Gunung Slamet, Legenda Hingga Kerusakan Alam

Selasa, 9 Desember 2025 | 21.15
puskapik

SLAWI, puskapik.com – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, memerintahkan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah untuk segera membentuk Satuan Tugas (Satgas) guna menangani per...

SLAWI, puskapik.com – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, memerintahkan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah untuk segera membentuk Satuan Tugas (Satgas) guna menangani persoalan pertambangan. Instruksi ini menyusul ramainya kasus penambangan pasir dan batu di lereng Gunung Slamet yang berpotensi merusak lingkungan sekitar.

Namun sebelum membahas kerusakan alam di lereng Gunung Slamet, berikut legenda asal-usul nama Gunung Slamet yang beredar di masyarakat.

Asal Usul Nama Gunung Slamet

Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah yang berbatasan dengan lima kabupaten, yakni Kabupaten Tegal, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banyumas, dan Kabupaten Brebes. Gunung dengan ketinggian 3.432 mdpl ini memiliki banyak cerita legenda, termasuk asal usul nama Gunung Slamet yang disebut sebagai atapnya Pulau Jawa.

Dirangkum dari berbagai sumber, nama Gunung Slamet erat kaitannya dengan seorang tokoh penyebar agama Islam dari negeri Rum–Turki, yaitu Syeh Maulana Maghribi.

Cerita bermula ketika Syeh Maulana sedang melaksanakan salat Subuh. Saat itu, ia melihat cahaya misterius menjulang tinggi di angkasa. Cahaya tersebut memikat perhatiannya dan membangkitkan rasa ingin tahu. Dengan tekad kuat, Syeh Maulana memutuskan menyelidiki sumber cahaya itu, ditemani pengikut setianya, Haji Datuk, serta ratusan pengawal kerajaan.

Mereka berlayar menuju arah cahaya misterius tersebut. Namun, perjalanan tidak berjalan mulus. Ketika kapal tiba di Pantai Gresik, Jawa Timur, cahaya itu muncul kembali di sebelah barat. Tanpa ragu, mereka mengikuti cahaya hingga sampai di Pantai Pemalang, Jawa Tengah.

Di Pantai Pemalang, Syeh Maulana merasa perjalanan para pengikutnya telah sampai pada akhir. Ia memerintahkan mereka pulang ke Turki, sementara ia melanjutkan perjalanan bersama Haji Datuk menuju selatan.

Selama perjalanan, keduanya juga menyebarkan agama Islam, menjadikan perjalanan itu sebagai misi spiritual.

Namun, ketika melewati daerah Banjar, Syeh Maulana mendadak terserang penyakit gatal yang sulit disembuhkan. Suatu malam, setelah salat tahajud, ia mendapat ilham untuk pergi ke Gunung Gora. Tiba di lereng gunung itu, Syeh Maulana meminta Haji Datuk menunggu di tempat yang mengeluarkan kepulan asap.

Di tempat itu, Haji Datuk menemukan tujuh mata air panas. Syeh Maulana memutuskan tinggal dan berobat dengan mandi rutin di pancuran tersebut. Air panas yang diyakini memiliki keajaiban itu menyembuhkan penyakit yang dideritanya.

Karena kesembuhan serta keselamatan yang diperolehnya di lereng Gunung Gora, tempat tersebut dinamai “Pancuran Pitu”. Adapun nama Gunung Gora diganti menjadi Gunung Slamet, karena atas izin Allah, kawasan itu memberi kesehatan dan keselamatan bagi Syeh Maulana. Sejak itu, Gunung Gora dikenal sebagai Gunung Slamet.

Kerusakan Alam Lereng Gunung Slamet

Kasus bencana alam di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh menjadi perhatian serius pemerintah dan masyarakat. Kondisi serupa dinilai dapat terjadi di wilayah lereng Gunung Slamet yang sebagian telah mengalami kerusakan.

Di media sosial, banyak beredar video penambangan pasir di lereng Gunung Slamet. Di akun TikTok Puskapik.com, video aktivitas penggalian material di selatan lereng Gunung Slamet, Desa Gandatapa, Sumbang, Banyumas, memicu kekhawatiran warga. Mereka menilai pengerukan yang terus berlangsung dapat merusak lingkungan hulu, mengubah kontur tanah, dan meningkatkan risiko banjir serta longsor saat musim hujan.

Seruan penolakan tambang pun muncul, menekankan pentingnya menjaga kawasan resapan air dan hutan penyangga. Warga meminta pemerintah meninjau perizinan, mengawasi ketat kegiatan galian, menindak pelanggaran, dan memulihkan lahan agar kerusakan tidak meluas.

“Kerusakan terparah di Pandansari Kaligua, karena bekas proyek Geotermal,” ujar Ketua Aliansi Pemerhati Hutan dan Lingkungan Lereng Gunung Slamet Kabupaten Tegal, Abdul Hayi, Selasa 9 Desember 2025.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait