Sejarah Bahasa Ngapak, Berkembang dari Tegal hingga Banyumas sejak Abad 17

Senin, 11 Mei 2026 | 21.18
Pegiat Budaya Tegal, W Winarno
Pegiat Budaya Tegal, W Winarno

Bahasa ngapak selama ini sering dianggap sekadar logat khas warga pantura barat Jawa Tengah memiliki sejarah panjang tentang identitas dan perjalanan budaya masyarakat Tegal.

SLAWI, puskapik.com - Sering dengar kata-kata "nyong" (saya), "daining" (kok/kenapa), "loken" (masa), dan "kencot" (lapar)? Ya, itu bahas ngapak yang jadi logat khas warga Tegal.

Bahkan, bahas ngapak juga berkembang di Banyumas. Apakah ada hubungan antara Tegal dan Banyumas?

Bahasa ngapak selama ini sering dianggap sekadar logat khas warga pantura barat Jawa Tengah.

Baca Juga: Bahaya Tersembunyi dari Kayu Manis dalam “Obat Herbal” Kemasan

Namun, tak sebatas bahasa, tapi jejak sejarah panjang tentang identitas dan perjalanan budaya masyarakat Tegal.

“Kebudayaan itu tidak muncul tiba-tiba. Semua ada prosesnya, ada jejaknya, ada sejarah yang membentuk,” kata Pegiat Budaya Tegal, W Winarno, Senin 11 Mei 2026.

Ia mengatakan, bahasa ngapak merupakan identitas budaya Tegal yang lahir sejak lama. Bahasa, tradisi, hingga karakter masyarakat terbentuk melalui proses sejarah yang panjang dan berlangsung lintas generasi.

Bagi sebagian orang, kata di, ngapak mungkin hanya terdengar sebagai dialek berbeda dari bahasa Jawa pada umumnya. Namun bagi masyarakat Tegal, bahasa itu merupakan penanda identitas sosial sekaligus bukti perjalanan sejarah wilayahnya.

“Ngapak itu bukan sekadar cara bicara. Itu identitas sosial dan budaya masyarakat Tegal yang terbentuk dari perjalanan sejarah panjang,” ujarnya.

Winarno menjelaskan, bahasa selalu menjadi salah satu penanda penting sebuah peradaban. Ketika suatu wilayah memiliki bahasa atau dialek khas, hal itu menunjukkan adanya sejarah sosial dan budaya yang berkembang cukup lama di wilayah tersebut.

Baca Juga: Jateng Percepat Solusi Krisis Sampah, Semarang Raya Jadi Proyek Perdana Pengolahan Sampah jadi Listrik

Bahasa ngapak atau dialek Tegal sendiri memiliki karakteristik unik yang membedakannya dengan dialek lain di Jawa Tengah. Persebarannya pun cukup luas, mulai dari wilayah pesisir utara Tegal hingga kawasan selatan Banyumas.

Hubungan Histori

Menurut dia, luasnya penggunaan bahasa tersebut menunjukkan adanya hubungan historis dan budaya yang kuat antara wilayah Tegal dan Banyumas sejak masa lampau.

Secara geografis, kawasan pegunungan besar di wilayah itu dalam sejumlah catatan sejak abad ke-17 bahkan kerap disebut sebagai “Gunung Tegal”.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait