Sejarah Bahasa Ngapak, Berkembang dari Tegal hingga Banyumas sejak Abad 17

Bahasa ngapak selama ini sering dianggap sekadar logat khas warga pantura barat Jawa Tengah memiliki sejarah panjang tentang identitas dan perjalanan budaya masyarakat Tegal.
SLAWI, puskapik.com - Sering dengar kata-kata "nyong" (saya), "daining" (kok/kenapa), "loken" (masa), dan "kencot" (lapar)? Ya, itu bahas ngapak yang jadi logat khas warga Tegal.
Bahkan, bahas ngapak juga berkembang di Banyumas. Apakah ada hubungan antara Tegal dan Banyumas?
Bahasa ngapak selama ini sering dianggap sekadar logat khas warga pantura barat Jawa Tengah.
Baca Juga: Bahaya Tersembunyi dari Kayu Manis dalam “Obat Herbal” Kemasan
Namun, tak sebatas bahasa, tapi jejak sejarah panjang tentang identitas dan perjalanan budaya masyarakat Tegal.
“Kebudayaan itu tidak muncul tiba-tiba. Semua ada prosesnya, ada jejaknya, ada sejarah yang membentuk,” kata Pegiat Budaya Tegal, W Winarno, Senin 11 Mei 2026.
Ia mengatakan, bahasa ngapak merupakan identitas budaya Tegal yang lahir sejak lama. Bahasa, tradisi, hingga karakter masyarakat terbentuk melalui proses sejarah yang panjang dan berlangsung lintas generasi.
Bagi sebagian orang, kata di, ngapak mungkin hanya terdengar sebagai dialek berbeda dari bahasa Jawa pada umumnya. Namun bagi masyarakat Tegal, bahasa itu merupakan penanda identitas sosial sekaligus bukti perjalanan sejarah wilayahnya.
“Ngapak itu bukan sekadar cara bicara. Itu identitas sosial dan budaya masyarakat Tegal yang terbentuk dari perjalanan sejarah panjang,” ujarnya.
Winarno menjelaskan, bahasa selalu menjadi salah satu penanda penting sebuah peradaban. Ketika suatu wilayah memiliki bahasa atau dialek khas, hal itu menunjukkan adanya sejarah sosial dan budaya yang berkembang cukup lama di wilayah tersebut.
Bahasa ngapak atau dialek Tegal sendiri memiliki karakteristik unik yang membedakannya dengan dialek lain di Jawa Tengah. Persebarannya pun cukup luas, mulai dari wilayah pesisir utara Tegal hingga kawasan selatan Banyumas.
Hubungan Histori
Menurut dia, luasnya penggunaan bahasa tersebut menunjukkan adanya hubungan historis dan budaya yang kuat antara wilayah Tegal dan Banyumas sejak masa lampau.
Secara geografis, kawasan pegunungan besar di wilayah itu dalam sejumlah catatan sejak abad ke-17 bahkan kerap disebut sebagai “Gunung Tegal”.
Penyebutan itu dinilai menjadi petunjuk bahwa pengaruh kewilayahan Tegal pada masa lalu cukup luas dan memiliki keterkaitan dengan perkembangan budaya masyarakat di sekitarnya.
Kajian tentang kedekatan budaya Tegal dan Banyumas juga pernah diteliti oleh J.W. van Dapperen pada dekade 1930-an.
Dalam penelitiannya mengenai bahasa dan kebudayaan masyarakat Tegal serta Banyumas, ia menemukan adanya kesamaan bahasa yang memperlihatkan eratnya hubungan historis di antara kedua daerah tersebut.
Di tengah arus modernisasi, Winarno berharap masyarakat tidak lagi memandang bahasa ngapak sebagai sesuatu yang rendah atau memalukan. Sebab, bahasa tersebut merupakan bagian penting dari identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Kalau masyarakatnya sendiri mulai malu memakai bahasa daerahnya, lama-lama jejak sejarah dan identitas budayanya bisa ikut hilang,” katanya.***



