Ziarah ke Makam Sunan Bonang, Napak Tilas Warisan Tradisi dengan Jejak Spiritual Tombo Ati
Senin, 8 September 2025 | 21.21

TUBAN, Puskapik.com - Di tanah Jawa, ada banyak peninggalan sejarah yang menjadi saksi bisu penyebaran agama Islam. Salah satu situs berharga tersebut ada di Jawa Timur, tepatnya di Tuban. Tempat itu ...
TUBAN, Puskapik.com - Di tanah Jawa, ada banyak peninggalan sejarah yang menjadi saksi bisu penyebaran agama Islam.
Salah satu situs berharga tersebut ada di Jawa Timur, tepatnya di Tuban. Tempat itu adalah kompleks peristirahatan terakhir Sunan Bonang, salah satu dari sembilan ulama besar yang tergabung dalam Wali Songo.
Sunan Bonang aktif berdakwah memperkenalkan agama Islam sekitar abad 15 hingga 16 Masehi, dan tak lain adalah putra dari Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila.
Saat tiba di depan pintu masuk peziarah akan disambut gapura pertama dari tiga yang berdiri di dalam kompleks.
Gapura pertama berbentuk regol, memiliki corak Hindu-Buddha yang menandakan peziarah memasuki lokasi yang suci, atau di dalamnya bersemayam seorang tokoh yang memiliki pengaruh sangat besar.
Selanjutnya peziarah disambut gapura kedua dengan bentuk paduraksa dengan hiasan piring yang dilengkapi ornamen bunga dan tulisan Arab.
Di area ini juga terdapat Masjid Astana Bonang, yakni tempat Sunan Bonang dahulu sering menyepi untuk berdoa.
Di sisi utara masjid, terdapat gapura ketiga yang juga berbentuk paduraksa dan dihiasi ornamen piring yang salah satunya bertuliskan nama empat khalifah Nabi Muhammad SAW yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
Memasuki jalan setapak setelah gapura ketiga, peziarah akan menemui banyak makam saat menuju ke lokasi makam Sunan Bonang.
Cungkup makam Sunang Bonang sendiri berada di tengah sebuah pendopo, tanahnya lebih rendah dibanding beberapa makam dan batu nisan di sekitarnya yang merupakan makam kerabat dan pengikut setia Sunan Bonang.
Para peziarah biasanya akan duduk bersila di area sekitar makam yang ditutupi tirai–untuk membaca doa.
Mereka berharap mendapatkan berkah, dan lebih jauh lagi meminta petunjuk spiritual dari Allah melalui tokoh besar yang ada di dalam makam.
Sebagian yang sudah selesai berdoa juga dapat berkeliling sejenak di sekitar area makam di mana terdapat pendopo-pendopo berisi benda bersejarah (pendopo paseban, pendopo rante, dan pendopo tajuk), dan beberapa peninggalan Sunan Bonang yang digunakan untuk syiar Agama Islam.
Cagar Budaya
Selain makam Sunan Bonang sendiri, ada 26 benda lain dalam kompleks ini yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
Sebagai bukti konkret dari kehidupan dan peran penting Sunan Bonang sebagai salah satu tokoh sentral dalam penyebaran agama Islam di Jawa.
Makam ini menjadi saksi perkembangan seni dan kebudayaan pada masa lalu.
Makam Sunan Bonang merupakan tempat yang dihormati dan dianggap suci oleh umat Muslim.
Banyak orang datang untuk berziarah, berdoa, dan mencari berkah.
Seperti layaknya seorang wali Allah, area makam Sunan Bonang masih ramai dikunjungi ratusan peziarah setiap harinya.
Kompleks tersebut dibangun apik, demi menghormati Sunan Bonang dan kenyamanan para peziarah yang berganti-gantian melantunkan ayat suci Surat Yasin dan tahlil.
Sebagian besar juga membacakan wirid surat Al-Fatihah sebanyak 50 kali, surat Al-Ikhlas 50 kali, dan shalawat 300 kali yang dikenal sebagai amalan yang diajarkan Sunan Bonang selama hidupnya.
Nama asli Sunan Bonang adalah Syekh Maulana Makhdum Ibrahim.
Beliau adalah anak keempat, putra pertama, salah satu anggota Wali Songo lainnya yakni Sunan Ampel, dan kakak dari Sunan Drajat yang juga merupakan anggota Wali Songo.
Sejak kecil, Sunan Bonang sudah mendapatkan pendidikan nilai-nilai Islam dari ayahnya.
Kecerdasan dan latar belakangnya membuat Sunan Bonang menguasai banyak hal, termasuk ilmu fiqih, ushuluddin, tasawuf, bela diri, arsitektur, hingga bidang seni dan sastra yang dipilihnya sebagai media dalam mengajar agama Islam.
Selain terdepan dalam urusan agama, Sunan Bonang juga pandai dan fleksibel.
Sunan Bonang mempelajari terlebih dahulu hal apa yang menarik bagi masyarakat hingga akhirnya memilih menyebarkan agama Islam dengan bantuan alat musik pukul berupa gamelan yang disebut dengan bonang.
Alat musik ini dipukul sehingga mengeluarkan bunyi sebagai pengiring tembang yang dilantunkan.
Sunan Bonang memiliki suara yang merdu hingga memikat perhatian warga untuk mendengarkan tembangnya yang berisi nilai-nilai ajaran Islam.
Seperti salah satu tembang yang terkenal hingga kini, Tombo Ati, yang secara harfiah berarti penyejuk jiwa.
Beliau juga terkenal memiliki bakat dalam bidang sastra, terbukti dari hasil tulisannya berbentuk kitab ilmu tasawuf dengan tajuk Tanbihul Ghafilin setebal 234 halaman yang umum digunakan untuk mengajar agama kepada para santri.
Memadukan Ilmu Agama, Seni dan Kebudayaan
Dalam berdakwah, Sunan Bonang dikenal dengan kebiasaan memadukan ilmu Islam dengan unsur kesenian dan kebudayaan yang kala itu sangat diminati warga, agar terdengar sederhana dan mudah dipahami.
Para orang tua yang merasa cocok dengan caranya mengajar agama menitipkan anaknya untuk belajar dengan Sunan Bonang.
Salah satu dari murid-muridnya ini adalah Sunan Kalijaga, yang kemudian mengikuti cara gurunya berdakwah dengan pendekatan kebudayaan.
Sunan Bonang terkenal karena pendekatannya yang toleran dan inklusif terhadap agama-agama lain. Melalui penyebaran ajaran Islam yang toleran, Sunan Bonang membantu membangun hubungan yang harmonis antar pemeluk agama berbeda.
Kompleks makam Sunan Bonang menjadi lokasi penelitian dan pembelajaran bagi para akademisi, sejarawan, dan peneliti. Mereka mempelajari kehidupan Sunan Bonang, ajaran-ajarannya, serta pengaruhnya dalam penyebaran Islam di Jawa.
Dengan pentingnya makam Sunan Bonang, perlu ada perhatian dan upaya pelestarian dari pemerintah dan masyarakat.
Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa nilai-nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan diwariskan kepada generasi yang akan datang.***



