Jalur Menantang, Pendakian Gunung Slamet Via Sawangan, Temukan Spot Ciamik dan Lautan Pasir
Rabu, 26 November 2025 | 22.28

TEGAL, puskapik.com - Gunung Slamet yang berada di antara lima kabupaten, yakni Brebes, Banyumas, Purbalingga, Tegal, dan Pemalang dan merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah. Ketinggian puncak Gunu...
TEGAL, puskapik.com - Gunung Slamet yang berada di antara lima kabupaten, yakni Brebes, Banyumas, Purbalingga, Tegal, dan Pemalang dan merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah.
Ketinggian puncak Gunung Slamet mencapai 3.428 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Untuk mendaki Gunung Slamet, ada beberapa jalur pendakian resmi yang bisa dilalui.
Terbaru, jalur Sawangan dengan basecam tertinggi sekitar 1.800 mdpl.
Untuk bisa mendaki ke Gunung Slamet via Sawangan, pendaki akan dikenakan biaya retribusi sebesar Rp20 ribu per orang.
Pendakian di jalur ini tidak disarankan saat cuaca ekstrem karena berbahaya, dengan risiko jalan licin, kabut tebal, dan angin kencang karena membahayakan pendaki.
Oleh karena itu, memerlukan persiapan matang, termasuk perlengkapan yang cukup.
Pendaki akan melintasi enam pos pendakian, di mana terdapat satu mata air berupa sungai yang sangat jernih berada di Pos 4 (Camp Area).
Di awal pendakian, pendaki akan melewati perkebunan warga. Uniknya, jalur pendakian ini memiliki ciri khas berupa vegetasi hutan yang masih sangat rapat.
Di jalur via Sawangan ini, pendaki akan menemui tugu peringatan usai melintasi batas vegetasi.
Mulai dari lokasi tugu peringatan itu, pihak pengelola jalur pendakian sudah tidak memperbolehkan pendaki untuk menuju ke puncak Gunung Slamet.
Perjalanan ke puncak dari jalur Sawangan ini terbilang cukup berat.
Pendaki akan memulai perjalanan ke puncak dari Pos 4 (Camp Area) yang tingginya baru 2.422 mdpl.
Jalur Tantangan Tersulit
Mendaki ke puncak Gunung Slamet bisa dikatakan cukup berat untuk pendaki pemula.
Selain jalan terjal dan lautan pasir, kemiringan mencapai 45 derajat jadi tantangan tersulit bagi pendaki berpengalaman sekalipun.
Trek pasir mendekati pucak Gunung Slamet tak bisa disepelekan. Jalurnya yang curam, dengan minimnya batu yang bisa dijadikan pijakan, membuat pendaki terpaksa harus beberapa kali harus merayap.
Tak jarang pula, batu besar yang sepertinya tampak bisa jadi pijakan kuat, rupanya sangat rapuh dan langsung menggelinding begitu diinjak.
Belum lagi terpaan angin kencang, serta batu yang seringkali menggelinding dari atas jadi risiko besar selama pendakian Slamet.
Gemburnya pasir bekas lava pijar dari letusan terakhir Gunung Slamet ini bakal sangat menguras fisik dan mental pendaki.
Belum lagi, asap belerang dari kawah yang bertiup ke lereng membuat mata pendaki terasa perih.
Butuh setidaknya 2 hingga 5 jam perjalanan hanya untuk melewati lautan pasir ini.
Perjalanan panjang penuh berisiko bakal terbayar dengan keindahan kaldera yang tinggi menjulang membentuk mangkuk kawah di bawahnya.
Asap belerang yang keluar dari sela-sela batuan di kawah jadi spot menarik untuk berfoto.
Selain itu, dinding kawah keemasan yang terpapar mentari pagi jadi pemandangan yang sangat eksotis dan sangat sedap dipandang.
Jika cuaca cerah, pendaki bisa melihat dengan jelas Gunung Ciremai di Barat, Samudera Hindia di ujung Selatan, dan Kota Purwokerto persis di lereng gunung.
Sementara jika menyapu pandang ke sisi lainya, pendaki juga bisa menikmati suasana negeri di atas awan, dengan gumpalan kumulonimbus yang berjejeran bak permadani menutup daratan di bawahnya.
Disarankan, jangan terlalu berlama-lama di Puncak, mengingat kuatnya terpaan angin yang bisa membuat pendaki kedinginan.
Jangan khawatir saat pendaki turun, treknya yang sedikit landai selepas jalur pasir membuat pendaki bisa turun dengan mudah, bahkan dengan sedikit lari-lari kecil sekalipun.
Jika kalian berminat untuk melakukan pendakian ke Gunung Slamet via Sawangan ini, maka kalian bisa menghubungi basecamp Bosapala di nomor 0823-1492-4630 atau instagram @slamet_viasawangan.***



