Bendung Kembang Rusak, 570 Hektare Lahan Pertanian di Brebes Tak Terairi

Selasa, 2 Juni 2026 | 19.02
Bendung Kembang di Sungai Keruh Desa Benda, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, rusak akibat banjir sejak akhir 2025.
Bendung Kembang di Sungai Keruh Desa Benda, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, rusak akibat banjir sejak akhir 2025.

Bendung Kembang di Brebes rusak akibat banjir. Sebanyak 570 hektare sawah di empat desa kehilangan pasokan irigasi dan kini hanya mengandalkan air hujan.

BREBES, puskapik.com – Kerusakan Bendung Kembang di aliran Sungai Keruh, Desa Benda, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, membuat sekitar 570 hektare lahan pertanian di empat desa kehilangan pasokan air irigasi.

Lahan yang terdampak berada di Desa Benda dan Kaliloka, Kecamatan Sirampog, Desa Penggarutan, Kecamatan Bumiayu, serta Desa Linggapura, Kecamatan Tonjong.

Kepala Desa Benda, Khalimi, mengatakan, Bendung Kembang rusak akibat diterjang banjir Sungai Keruh pada akhir 2025 lalu. Sejak saat itu, aliran air menuju areal persawahan terputus.

Baca Juga: Terpilih Aklamasi, Suryono Resmi Pimpin KONI Kabupaten Pekalongan

Akibatnya, ratusan hektare lahan pertanian yang selama ini bergantung pada bendung tersebut tidak bisa digarap secara maksimal dan hanya mengandalkan air hujan.

"Rusak diterjang banjir Sungai Keruh pada akhir tahun lalu," kata Khalimi, Selasa, 2 Juni 2026.

Menurut dia, Bendung Kembang merupakan sumber utama irigasi bagi lahan pertanian di wilayah tersebut. Tanpa pasokan air, sawah yang sebelumnya produktif kini berubah menjadi lahan tadah hujan.

Baca Juga: Kasus HIV di Kabupaten Tegal Tembus 1.062 Kasus HIV, Kelompok LSL Menyumbang 70 Persen

"Ratusan hektare lahan pertanian saat ini tidak dapat digarap, bahkan menjadi lahan tadah hujan," ujarnya.

Kondisi tersebut mulai dirasakan para petani. Selain terancam gagal tanam, mereka juga kehilangan sumber penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

"Petani mulai mengeluh bagaimana untuk membiayai pendidikan anaknya kalau lahan pertanian tidak dapat menghasilkan lagi," ucap Khalimi.

Bendung Kembang diketahui pernah direhabilitasi pada 2023 dengan anggaran sekitar Rp 2,6 miliar. Namun bangunan tersebut kembali rusak setelah diterjang banjir pada akhir tahun lalu.

"Warga berharap perbaikan bendung segera dilakukan agar pasokan air irigasi kembali normal dan lahan pertanian dapat dimanfaatkan kembali," katanya.

Kepala UPT Pengairan Pemali Hulu, Joko Pranoto, membenarkan kerusakan Bendung Kembang. Menurut dia, kerusakan terjadi pada badan bendung dan pintu irigasi sehingga air tidak bisa dialirkan ke jaringan irigasi yang menuju lahan pertanian.

"Air tidak bisa dialirkan ke saluran irigasi menuju sawah-sawah petani," katanya.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait